Pertama, mungkin saya akan mengawali tulisan saya dengan pernyataan bahwa saya sepenuhnya sadar apa yang saya tuliskan sangat kecil kemungkinanya untuk terjadi. tapi ya, sekedar ingin saja untuk menuliskan yang terbesit di pikiran. dan tulisan ini hanya opini belaka
Pertama mungkin saya akan sedikit bicara tentang Hacktivisme, apa sih itu hacktivisme. buat yang biasa nebak nebak pasti punya tebakan kalau Hacktivisme itu adalah gabungan antara Hack , dan Akt
ivis atau Aktivisme. yak, tebakan itu memang betul. dan ini bukan istilah yang saya buat-buat sendiri lho ya. diluar sana sudah banyak yang mengamalkan dan menggunakan istilah ini.
Jadi, Gerakan macam apa sebenarnya Hacktivisme itu? karena tadi sudah diketahui bahwa Hacktivisme adalah gabungan antara Hack dan Aktivisme yang mana salah satu atau bahkan keduanya berkonotasi buruk bagi sebagian orang, saya akan mencoba meluruskan dulu "Hack" yang dimaksud disini.
"Hack" atau "Hacker" bukanlah aktivitas kriminal dimana seseorang melakukan kejahatan cyber seperti membobol bank ataupun sekedar akun email mantan. Tapi Hack pada awalnya adalah sebuah budaya. sebuah budaya yang mempertanyakan sejauh mana kita bisa mengembangkan teknologi. yang mana budaya ini seringkali diimplementasikan dengan mengubah atau bahkan "merusak" teknologi yang sudah ada. Budaya Hacker ini diawali di masa paling awal perkembangan komputer yang mana berati budaya ini sudah memiliki sejarah yang cukup panjang. dari jaman komputer masih sebesar setengah lapangan bola sampai sekarang memiliki model kinyis-kinyis dan bisa digenggam ditangan.
Dan sudah banyak diakui berbagai kalangan dunia bahwa budaya Hacker inilah yang membawa teknologi menjadi seperti sekarang. dan budaya hacker inilah yang benar-benar membuat teknologi terasa bermanfaat. Misal, pernah ada seorang Hacktivist luar yang dia melakukan hal yang mungkin sangat sepele. Dia membuat sebuah website untuk sebuah kota yang kurang terkenal, website tersebut adalah semacam FAQ (Frequently Asked Question) tentang kota itu, yang mana orang-orang di kota itu akan mengisi pertanyaan sekedar seperti "Dimana Hotel Terdekat dari Lokasi A" sampai "Dimana Toilet Umum". perlahan pertanyaan yang tertampung mulai banyak dan website tersebut mulai menunjukan manfaatnya bagi masyarakat sendiri sebagai upaya penyadaran melek teknologi maupun untuk menarik wisatawan.
mungkin itu termasuk salah satu corak hacktivist yang tidak koersif atau merusak, tapi bukan berarti tidak ada corak hacktivist yang berpola konfrontasi terhadap pemerintah maupun pihak korporasi. Salah satu contohnya adalah Aaron Swartz, salah seorang hacker yang saya kagumi. Dia melakukan dua hal yang keduanya cukup gila. pertama dia muak dengan lembaga yang menjual jurnal jurnal riset yang mana riset tersebut di funding oleh pemerintah. menurutnya riset yang di funding oleh pemerintah menjadi hak masyarakat untuk membacanya dan bukan malah diperjualkan oleh pihak korporasi. jadi dia membuat skrip untuk mengunduh seluruh jurnal dari korporasi tersebut dan mempublikasikanya secara gratis. Oh ya, dia juga yang menginisiasi Open Library, sebuah website dimana orang bisa mencari perpustakaan yang menyediakan buku yang dia butuhkan atau bahkan mengunduhnya jika versi digital nya tersedia. Hal yang kedua dia lakukan adalah sama dengan yang pertama pada saat pemerintah Amerika menetapkan tarif untuk melihat dokumen publik. yang membuatnya terkena masalah hingga akhirnya memilih bunuh diri.
Banyak lagi contoh lain, seperti Edward Snowden yang membongkar kelakuan pemerintah negaranya yang memata2i seluruh jaringan komunikasi warganya. atau komunitas Anonymous yang melawan pemerintah mesir pada saat kerusuhan yang memotong akses internet warganya dengan menyediakan akses internet untug warga mesir. Hal-hal diatas seperti melakukan pemberdayaan dan "melawan" kekuasaan yang disalahgunakan terdengar seperti bersinggungan dengan budaya lain bukan? budaya yang sudah sangat lama ada. Saking bersinggunganya, banyak cerita di era dulu seorang Hacker dan atau Hacktivist seringkali dicap komunis. karena dua hal yang selalu didengungkan dalam komunitas Hacker adalah: Freedom of Information and Freedom of technology. renggut dua hal itu dari masyarakat, fear the wrath of annoyed hackers! . ya.. paling tidak untuk sekarang baru masyarakat luar sih. ya, budaya tersebut adaah budaya aktivisme.
mungkin terkait budaya aktivisme sendiri saya tidak bisa bicara terlalu banyak, namun pada intinya jika budaya itu bersinggungan dan bahkan di luar sana sudah banyak yang menggabungkan keduanya, mungkinkah budaya tersebut di implementasikan dalam gerakan gerakan sosial yang ada di Indonesia? atau bahkan di level mahasiswa yang harusnya lebih bisa menangkap perkembangan teknologi?
Sekali duakali pernah saya utarakan apa yang saya pikirkan dengan beberapa kawan, dan hasilnya beragam, dari yang sekedar bengong sampai bilang bahwa secara konteks permasalahan yang dihadapi ini bukan sebuah solusi. Meski, satu hal yang disepakati adalah bahwa gerakan dewasa ini perlu future-proof. atau tahan terhadap perkembangan zaman. dimana future sekarang terasa datang dengan jauh lebih cepat dari era era sebelumnya.
Kalau jawaban atas tantangan itu bisa datang dalam bentuk berbagai terobosan gerakan gerakan bercorak sosial yang terkesan baru seperti melakukan perjuangan hukum melalui konstitusi atau hal lainya, kenapa jawaban tersebut tidak bisa datang dalam bingkai keteknikan atau teknologi? atau karena memang namanya gerakan sosial? entahlah..
Namun saya rasa hal ini bukan hal yang sepenuhnya tidak mungkin, apalagi didalam sebuah gerakan yang memiliki basis-basis massa dengan background yang beragam apalagi background keteknikan. dan sebenarnya melakukan sebuah hacktivisme tidak harus dengan sebuah terobosan teknologi yang advanced.
lanjutkan pikiranya bro, proyek banyak tulisan juga hahahahaha
BalasHapus