Membaca.
Dari dulu aku cukup dekat, meski tak pernah benar-benar mesra dengan kata itu. Memang sesampainya aku di kampus dan mengalami banyak fase kaderisasi di organisasi, yang sering diulang-ulang adalah terkait membaca. Tapi pun, dalam masa pertumbuhan yang kalau meminjam istilah sosiologi disebut sosialisasi primer, aku lahir dalam lingkungan yang tak jauh dari buku. Buku-buku itu, meski gak rajin-rajin amat ada lah kalau satu-dua kali aku baca, yah meski terkadang tak sampai selesai juga.Jadi setidaknya, membaca bukan hal baru bagiku ketika kata-kata yang lebih terasa sebagai doktrin (jujur, kadang aku meragukan satu dua orang yang menyuruhku membaca dulu itu sendirinya membaca, yah kalau sekedar doktrin kan yang penting si objek percaya) tentang membaca buku itu diucapkan.
Mungkin sampai di sini aku mengesankan bahwa aku adalah seorang pembaca yang tekun. Namun bukan juga, aku tak pernah se-tekun itu dalam membaca hingga berani diri mengklaim sebagai pembaca yang tekun. Proses membacaku tak jauh beda dengan masa-masa sosialisasi primer dalam lingkup kampung halaman dulu, sekali-dua saja dan tak selamanya tamat. bahkan sangking banyaknya buku yang tak kuselesaikan "cover to cover" aku merasa tak pernah membaca apa-apa. Bahkan suatu ketika saat membaca karya Freud dimana dia berbicara bahwa kesalahan atau kelalaian adalah tanda, aku berfikir sejenak, jangan-jangan aku seringkali tak selesai (sampai cover) karena aku memang tak ingin membaca, buku itu kuletakkan dan tak pernah kusentuh lagi. Pikirku, Daripada nanti aku melakukan kesalahan itu secara bawah sadar, bukankah lebih baik kulakukan secara sadar sembari mengakui bahwa aku memang tak ingin membaca (buku) ?
Oh ya, mungkin ada yang aku lupa sampaikan tentang pandanganku terhadap buku. Terkadang aku membagi buku menjadi dua kategori, Buku Praktis dan Buku Teoritis. Aku tak pernah merasa "berdosa" ketika membaca buku-buku praktis itu secaa parsial. Pola pikir ini terbentuk mungkin karena aku juga membagi-bagi jenis konten dari si buku. menurutku, buku-buku praktis hanya berisi informasi, sedang buku-buku teoritis berisi pengetahuan.
Informasi bagiku hanyalah serangkaian kata yang menjadi data. Mengetahui bahasa pemrograman X tak ubahnya mengetahui cara mengayuh sepeda atau cara menggunakan gunting kertas. Maka dari itu, ketika membaca dan mempelajari bahasa pemrograman Y, aku tak merasa perlu membaca keseluruhan buku. Aku hanya butuh tahu apa yang berbeda, sebatas itu. pun buku-buku yang kusebut praktis tadi seringkali hanya berisi teks-teks definitif dan instruksi-instruksi.
Lalu apa yang kumaksud dengan pengetahuan ? Awalnya aku menganggap bahwa pengetahuan adalah informasi yang mampu diolah menjadi pandangan hidup. Namun sepertinya, aku tidak yakin dan aku sendiri tidak benar-benar tau. pembagianku tadi sepertinya hanyalah pembagian naif yang kusandarkan pada pemikiran bahwa ada yang berbeda, tanpa tau apa sebenarnya perbedaan itu. Bahkan kadang aku terpikir bahwa sebenarnya kenaifanku sendiri itu naif. bahwa sebenarnya keduanya tak berbeda sama sekali dan sebenarnya apa yang kuanggap Buku Teoritis, atau dalam tahap ini sebut saja Buku Tidak Praktis itu hanyalah buku yang diluar buku tentang studi atau pekerjaanku. Yah mungkin memang senaif itulah aku, hanya menilai buku berdasar aplikatif tidaknya dalam kehidupanku.
Sampai detik ini aku masih ragu, apa guna membaca buku. Ditambah dengan thesis Freud tentang kesalahan adalah tanda tadi, keduanya tergabung menjadi dasar yang kuat untuk menyatakan aku tak ingin membaca buku. Namun toh tak ada bedanya, secara tak langsung toh memang aku tak pernah membaca yang dengan konsekuensi dari pembagianku tadi, juga berarti bahwa aku juga tak punya pengetahuan. Kalau ada satu dua aku kutip tokoh waktu nulis sepertinya itu hanya informasi-informasi saja, yang kudapat secara parsial dari proses baca yang secara parsial pula.
Eh atau sebenarnya memang begitu ya proses membaca itu. membaca itu hanya perkara mengumpulkan informasi dan sebenarnya membaca hanyalah hasrat emosional untuk semakin meyakinkan bahwa keyakinan-keyakinan yang dimiliki benar adanya. Pengetahuan hanyalah keyakinan muncul dari diri, yang tersistematiskan dari informasi-informasi baru dari buku-buku.
Ah apapun itu, intinya aku sedang tak ingin membaca (buku). Namun mungkin sebenarnya seperti yang dulu kakak-kakaknya sampaikan waktu awal aku mahasiswa. Nanti, ketika sudah sering membaca, membaca akan jadi kebutuhan. Masalahnya, dari logikaku di awal, aku tak pernah membaca. Jadi begitu saja, aku tak pernah membaca, dan aku memang tak ingin membaca.
Sabtu, 29 April 2017
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar