Hanif's journey. you may not interested, but this is my live and my thought

Sabtu, 29 April 2017

Genocide Without Blodspill - 2

we are the cause of the problem
we will going down only when all of us down to zero.
[kami adalah sumber dari masalah
dan kami hanya akan runtuh jika seluruh dari kami menjadi kosong]
Glow masih berdiam diri. Ia tidak pernah merasakan hal-hal ini sebelumnya. Ya, ia tak pernah ketakutan. Sebenarnya bukan kematian ataupun siksaan lahiriah yang Glow takutkan. Dunia era ini tak lagi melakukan siksaan-siksaan yang terlihat kejam. Bukankah kejam adalah ketika kita melihat orang di penggal di Guiillotine lalu darah mengalir deras dari leher korban? atau seperti nazi yang melakukan Holocaust dan penelitian gila yang salah satunya tidak memberi tawanan perangnya makanan selama beberapa minggu? ya, itu adalah kekejaman. Era ini tidak memunculkan lagi hal hal seperti itu. Hewan memangsa dengan taring, yang meninggalkan genangan darah di luka koyakan mangsanya. dan manusia era ini sadar bahwa mereka tidak sebanding dengan hewan : Mereka memangsa tanpa meninggalkan setetespun darah.
Zaman dulu ada yang sering disebut dengan "Mati secara damai" dimana kematian tersebut datang tiba tiba tanpa luka dari luar ataupun didahului penyakit penyakit mematikan sebelumnnya. Tapi benarkah kematian itu tanpa penyebab dan hanya damai? Tidak ada kematian tanpa penyebab, meski penyebabnya adalah kesalahan kecil dalam kerja organ yang menyebabkan kematian namun tanpa terlihat menyakitkan.  Nanotech memungkinkan ilmuwan sekarang untuk membuat senjata mematikan yang membuat seolah korban terlihat mati dengan tenang. senjata bernama Vacuum itu menembakan virus kecil kedalam tubuh dengan sistem navigasi sejenis GPS ( anatomi tubuh setiap manusia sama, jadi tak terlalu sulit membuat sistem navigasi tersebut) yang menuju pembuluh darah dan menutup aliran darah menuju jantung. tak butuh lama, korban pasti tewas seketika.
Kekerasan hanya milik para pemberontak, teroris, yang tak punya teknologi dan pendanaan untuk mengimbangi senjata militer pemerintah. Pemerintah pun kerap menyatakan, "Blood is the work of rebel, we handle problem differently". Pemberontak yang dimaksud adalah orang-orang yang ingin lepas dari kekangan, kepalsuan One World Government yang hanya menguntungkan mantan  negara-negara adidaya. dan mungkin salah satunya adalah yang mencoba merekrut Glow sekarang, dengan cara yang Glow tidak duga dapat dilakukan sekelompok Rebel (pemberontak). Misalnya adalah para demonstran yang tertangkap tempo hari lalu
Sirine mobil polisi makin mendekat. Glow mencoba berpikir apa yang bisa dilakukanya. Mobil polisi sekarang merupakan mobil dengan sistem navigasi yang selalu berkomunikasi dengan pusat untuk memunculkan posisi buronan dan menampilkan rute paling efektif.  Glow menyalakan komputernya, Ia membuat exploit yang ia kirimkan ke server pusat. ketika membuka sistem navigasi Glow dihadapkan dengan rangkaian matriks 3 dimensi dengan baris berbeda untuk tiap mobil. Ia tak mengerti mobil mana yang menuju kearahnya jadi ia hanya membuat exploit untuk saling mengacak kolom longitude dan latitude di tiap mobil. paling tidak ini bisa memberikanya waktu sampai polisi didalam mobil atau di markas menyadari terjadi keanehan.
Saat sedang berpikir langkah apa yang ia akan lakukan, tiba-tiba layar monitornya menjadi gelap dan menampilkan dialog box:
"Apakah Kamu Bagian dari Kami?"
Ya    |   Tidak
"Bagian dari kalian? memang kalian itu siapa?" pikirnya. Namun paling tidak sekarang ia tau, yang mengincarnya sekarang adalah sekelompok orang dan bukan hanya satu orang. "Siapa mereka? apakah mereka kelompok pembunuh bayaran? Apa yang sebenarnya mereka inginkan dariku?" muncul pertanyaan yang bertubi-tubi dalam benaknya. belum sempat ia berpikir lama layarnya berkedip dan memunculkan dialog tambahan
"Kalau kau adalah orang yang mencintai dunia sebagai sebuah dunia dan bukan dunia yang hanya dikuasai segelintir kelompok, kalau kau bosan melihat bobroknya oligarki dan kau adalah orang yang ingin dunia yang terbuka tanpa informasi yang penuh kebohongan Serta terakhir, kalau kau adalah orang yang mencintai teknologi sebagai karya seni.
Maka kau adalah bagian dari kami
 nb: sepertinya tidak ada banyak waktu untukmu berpikir, maaf terhadap cara merekrut kami. Kalau kami sekedar datang kau takkan percaya bukan?"
"Sialan!" pekiknya. Ia marah karena dua hal. Pertama, karena ia merasa dipecundangi oleh sekelompok orang yang bahkan ia tak tau siapa mereka. Kedua, karena apa yang mereka katakan benar, Namun, Bagian dari mereka? memang siapa mereka, pikirnya. Selama ini ia membenci pemerintahan yang hanya dipimpin oleh sebagian orang, atau dalam kasus ini sebagian mantan pemerintah negara-negara adidaya saat sebelum adanya One World Government. mereka hanya ingin memperlihatkan kekuasaan dan memajukan kelompoknya saja. Tentu saja ia menginginkan dunia dengan keterbukaan informasi, ia kerap meretas situs pemerintah untuk mencari apa yang sedang terjadi. Ya, tapi hanya sebatas itu saja. Ia tak mau terlibat dalam kelompok apapun karena ia ingin menjadi manusia biasa.
Namun dengan keadaan sekarang, apa yang bisa ia lakukan? Namanya masuk kedalam database kepolisian. Mudah saja baginya kalau hanya sekedar menghapus namanya dari database tersebut. Namun tidak semudah itu, bukankah mereka akan curiga ketika sebuah nama buronan tiba-tiba hilang? Apalagi polisi yang mengejarnya pasti sekarang sedang marah karena sistem navigasinya ia kacaukan. Ia tak ingin menjadi buronan. Ia ingin menjadi manusia yang (terlihat) biasa saja. Namun tak ada pilihan lain, kelompok tersebut sepertinya membutuhkan kemampuanya. Ia akan menuruti mereka sampai misi mereka selesai dan akan menjadi manusia biasa lagi. Sekaligus mengambil informasi tentang siapa sebenarnya orang-orang ini dan kalau mereka tak membiarkanya pergi ia tinggal membuat mereka tertangkap.
Glow mengarahkan kursornya dan mengklik "Ya" pada pilihan di dialog box. layar monitornya berkedip sejenak sebelum kembali memunculkan dialog box:
"Selamat atas pilihanmu, Afterglow. namun kami masih punya satu tes untukmu. bukan tes yang berat, kami yakin untuk orang sepertimu. kami tidak akan menjemputmu, kau yang harus menemukan kami. siapa kami? kami biasa disebut "d047" atau "x02F" itu sama saja bukan? Hahaha. Carilah kami di tempat semua dimulai, Glow dan kau mengerti bukan bahwa bahkan tanpamu kebenaran tetap dipihak kami."
Ia belum benar benar bisa mencerna apa yang mereka maksud. "d047" dan "x02F" adalah kelompok hacktivist yang kerap kali menjadi incaran pemerintah. Sama? apa yang mereka maksud sama? Tunggu sebentar, pikirnya. jika d047 diartikan sebagai "decimal, tabel no 47" dan x02F diartikan sebagai "Hexadecimal, tabel no 02F" maka keduanya memang sama. 47 adalah nilai desimal dari 2F. cerdik juga mereka, pikirnya. kemudian ia mengingat-ingat, dalam tabel Ascii, tabel yang berisi huruf dan simbol yang digunakan untuk konversi dari bentuk huruf dan simbol yang dimengerti manusia menjadi angka angka yang dimengerti komputer. tabel decimal 47 mengarah pada simbol "/". "Slash? apa maksudnya?" ia tak mengerti. Glow berpikir sejenak. "/" dalam simbol komputer bisa diartikan sebagai "root", atau jangan jangan ini yang mereka maksud. Glow membuka folder root nya, mengecek proses proses yang dijalankan oleh root. terlalu banyak kemungkinan, ia harus mempersempitnya. "/" juga bisa diartikan sebagai "atau" , pikirnya. mungkin itu yang mereka maksud bahwa tanpa dirinya kebenaran tetap ada dipihak mereka. bukankah dalam logika komputer logika atau akan bernilai benar selama ada satu saja nilai yang mempertahankan kebenaranya?
ia mencoba mencerna. Glow mengecek proses yang dijalankan oleh root dan mengeliminasi proses proses yang dijalankan sebagai keperluan system dan baru dijalankan beberapa waktu lalu.
$ps -u root | grep 0:10:
9999    |    ?    | 0:10:15:33.5 | /tmp/slash/dialogbx
ketemu! pikirnya. tak butuh waktu lama untuk ia membuka folder tersebut. ia menemukan file "Welcome to Slash.txt". Glow terperanjat ketika membuka file tersebut dan membaca isinya. Sirine polisi kembali terdengar mendekat. buru buru Glow enkripsi file tersebut,  memasukkan hard disknya kedalam oven dan kemudian lari dari rumahnya. "Tempat itu? mereka pasti bercanda!" pikirnya sambil terus berlari.

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

Foto Saya
Saya Muhammad Hanif , seorang mahasiswa yang sekedar ingin menuliskan perjalanan dan pemikiranya
Diberdayakan oleh Blogger.