Hanif's journey. you may not interested, but this is my live and my thought

Sabtu, 29 April 2017

Membaca.
Dari dulu aku cukup dekat, meski tak pernah benar-benar mesra dengan kata itu. Memang sesampainya aku di kampus dan mengalami banyak fase kaderisasi di organisasi, yang sering diulang-ulang adalah terkait membaca. Tapi pun, dalam masa pertumbuhan yang kalau meminjam istilah sosiologi disebut sosialisasi primer, aku lahir dalam lingkungan yang tak jauh dari buku. Buku-buku itu, meski gak rajin-rajin amat ada lah kalau satu-dua kali aku baca, yah meski terkadang tak sampai selesai juga.Jadi setidaknya, membaca bukan hal baru bagiku ketika kata-kata yang lebih terasa sebagai doktrin (jujur, kadang aku meragukan satu dua orang yang menyuruhku membaca dulu itu sendirinya membaca, yah kalau sekedar doktrin kan yang penting si objek percaya) tentang membaca buku itu diucapkan.
Mungkin sampai di sini aku mengesankan bahwa aku adalah seorang pembaca yang tekun. Namun bukan juga, aku tak pernah se-tekun itu dalam membaca hingga berani diri mengklaim sebagai pembaca yang tekun. Proses membacaku tak jauh beda dengan masa-masa sosialisasi primer dalam lingkup kampung halaman dulu, sekali-dua saja dan tak selamanya tamat. bahkan sangking banyaknya buku yang tak kuselesaikan "cover to cover" aku merasa tak pernah membaca apa-apa. Bahkan suatu ketika saat membaca karya Freud dimana dia berbicara bahwa kesalahan atau kelalaian adalah tanda, aku berfikir sejenak, jangan-jangan aku seringkali tak selesai (sampai cover) karena aku memang tak ingin membaca, buku itu kuletakkan dan tak pernah kusentuh lagi. Pikirku, Daripada nanti aku melakukan kesalahan itu secara bawah sadar, bukankah lebih baik kulakukan secara sadar sembari mengakui bahwa aku memang tak ingin membaca (buku) ? 
Oh ya, mungkin ada yang aku lupa sampaikan tentang pandanganku terhadap buku. Terkadang aku membagi buku menjadi dua kategori, Buku Praktis dan Buku Teoritis. Aku tak pernah merasa "berdosa" ketika membaca buku-buku praktis itu secaa parsial. Pola pikir ini terbentuk mungkin karena aku juga membagi-bagi jenis konten dari si buku. menurutku, buku-buku praktis hanya berisi informasi, sedang buku-buku teoritis berisi pengetahuan.
Informasi bagiku hanyalah serangkaian kata yang menjadi data.  Mengetahui bahasa pemrograman X tak ubahnya mengetahui cara mengayuh sepeda atau cara menggunakan gunting kertas. Maka dari itu, ketika membaca dan mempelajari bahasa pemrograman Y, aku tak merasa perlu membaca keseluruhan buku. Aku hanya butuh tahu apa yang berbeda, sebatas itu. pun buku-buku yang kusebut praktis tadi seringkali hanya berisi teks-teks definitif dan instruksi-instruksi.
Lalu apa yang kumaksud dengan pengetahuan ? Awalnya aku menganggap bahwa pengetahuan adalah informasi yang mampu diolah menjadi pandangan hidup. Namun sepertinya, aku tidak yakin dan aku sendiri tidak benar-benar tau. pembagianku tadi sepertinya hanyalah pembagian naif yang kusandarkan pada pemikiran bahwa ada yang berbeda, tanpa tau apa sebenarnya perbedaan itu. Bahkan kadang aku terpikir bahwa sebenarnya kenaifanku sendiri itu naif. bahwa sebenarnya keduanya tak berbeda sama sekali dan sebenarnya apa yang kuanggap Buku Teoritis, atau dalam tahap ini sebut saja Buku Tidak Praktis itu hanyalah buku yang diluar buku tentang studi atau pekerjaanku. Yah mungkin memang senaif itulah aku, hanya menilai buku berdasar aplikatif tidaknya dalam kehidupanku.
Sampai detik ini aku masih ragu, apa guna membaca buku. Ditambah dengan thesis Freud tentang kesalahan adalah tanda tadi, keduanya tergabung menjadi dasar yang kuat untuk menyatakan aku tak ingin membaca buku. Namun toh tak ada bedanya, secara tak langsung toh memang aku tak pernah membaca yang dengan konsekuensi dari pembagianku tadi, juga berarti bahwa aku juga tak punya pengetahuan. Kalau ada satu dua aku kutip tokoh waktu nulis sepertinya itu hanya informasi-informasi saja, yang kudapat secara parsial dari proses baca yang secara parsial pula.
Eh atau sebenarnya memang begitu ya proses membaca itu. membaca itu hanya perkara mengumpulkan informasi dan sebenarnya membaca hanyalah hasrat emosional untuk semakin meyakinkan bahwa keyakinan-keyakinan yang dimiliki benar adanya. Pengetahuan hanyalah keyakinan muncul dari diri, yang tersistematiskan dari informasi-informasi baru dari buku-buku.
Ah apapun itu, intinya aku sedang tak ingin membaca (buku). Namun mungkin sebenarnya seperti yang dulu kakak-kakaknya sampaikan waktu awal aku mahasiswa. Nanti, ketika sudah sering membaca, membaca akan jadi kebutuhan. Masalahnya, dari logikaku di awal, aku tak pernah membaca. Jadi begitu saja, aku tak pernah membaca, dan aku memang tak ingin membaca.

Genocide Without Blodspill - 2

we are the cause of the problem
we will going down only when all of us down to zero.
[kami adalah sumber dari masalah
dan kami hanya akan runtuh jika seluruh dari kami menjadi kosong]
Glow masih berdiam diri. Ia tidak pernah merasakan hal-hal ini sebelumnya. Ya, ia tak pernah ketakutan. Sebenarnya bukan kematian ataupun siksaan lahiriah yang Glow takutkan. Dunia era ini tak lagi melakukan siksaan-siksaan yang terlihat kejam. Bukankah kejam adalah ketika kita melihat orang di penggal di Guiillotine lalu darah mengalir deras dari leher korban? atau seperti nazi yang melakukan Holocaust dan penelitian gila yang salah satunya tidak memberi tawanan perangnya makanan selama beberapa minggu? ya, itu adalah kekejaman. Era ini tidak memunculkan lagi hal hal seperti itu. Hewan memangsa dengan taring, yang meninggalkan genangan darah di luka koyakan mangsanya. dan manusia era ini sadar bahwa mereka tidak sebanding dengan hewan : Mereka memangsa tanpa meninggalkan setetespun darah.
Zaman dulu ada yang sering disebut dengan "Mati secara damai" dimana kematian tersebut datang tiba tiba tanpa luka dari luar ataupun didahului penyakit penyakit mematikan sebelumnnya. Tapi benarkah kematian itu tanpa penyebab dan hanya damai? Tidak ada kematian tanpa penyebab, meski penyebabnya adalah kesalahan kecil dalam kerja organ yang menyebabkan kematian namun tanpa terlihat menyakitkan.  Nanotech memungkinkan ilmuwan sekarang untuk membuat senjata mematikan yang membuat seolah korban terlihat mati dengan tenang. senjata bernama Vacuum itu menembakan virus kecil kedalam tubuh dengan sistem navigasi sejenis GPS ( anatomi tubuh setiap manusia sama, jadi tak terlalu sulit membuat sistem navigasi tersebut) yang menuju pembuluh darah dan menutup aliran darah menuju jantung. tak butuh lama, korban pasti tewas seketika.
Kekerasan hanya milik para pemberontak, teroris, yang tak punya teknologi dan pendanaan untuk mengimbangi senjata militer pemerintah. Pemerintah pun kerap menyatakan, "Blood is the work of rebel, we handle problem differently". Pemberontak yang dimaksud adalah orang-orang yang ingin lepas dari kekangan, kepalsuan One World Government yang hanya menguntungkan mantan  negara-negara adidaya. dan mungkin salah satunya adalah yang mencoba merekrut Glow sekarang, dengan cara yang Glow tidak duga dapat dilakukan sekelompok Rebel (pemberontak). Misalnya adalah para demonstran yang tertangkap tempo hari lalu
Sirine mobil polisi makin mendekat. Glow mencoba berpikir apa yang bisa dilakukanya. Mobil polisi sekarang merupakan mobil dengan sistem navigasi yang selalu berkomunikasi dengan pusat untuk memunculkan posisi buronan dan menampilkan rute paling efektif.  Glow menyalakan komputernya, Ia membuat exploit yang ia kirimkan ke server pusat. ketika membuka sistem navigasi Glow dihadapkan dengan rangkaian matriks 3 dimensi dengan baris berbeda untuk tiap mobil. Ia tak mengerti mobil mana yang menuju kearahnya jadi ia hanya membuat exploit untuk saling mengacak kolom longitude dan latitude di tiap mobil. paling tidak ini bisa memberikanya waktu sampai polisi didalam mobil atau di markas menyadari terjadi keanehan.
Saat sedang berpikir langkah apa yang ia akan lakukan, tiba-tiba layar monitornya menjadi gelap dan menampilkan dialog box:
"Apakah Kamu Bagian dari Kami?"
Ya    |   Tidak
"Bagian dari kalian? memang kalian itu siapa?" pikirnya. Namun paling tidak sekarang ia tau, yang mengincarnya sekarang adalah sekelompok orang dan bukan hanya satu orang. "Siapa mereka? apakah mereka kelompok pembunuh bayaran? Apa yang sebenarnya mereka inginkan dariku?" muncul pertanyaan yang bertubi-tubi dalam benaknya. belum sempat ia berpikir lama layarnya berkedip dan memunculkan dialog tambahan
"Kalau kau adalah orang yang mencintai dunia sebagai sebuah dunia dan bukan dunia yang hanya dikuasai segelintir kelompok, kalau kau bosan melihat bobroknya oligarki dan kau adalah orang yang ingin dunia yang terbuka tanpa informasi yang penuh kebohongan Serta terakhir, kalau kau adalah orang yang mencintai teknologi sebagai karya seni.
Maka kau adalah bagian dari kami
 nb: sepertinya tidak ada banyak waktu untukmu berpikir, maaf terhadap cara merekrut kami. Kalau kami sekedar datang kau takkan percaya bukan?"
"Sialan!" pekiknya. Ia marah karena dua hal. Pertama, karena ia merasa dipecundangi oleh sekelompok orang yang bahkan ia tak tau siapa mereka. Kedua, karena apa yang mereka katakan benar, Namun, Bagian dari mereka? memang siapa mereka, pikirnya. Selama ini ia membenci pemerintahan yang hanya dipimpin oleh sebagian orang, atau dalam kasus ini sebagian mantan pemerintah negara-negara adidaya saat sebelum adanya One World Government. mereka hanya ingin memperlihatkan kekuasaan dan memajukan kelompoknya saja. Tentu saja ia menginginkan dunia dengan keterbukaan informasi, ia kerap meretas situs pemerintah untuk mencari apa yang sedang terjadi. Ya, tapi hanya sebatas itu saja. Ia tak mau terlibat dalam kelompok apapun karena ia ingin menjadi manusia biasa.
Namun dengan keadaan sekarang, apa yang bisa ia lakukan? Namanya masuk kedalam database kepolisian. Mudah saja baginya kalau hanya sekedar menghapus namanya dari database tersebut. Namun tidak semudah itu, bukankah mereka akan curiga ketika sebuah nama buronan tiba-tiba hilang? Apalagi polisi yang mengejarnya pasti sekarang sedang marah karena sistem navigasinya ia kacaukan. Ia tak ingin menjadi buronan. Ia ingin menjadi manusia yang (terlihat) biasa saja. Namun tak ada pilihan lain, kelompok tersebut sepertinya membutuhkan kemampuanya. Ia akan menuruti mereka sampai misi mereka selesai dan akan menjadi manusia biasa lagi. Sekaligus mengambil informasi tentang siapa sebenarnya orang-orang ini dan kalau mereka tak membiarkanya pergi ia tinggal membuat mereka tertangkap.
Glow mengarahkan kursornya dan mengklik "Ya" pada pilihan di dialog box. layar monitornya berkedip sejenak sebelum kembali memunculkan dialog box:
"Selamat atas pilihanmu, Afterglow. namun kami masih punya satu tes untukmu. bukan tes yang berat, kami yakin untuk orang sepertimu. kami tidak akan menjemputmu, kau yang harus menemukan kami. siapa kami? kami biasa disebut "d047" atau "x02F" itu sama saja bukan? Hahaha. Carilah kami di tempat semua dimulai, Glow dan kau mengerti bukan bahwa bahkan tanpamu kebenaran tetap dipihak kami."
Ia belum benar benar bisa mencerna apa yang mereka maksud. "d047" dan "x02F" adalah kelompok hacktivist yang kerap kali menjadi incaran pemerintah. Sama? apa yang mereka maksud sama? Tunggu sebentar, pikirnya. jika d047 diartikan sebagai "decimal, tabel no 47" dan x02F diartikan sebagai "Hexadecimal, tabel no 02F" maka keduanya memang sama. 47 adalah nilai desimal dari 2F. cerdik juga mereka, pikirnya. kemudian ia mengingat-ingat, dalam tabel Ascii, tabel yang berisi huruf dan simbol yang digunakan untuk konversi dari bentuk huruf dan simbol yang dimengerti manusia menjadi angka angka yang dimengerti komputer. tabel decimal 47 mengarah pada simbol "/". "Slash? apa maksudnya?" ia tak mengerti. Glow berpikir sejenak. "/" dalam simbol komputer bisa diartikan sebagai "root", atau jangan jangan ini yang mereka maksud. Glow membuka folder root nya, mengecek proses proses yang dijalankan oleh root. terlalu banyak kemungkinan, ia harus mempersempitnya. "/" juga bisa diartikan sebagai "atau" , pikirnya. mungkin itu yang mereka maksud bahwa tanpa dirinya kebenaran tetap ada dipihak mereka. bukankah dalam logika komputer logika atau akan bernilai benar selama ada satu saja nilai yang mempertahankan kebenaranya?
ia mencoba mencerna. Glow mengecek proses yang dijalankan oleh root dan mengeliminasi proses proses yang dijalankan sebagai keperluan system dan baru dijalankan beberapa waktu lalu.
$ps -u root | grep 0:10:
9999    |    ?    | 0:10:15:33.5 | /tmp/slash/dialogbx
ketemu! pikirnya. tak butuh waktu lama untuk ia membuka folder tersebut. ia menemukan file "Welcome to Slash.txt". Glow terperanjat ketika membuka file tersebut dan membaca isinya. Sirine polisi kembali terdengar mendekat. buru buru Glow enkripsi file tersebut,  memasukkan hard disknya kedalam oven dan kemudian lari dari rumahnya. "Tempat itu? mereka pasti bercanda!" pikirnya sambil terus berlari.

Senin, 17 Oktober 2016

Pertama, mungkin saya akan mengawali tulisan saya dengan pernyataan bahwa saya sepenuhnya sadar apa yang saya tuliskan sangat kecil kemungkinanya untuk terjadi. tapi ya, sekedar ingin saja untuk menuliskan yang terbesit di pikiran. dan tulisan ini hanya opini belaka

Pertama mungkin saya akan sedikit bicara tentang Hacktivisme, apa sih itu hacktivisme. buat yang biasa nebak nebak pasti punya tebakan kalau Hacktivisme itu adalah gabungan antara Hack , dan Akt
ivis atau Aktivisme. yak, tebakan itu memang betul. dan ini bukan istilah yang saya buat-buat sendiri lho ya. diluar sana sudah banyak yang mengamalkan dan menggunakan istilah ini.

Jadi, Gerakan macam apa sebenarnya Hacktivisme itu? karena tadi sudah diketahui bahwa Hacktivisme adalah gabungan antara Hack dan Aktivisme yang mana salah satu atau bahkan keduanya berkonotasi buruk bagi sebagian orang, saya akan mencoba meluruskan dulu "Hack" yang dimaksud disini.

"Hack" atau "Hacker" bukanlah aktivitas kriminal dimana seseorang melakukan kejahatan cyber seperti membobol bank ataupun sekedar akun email mantan. Tapi Hack pada awalnya adalah sebuah budaya. sebuah budaya yang mempertanyakan sejauh mana kita bisa mengembangkan teknologi. yang mana budaya ini seringkali diimplementasikan dengan mengubah atau bahkan "merusak" teknologi yang sudah ada. Budaya Hacker ini diawali di masa paling awal perkembangan komputer yang mana berati budaya ini sudah memiliki sejarah yang cukup panjang. dari jaman komputer masih sebesar setengah lapangan bola sampai sekarang memiliki model kinyis-kinyis dan bisa digenggam ditangan.

Dan sudah banyak diakui berbagai kalangan dunia bahwa budaya Hacker inilah yang membawa teknologi menjadi seperti sekarang. dan budaya hacker inilah yang benar-benar membuat teknologi terasa bermanfaat. Misal, pernah ada seorang Hacktivist luar yang dia melakukan hal yang mungkin sangat sepele. Dia membuat sebuah website untuk sebuah kota yang kurang terkenal, website tersebut adalah semacam FAQ (Frequently Asked Question) tentang kota itu, yang mana orang-orang di kota itu akan mengisi pertanyaan sekedar seperti "Dimana Hotel Terdekat dari Lokasi A" sampai "Dimana Toilet Umum". perlahan pertanyaan yang tertampung mulai banyak dan website tersebut mulai menunjukan manfaatnya bagi masyarakat sendiri sebagai upaya penyadaran melek teknologi maupun untuk menarik wisatawan.

mungkin itu termasuk salah satu corak hacktivist yang tidak koersif atau merusak, tapi bukan berarti tidak ada corak hacktivist yang berpola konfrontasi terhadap pemerintah maupun pihak korporasi. Salah satu contohnya adalah Aaron Swartz, salah seorang hacker yang saya kagumi. Dia melakukan dua hal yang keduanya cukup gila. pertama dia muak dengan lembaga yang menjual jurnal jurnal riset yang mana riset tersebut di funding oleh pemerintah. menurutnya riset yang di funding oleh pemerintah menjadi hak masyarakat untuk membacanya dan bukan malah diperjualkan oleh pihak korporasi. jadi dia membuat skrip untuk mengunduh seluruh jurnal dari korporasi tersebut dan mempublikasikanya secara gratis. Oh ya, dia juga yang menginisiasi Open Library, sebuah website dimana orang bisa mencari perpustakaan yang menyediakan buku yang dia butuhkan atau bahkan mengunduhnya jika versi digital nya tersedia. Hal yang kedua dia lakukan adalah sama dengan yang pertama pada saat pemerintah Amerika menetapkan tarif untuk melihat dokumen publik. yang membuatnya terkena masalah hingga akhirnya memilih bunuh diri.

Banyak lagi contoh lain, seperti Edward Snowden yang membongkar kelakuan pemerintah negaranya yang memata2i seluruh jaringan komunikasi warganya. atau komunitas Anonymous yang melawan pemerintah mesir pada saat kerusuhan yang memotong akses internet warganya dengan menyediakan akses internet untug warga mesir. Hal-hal diatas seperti melakukan pemberdayaan dan "melawan" kekuasaan yang disalahgunakan terdengar seperti bersinggungan dengan budaya lain bukan? budaya yang sudah sangat lama ada. Saking bersinggunganya, banyak cerita di era dulu seorang Hacker dan atau Hacktivist seringkali dicap komunis. karena dua hal yang selalu didengungkan dalam komunitas Hacker adalah: Freedom of Information and Freedom of technology. renggut dua hal itu dari masyarakat, fear the wrath of annoyed hackers! . ya.. paling tidak untuk sekarang baru masyarakat luar sih. ya, budaya tersebut adaah budaya aktivisme.

mungkin terkait budaya aktivisme sendiri saya tidak bisa bicara terlalu banyak, namun pada intinya jika budaya itu bersinggungan dan bahkan di luar sana sudah banyak yang menggabungkan keduanya, mungkinkah budaya tersebut di implementasikan dalam gerakan gerakan sosial yang ada di Indonesia? atau bahkan di level mahasiswa yang harusnya lebih bisa menangkap perkembangan teknologi?

Sekali duakali pernah saya utarakan apa yang saya pikirkan dengan beberapa kawan, dan hasilnya beragam, dari yang sekedar bengong sampai bilang bahwa secara konteks permasalahan yang dihadapi ini bukan sebuah solusi. Meski, satu hal yang disepakati adalah bahwa gerakan dewasa ini perlu future-proof. atau tahan terhadap perkembangan zaman. dimana future sekarang terasa datang dengan jauh lebih cepat dari era era sebelumnya.

Kalau jawaban atas tantangan itu bisa datang dalam bentuk berbagai terobosan gerakan gerakan bercorak sosial yang terkesan baru seperti melakukan perjuangan hukum melalui konstitusi atau hal lainya, kenapa jawaban tersebut tidak bisa datang dalam bingkai keteknikan atau teknologi? atau karena memang namanya gerakan sosial? entahlah..

Namun saya rasa hal ini bukan hal yang sepenuhnya tidak mungkin, apalagi didalam sebuah gerakan yang memiliki basis-basis massa dengan background yang beragam apalagi background keteknikan. dan sebenarnya melakukan sebuah hacktivisme tidak harus dengan sebuah terobosan teknologi yang advanced.
  

Senin, 06 Juni 2016

Entahlah kenapa tiba-tiba saya ingin menulis sebuah tulisan yang bersifat curhatan. Yah tulisan ini mungkin bermula dari sebuah refleksi tentang diri saya sendiri dan perubahan-perubahan yang telah saya alami dimulai dari ketika awal saya berangkat merantau hingga hari ini. Yah, walaupun biasanya sih orang berefleksi akan rantau nya ketika sudah akan pulang dan kehilangan status mahasiswanya(red: wisuda)  sedangkan saya sendiri.. ya kayaknya sih jarak waktu hari ini ke waktu momen itu masih jauh. Banyak hal-hal yang "saya versi SMA" tidak akan menyangka bahwa saya  berubah menjadi seperti sekarang ini.

Saya pun tidak pernah menyangka, saya yang dulu sekedar orang yang suka bermain-main dan tidak pernah mau mendapat tanggung jawab apapun bisa berorganisasi di kampus sampai hari ini. Saya tidak pernah suka hal-hal yang merepotkan, dan jujur saja, harus bersosialisasi dengan orang lain bagi saya adalah hal yang merepotkan. Saya tidak terlalu sering berbicara saat SMA, apalagi berbicara didepan umum, ah hal yang merepotkan, mending main game atau ngoprek program to. Saya pun tidak pernah benar-benar terlibat dalam organisasi waktu SMA dulu, hanya satu, itu pun organisasi atau ekstrakulikuler yang tidak memerlukan saya untuk banyak bersosialisas. ya mungkin bahasa keren nya makhluk asusial eh asosial. 

ketika saya di kampus bisa berorganisasi, bahkan sampai masuk kedalam struktur pimpinan nya dan kadang dapet peran yang mengharuskan banyak aktivitas aktivitas bersosialisasi sejenis mengobrol dengan orang tak dikenal, tentu saya tak punya gambaran itu di hari keberangkatan saya merantau.

Meski, sampai hari ini pun sebenarnya saya merasa kesulitan untuk benar-benar bersosial. kalau yang dimaksud bersosial adalah mengobrolkan kehidupan sehari-hari dan sejenisnya. jujur saja saya tidak pernah engage dalam obrolan obrolan seperti itu, ya mungkin baru akhir akhir ini saja ketika sudah benar-benar dekat dengan beberapa makhluk aneh di lingkungan organisasi saya saya bisa engage dalam obrolan. ya sebenernya dari dulu gitu sih, dari SMA masalah obrolan ya bisa bener enak cuma sama yang udah kenal lama. yah walaupun sampai sekarang, dalam diri saya kepribadian asusial itu masih bersemayam dan terkadang saya ingin benar benar sendiri. merubah kepribadian memang tidak semudah itu.

Terkadang, ketika kepribadian lama itu sedang mendominasi diri, saya merasa semua ini cuma mimpi dan beberapa kali ingin kembali ke pola kehidupan yang lama. Disaat-saat seperti itu (dan mungkin seperti ini) pula kadang saya berpikir Tuhan memang suka bercanda. lah gimana tidak, dulu saya mendaftar di organisasi di detik-detik terakhir. kalau tidak salah batas waktu hari itu jam 5, saya datang satu dua menit sebelum jam 5. itupun saya lupa kalau waktu itu mengumpul formulir dan gak sengaja ketemu temen yang juga mendaftar pas lagi cari makan. 

kalau waktu itu telat datang, kalau saja lantai dasar masjid kampus waktu itu telah kosong, kalau saja senior-senior saya wes merasa jumlah kader nya udah cukup dan pergi duluan, yo jelas saya tidak akan sampai ke fase saya sekarang. yah memang rencana Tuhan itu kadang dilakukan secara aneh-aneh dan diluar nalar, kaya bangsa mongol yang gagal melanjutkan ekspansinya di Eropa karena tau2 fase iklim berubah. lah mung gara-gara suhu sebuah bangsa penakluk menemui titik baliknya!

Secara minat sebenarnya tidak pernah ada yang berubah sedikitpun dari minat saya, ya dari dulu minat saya itu-itu tok, gak jauh dari masalah komputer. Tapi memang ada yang berubah dari visi saya dan apa yang saya cari. kalau dulu sekedar merasa bisa memprogram itu keren. Gimana gak keren, dengan memprogram saya tau kalau ternyata komputer itu gobloknya gak ketulungan. komputer tanpa program-program itu hanya onggokan sampah, tidak bisa menyelesaikan apapun. dan ada orang orang yang (sebagian) baik hati yang menciptakan program program untuk menyelesaikan masalah, walau sekedar masalah universal. 

Ya iya, program program yang secara default ada di komputer kita ataupun tersebar itu kan yang diselesaikan masalah universal kaya program office, penyetel musik, website yang membantu jomblo menemukan pasanganya, dsb. nah tapi poin-nya adalah komputer bisa menyelesaikan masalah dan dengan bisa memprogram saya bisa menyelesaikan masalah yang mengganggu saya pribadi. misal waktu itu, pengen baca komik secara offline tapi kalau harus buka halaman nya satu satu kan ribet, jadi saya bikin program untuk bulk download komik langsung satu chapter, satu volume, bahkan pernah iseng saya kembangin supaya bisa itu komik yang ada di itu website saya download dengan hanya satu tombol. kadang juga menyelesaikan masalah temporer semisal, pernah iseng main console di web browser biar bisa otomatis centang semua kuisioner di KRS, yo males to mau KRS an harus ngisi kuisioner.

Terkadang memang susah sih untuk fokus mengembangkan minat, berorganisasi, dan kuliah. ya apalagi karena apa yang saya minati tidak terlalu berhubungan dengan akademik saya walaupun dalam beberapa aspek ada yang beririsan. Tapi minat itu, meski seringkali saya lupakan sejenak tidak pernah benar hilang, justru ketambahan. Apalagi setelah saya mengerti dan memahami filosofi open source yang tidak akan saya jelaskan disini karena nanti terlalu bersemangat dan OOT jauh. saya jadi mengerti bahwa dalam segala bidang selalu ada orang yang pragmatis tapi juga selalu ada orang yang idealis. Saya mengerti bahwa sebenarnya memprogram juga melibatkan unsur (meski kecil) filsafat atau filosofi. bahkan, konon pada saat perang dingin amerika soviet, pengembang pengembang open source di cap kumunis, pendukung soviet, dll. ya jelas, wong orang orang itu menganggap program komputer itu tidak baik untuk ditutup dan dikomersilkan, yo panas to pengembang2 kapitalis layaknya Microsoft dan Apple. 

di awal mengenal filosofi open source itu saya langsung menggali lebih dalam tentang sejarah dan filosofi, walhasil, niatan niatan saya yang mulai berubah dari yang pas sma sekedar suka, awal masuk kuliah mulai orientasi profit, sekarang ya harapan saya bisa menciptakan sesuatu yang bermanfaat, dan tentu saja Open Source. Dan sebenernya hal ini pun saling terkait dengan minat saya terhadap buku-buku yang mulai saya baca saat masuk kuliah organisasi. walaupun tetap saja, sampai detik ini saya masih jarang membaca buku dan kalau emang ada waktu kosong lebih sering ngoprek.

Yah kiranya begitulah, perkembangan orang memang tidak pernah ada yang bisa menduga, bahkan diri sendiri sekalipun. meski sebenarnya bagi saya kepribadian takkan pernah bisa benar benar berubah. Terkadang saya merasa bersyukur, tapi terkadang pula saya merasa tertekan dan merasa ini hanya mimpi serta memikirkan Alternate Route yang akan terjadi andai saja kehidupan saya berjalan lurus saja dan tidak mengalami perubahan atau memilih untuk berubah.

Selasa, 26 April 2016

Program “Genocide”;
Begin Phase One : Destiny;


Afterglow adalah seorang pemuda yang hidup di tahun 2098. Tak ada banyak yang bisa diceritakan tentangnya. Dari luar ia tampak biasa saja –atau mencoba terlihat biasa saja. Ia lahir dari keluarga yang biasa saja. Ayahnya seorang insinyur pengoprasi mesin di salah satu pabrik chip komputer ternama. Tak ada yang bisa dibanggakan darinya itu kecuali masa mudanya yang mengenyam pendidikan di jurusan teknologi nano di Universitas Starfer yang terkenal itu. Profesi ayahnya pun, meski menyandang title Insinyur bukan sesuatu yang istimewa, Pekerjaan-nya tak ubahnya buruh-buruh pada pabrik-pabrik lainya. Pabrik chip komputer kenamaan itu, dengan teknologi produksinya kian canggih mempekerjakan lulusan-lulusan insinyur karena dua alasan: Pertama, karena terlalu merepotkan mempekerjakan orang yang tak paham dengan teknologi nano –tentu merepotkan mengadakan pelatihan,pencegahan human error,dsb– dan kedua, karena toh terlalu banyak manusia lulusan engineering yang menganggur dan mau saja bekerja dengan upah sedikit lebih tinggi dari buruh umumnya. Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga, juga tak ada yang spesial darinya.
Dia lahir tahun 2081 di Wrench City. Bersamaan dengan berhasilnya para teknokrat menciptakan One World Government –dunia dengan satu pemerintahan. Ya, meski sampai tahun 2098 satu dunia yang dimaksud barulah negara negara adidaya dan belum benar-benar satu dunia. di era ini manusia mengalami krisis eksistensi. Perkembangan teknologi digital membuat mereka mempertanyakan perbedaan berbicara dengan bertatap muka dengan berbicara melalui gadgetnya yang mampu menampilkan gambaran hologram lawan bicaranya yang juga mampu menghasilkan suara –apa bedanya manusia asli diseberang dengan dirinya yang berwujud hologram, ketika hologram itu juga adalah representasi nyata manusia diseberang. atau bahkan manusia mempertanyakan kembali definisi “bertatap muka” itu. bagi mereka ruang bukanlah ruang materi dimana wujud-wujud membenda. ruang bersifat abstrak dan sempit dimana jarak bisa secara nyata ditiadakan–bukan lagi “dianggap” tak ada.
Nano technology adalah sebuah term yang sedang booming di era ini. sebuah term untuk teknologi yang memanfaatkan rekayasa atom untuk merekayasa alat di level ukuran nanometer atau sepersemilliar meter. Penemuan ini menciptakan lompatan dahsyat pada perkembangan teknologi. Banyak penelitian untuk menciptakan teknologi-teknologi yang mampu disematkan pada tubuh hewan atau bahkan manusia. Hal-hal yang dulu hanya dimungkinkan dalam kisah-kisah di novel science-fiction kini bukan sekedar fiksi belaka. Namun semua penemuan adalah pedang bermata dua. Layaknya teori Einstein yang mampu digunakan dalam reaktor nuklir sekaligus juga sebagai teori dasar pembuatan bom atom. Sama, semua penemuan adalah sama. Penemuan hanyalah pintu menuju era baru, tempat bagi sifat-sifat manusia untuk menemukan wujudnya yang baru. Sifat itu tak pernah berubah, kejahatan dan kebaikan telah ada sejak manusia diciptakan. Teknologi nano pun tak lepas dari garis takdir teknologi itu, Ia mampu digunakan sebagai penyembuh kanker dan mampu pula digunakan sebagai pembunuh paling efektif yang takkan meninggalkan jejak.
Glow bersekolah di sekolah pemerintah tak jauh dari rumahnya. Sekolahnya hanyalah sebuah komplek yang tak terlalu besar. tiga bangunan berjejer berukuran sedang yang dijadikan ruang kelas dan satu bangunan megah untuk segala keperluan lain dengan lapangan di tengah keempat bangunan tadi. Keadaan sekolahnya yang memakan ruang tak terlalu besar itu bukan karena ia bersekolah di sekolah yang kekurangan dana. Rata-rata sekolah di era ini memang dibuat tak terlalu memakan lahan. Urusan disekolah telah dibuat sedemikian efektifnya. Misalnya saja ruang kelas, ruang kelas itu dibagi sesuai tingkatan dan murid hanya berpindah ruang ketika naik tingkat. ruang kelas itu hanya berisi kursi yang berdempet dan satu buah layar berukuran besar di depan nya serta sederet ornamen berupa kamera perekam di langit-langit kelas. Guru mengajar melalui perlengkapan mengajar dari ruang ruangnya di bangunan utama. Interaksi belajar-mengajar berjalan sebagaimana layaknya, guru menerangkan, sesekali murid menyanggah ataupun bertanya semua dilakukan melalui perantara layar besar di depan kelas. Ujian pun berlangsung dengan suasana yang sama, soal muncul di layar bangku-bangku. tak perlu ada yang membagikan kertas-kertas ujian –kertas memang sudah usang dan jarang digunakan– pun pengawas ujian, tak diperlukan keberadaanya, kamera kamera dalam ruang itu bukan hanya sekedar ornamen. kamera itu merekam gerak-gerik murid dan dilengkapi chip yang diprogram untuk menangkap gerak mencurigakan yang akan langsung dikirim ke pusat data dan diproses –secara otomatis- untuk kemudian menganulir nilai yang diperoleh murid itu dalam ujian, secara otomatis pula. sesederhana itu proses pengawasan dan juga penilaian. murid pun patuh, karena mereka tau yang mereka hadapi adalah mesin yang tak akan mungkin bersimpati ataupun bisa mereka ajak kompromi.
Ia tak terlalu berminat pada pelajaran, baginya pelajaran hanya bualan belaka dan guru-guru hanyalah pencontek teori-teori yang menceritakanya layaknya dongeng-dongeng. dan layaknya dongeng pula, penyampaian itu hanya membuat sebagian besar murid terpesona atas kisah yang menarik namun sulit dipahami ataupun terninabobokan dari pahitnya realitas. Ia habiskan waktu pelajaran untuk membaca buku-buku ataupun berita melalui layar di meja yang telah lama ia retas. tak ada yang mencurigainya karena ia memilih bangku di ujung belakang. Baginya ilmu yang disampaikan oleh guru-guru adalah ilmu yang telah tereduksi menjadi sekedar kemampuan-kemampuan praktis yang tak ada artinya. kurikulum hanyalah menciptakan dinding-dinding untuk membatasi apa yang perlu dipelajari. baginya dunia adalah layaknya gurun sahara dengan tiap butiran pasir adalah keping-keping ilmu. dan dinding-dinding kurikulum membatasi penglihatan serta membatasi ilmu mana yang boleh diambil.
Wrench, kota tempatnya tinggal dihuni oleh dua kelas masyarakat. masyarakat kelas menengah yang tinggal di dekat pusat kota yang dicirikan rumah-rumah berbentuk dome dengan panel-panel surya sebagai komponen utama dome. ciri masyarakat ini adalah masyarakat yang mengandalkan teknologi. mereka tak pernah keluar dari rumah kecuali untuk keperluan bekerja ataupun sekolah. segala urusan lain seperti berbelanja mereka lakukan tanpa keluar dari rumahnya. Mereka disebut paralyzy people oleh kaum menengah bawah. dan dipinggiran kota berjejer rumah rumah kumuh ataupun rumah yang dibangun dengan bata dan semen yang seringkali disebut rumah tradisional dengan pasar yang juga disebut tradisional di beberapa titik area tersebut. mereka disebut slumpy people oleh kaum paralyzy. satu hal yang mungkin baik –ataupun tidak juga– dari kota ini adalah digratiskannya pendidikan (sekolah). syarat untuk bersekolah hanyalah mampu lulus tes, tidak ada syarat-syarat pembayaran. semua ini dimungkinkan dari perkembangan era digital yang menyebabkan murid tak perlu lagi membeli buku-buku pelajaran. gadget dan peralatan komputer pun sudah bukan merupakan barang mewah namun barang yang bisa dengan mudah dimiliki siapa saja.
layaknya keadaan kota, keadaan sekolah pun tak jauh berbeda. Murid di sekolah itu terbagi menjadi dua kubu yang seringkali bermusuhan. Anak-anak dari kelas paralyzy maupun kelas slumpy. Memang tak pernah terjadi kerusuhan dalam kelas yang seperti penjara itu. kericuhan seringkali terjadi di luar area sekolah. Seperti hari itu, keributan terjadi di depan sekolah karena perdebatan antara Chris dan Andy. Mereka berdebat terkait penangkapan demonstran yang baru-baru ini berdemo di depan Congressman Hall. “Kalian cuma bisa berdemo, kalau kalian iri dengan kehidupan kami, bukankah kalian tinggal bekerja sebaiknya supaya generasi setelah kalian bisa hidup seperti kami?” celetuk Chris. “Masalahnya bukan bekerja atau tidaknya kami, masalahnya adalah sistem yang kalian buat. Lagipula, bagaimana orang-orang tua kami bisa bekerja ketika ruang ruang bekerja telah kalian tutup? mereka adalah manusia manusia yang tersisihkan zaman yang terlambat untuk mempelajari hal-hal baru” “Lalu apa? kalian hanya mampu mengeluh tanpa mau memperbaiki diri sendiri”. Perdebatan tak kunjung berhenti, dari hanya antara Andy dan Chris perdebatan itu meluas menyeret kawan mereka yang disitu atau kebetulan lewat. Ya, mereka hanya berani sampai perdebatan, merka tidak berani membuat kericuhan –paling tidak tidak di dekat sekolah itu. Glow melewati kerumunan yang berdebat itu. Ia tak tertarik untuk mengikuti salah satu pihak. Ia hanya ingin hidupnya damai dan terlihat normal.
Glow sadar bahwa sebenarnya memiliki kehidupan damai itu nyaris tak mungkin. Manusia di era ini dituntut untuk berpihak dalam arti yang terlalu fanatik, membenarkan segala yang dilakukan kaumnya. Ditambah manusia-manusia era ini yang memiliki label hampir untuk tiap jenis manusia seperti: pro-pemberontak,pemberontak,separatis,pengkhianat,pelacur intelektual,anti-revolusi,dsb. Hal ini menyusahkan baginya, Ia tak mau berpihak, Ia mau hidup dengan cara dan pandang nya sendiri. Hal menyusahkan berikutnya adalah bahwa manusia memperlakukan manusia lain berdasarkan label yang tersemat. Seperti hari ini, ketika orang-orang yang tempo hari berdebat dengan kaum paralyzy menghadangnya. “Penghianat” “dasar manusia anti-revolusi, tak peduli pada kaum sendiri” sergah mereka sebelum akhirnya menghajar Glow. Ia tak melawan –paling tidak untuk sekarang. Ia mengerti kalaupun melawan ia takkan menang. Bukan berati ia takkan melawan, dia punya caranya sendiri untuk melawan dengan otot tubuhnya yang kecil. dia punya apa yang tak lawannya punya. Setelah orang-orang yang memukulinya pergi ia mengeluarkan gadgetnya, ia tersenyum melihat foto mereka yang secara diam-diam sempat diambilnya dan setelah itu ia pulang.
Sesampainya di depan rumah ia langsung masuk ke gudang di samping rumah yang ia jadikan tempat tinggal. Orang tuanya tak pernah keberatan karena yang mereka tau Glow melakukan eksperimen-eksperimen teknologi di gudang itu, bukan hal aneh untuk pelajar di zaman itu. Ia menghidupkan layar utama komputernya dan langsung membuka perangkat browsernya, ia membuka halaman kepolisian lokal serta membuka perangkat console terminal untuk menyiapkan exploit. tak butuh waktu lama untuknya meretas laman itu dan masuk kedalam database kepolisian. kemudian dia mengunggah foto di gadgetnya, memotong wajah mereka dan memasukkan mereka kedatabase kepolisian dengan “pemerkosaan dan perampokan” pada bagian tabel “crime”. Mereka satu sekolah denganya, jadi tak terlalu sulit mendapatkan nama mereka melalui database sekolah yang telah sejak lama diunduhnya dan ia buat replikanya. Ini bukan hal baru baginya, dia bisa saja memilih untuk melapor ke kepolisian dan bukan melakukan hal ini. Namun baginya itu merepotkan, Ia tak ingin namanya ada dalam daftar kepolisian baik sebagai penuduh atau tertuduh. Ia ingin hidupnya tetap terlihat normal, terlihat sebagai pecundang yang biasa saja. Kemampuan meretas nya pun ia sembunyikan bahkan dari orang terdekatnya sekalipun. Baginya kemampuan peretas sesungguhnya adalah ketika ia mampu bersembunyi secara rapi baik di dunia digital maupun dunia nyata. Sisa hari itu ia habiskan untuk membaca berita baik yang terlihat maupun tertutupi.
Keesokan harinya Glow memulai hari seperti biasanya. Bangun, mencuci muka, kemudian membuka gadget nya. Ia mencoba membuka berita lokal untuk memastikan orang-orang yang menghajarnya telah tertangkap. Sebenarnya ia tidak terlalu merasa perlu untuk mengeceknya karena belum pernah sekalipun ia gagal, namun tanpa alasan tertentu ia hanya ingin mengeceknya saja. Toh kasihan juga kalau hukuman mereka terlalu berat,pikirnya. matanya terbelalak ketika membuka laman koran lokal. Ia melihat apa yang tak pernah disangka-sangkanya. Keegoisan dan rasa agung atas dirinya runtuh seketika. ia telah gagal. Bukan hanya itu, yang membuat kakinya lemas adalah headline berita : “Perampokan Terjadi Lagi: Kini Wajah Pelaku Tertangkap Kamera” dengan gambar foto agak buram –khas rekaman cctv. Ia mengenali wajah itu, ia tatap berulang-ulang, tak salah lagi. Wajah itu adalah wajahnya. Tapi bagaimana bisa? bagaimana keadaan sebagai pemburu bisa berbalik menjadi terburu? ia tak mengerti. Dengung suara sirene mobil polisi terdengar mendekat. Kakinya semakin lemas, ia jatuh. ada perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya : rasa takut.
End of Phase One;
26 April 2016.

Muhammad Hanif, Pegiat KBI(Komunitas Bebal Independen).



About Me

Foto Saya
Saya Muhammad Hanif , seorang mahasiswa yang sekedar ingin menuliskan perjalanan dan pemikiranya
Diberdayakan oleh Blogger.