Hanif's journey. you may not interested, but this is my live and my thought

Selasa, 26 April 2016

Program “Genocide”;
Begin Phase One : Destiny;


Afterglow adalah seorang pemuda yang hidup di tahun 2098. Tak ada banyak yang bisa diceritakan tentangnya. Dari luar ia tampak biasa saja –atau mencoba terlihat biasa saja. Ia lahir dari keluarga yang biasa saja. Ayahnya seorang insinyur pengoprasi mesin di salah satu pabrik chip komputer ternama. Tak ada yang bisa dibanggakan darinya itu kecuali masa mudanya yang mengenyam pendidikan di jurusan teknologi nano di Universitas Starfer yang terkenal itu. Profesi ayahnya pun, meski menyandang title Insinyur bukan sesuatu yang istimewa, Pekerjaan-nya tak ubahnya buruh-buruh pada pabrik-pabrik lainya. Pabrik chip komputer kenamaan itu, dengan teknologi produksinya kian canggih mempekerjakan lulusan-lulusan insinyur karena dua alasan: Pertama, karena terlalu merepotkan mempekerjakan orang yang tak paham dengan teknologi nano –tentu merepotkan mengadakan pelatihan,pencegahan human error,dsb– dan kedua, karena toh terlalu banyak manusia lulusan engineering yang menganggur dan mau saja bekerja dengan upah sedikit lebih tinggi dari buruh umumnya. Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga, juga tak ada yang spesial darinya.
Dia lahir tahun 2081 di Wrench City. Bersamaan dengan berhasilnya para teknokrat menciptakan One World Government –dunia dengan satu pemerintahan. Ya, meski sampai tahun 2098 satu dunia yang dimaksud barulah negara negara adidaya dan belum benar-benar satu dunia. di era ini manusia mengalami krisis eksistensi. Perkembangan teknologi digital membuat mereka mempertanyakan perbedaan berbicara dengan bertatap muka dengan berbicara melalui gadgetnya yang mampu menampilkan gambaran hologram lawan bicaranya yang juga mampu menghasilkan suara –apa bedanya manusia asli diseberang dengan dirinya yang berwujud hologram, ketika hologram itu juga adalah representasi nyata manusia diseberang. atau bahkan manusia mempertanyakan kembali definisi “bertatap muka” itu. bagi mereka ruang bukanlah ruang materi dimana wujud-wujud membenda. ruang bersifat abstrak dan sempit dimana jarak bisa secara nyata ditiadakan–bukan lagi “dianggap” tak ada.
Nano technology adalah sebuah term yang sedang booming di era ini. sebuah term untuk teknologi yang memanfaatkan rekayasa atom untuk merekayasa alat di level ukuran nanometer atau sepersemilliar meter. Penemuan ini menciptakan lompatan dahsyat pada perkembangan teknologi. Banyak penelitian untuk menciptakan teknologi-teknologi yang mampu disematkan pada tubuh hewan atau bahkan manusia. Hal-hal yang dulu hanya dimungkinkan dalam kisah-kisah di novel science-fiction kini bukan sekedar fiksi belaka. Namun semua penemuan adalah pedang bermata dua. Layaknya teori Einstein yang mampu digunakan dalam reaktor nuklir sekaligus juga sebagai teori dasar pembuatan bom atom. Sama, semua penemuan adalah sama. Penemuan hanyalah pintu menuju era baru, tempat bagi sifat-sifat manusia untuk menemukan wujudnya yang baru. Sifat itu tak pernah berubah, kejahatan dan kebaikan telah ada sejak manusia diciptakan. Teknologi nano pun tak lepas dari garis takdir teknologi itu, Ia mampu digunakan sebagai penyembuh kanker dan mampu pula digunakan sebagai pembunuh paling efektif yang takkan meninggalkan jejak.
Glow bersekolah di sekolah pemerintah tak jauh dari rumahnya. Sekolahnya hanyalah sebuah komplek yang tak terlalu besar. tiga bangunan berjejer berukuran sedang yang dijadikan ruang kelas dan satu bangunan megah untuk segala keperluan lain dengan lapangan di tengah keempat bangunan tadi. Keadaan sekolahnya yang memakan ruang tak terlalu besar itu bukan karena ia bersekolah di sekolah yang kekurangan dana. Rata-rata sekolah di era ini memang dibuat tak terlalu memakan lahan. Urusan disekolah telah dibuat sedemikian efektifnya. Misalnya saja ruang kelas, ruang kelas itu dibagi sesuai tingkatan dan murid hanya berpindah ruang ketika naik tingkat. ruang kelas itu hanya berisi kursi yang berdempet dan satu buah layar berukuran besar di depan nya serta sederet ornamen berupa kamera perekam di langit-langit kelas. Guru mengajar melalui perlengkapan mengajar dari ruang ruangnya di bangunan utama. Interaksi belajar-mengajar berjalan sebagaimana layaknya, guru menerangkan, sesekali murid menyanggah ataupun bertanya semua dilakukan melalui perantara layar besar di depan kelas. Ujian pun berlangsung dengan suasana yang sama, soal muncul di layar bangku-bangku. tak perlu ada yang membagikan kertas-kertas ujian –kertas memang sudah usang dan jarang digunakan– pun pengawas ujian, tak diperlukan keberadaanya, kamera kamera dalam ruang itu bukan hanya sekedar ornamen. kamera itu merekam gerak-gerik murid dan dilengkapi chip yang diprogram untuk menangkap gerak mencurigakan yang akan langsung dikirim ke pusat data dan diproses –secara otomatis- untuk kemudian menganulir nilai yang diperoleh murid itu dalam ujian, secara otomatis pula. sesederhana itu proses pengawasan dan juga penilaian. murid pun patuh, karena mereka tau yang mereka hadapi adalah mesin yang tak akan mungkin bersimpati ataupun bisa mereka ajak kompromi.
Ia tak terlalu berminat pada pelajaran, baginya pelajaran hanya bualan belaka dan guru-guru hanyalah pencontek teori-teori yang menceritakanya layaknya dongeng-dongeng. dan layaknya dongeng pula, penyampaian itu hanya membuat sebagian besar murid terpesona atas kisah yang menarik namun sulit dipahami ataupun terninabobokan dari pahitnya realitas. Ia habiskan waktu pelajaran untuk membaca buku-buku ataupun berita melalui layar di meja yang telah lama ia retas. tak ada yang mencurigainya karena ia memilih bangku di ujung belakang. Baginya ilmu yang disampaikan oleh guru-guru adalah ilmu yang telah tereduksi menjadi sekedar kemampuan-kemampuan praktis yang tak ada artinya. kurikulum hanyalah menciptakan dinding-dinding untuk membatasi apa yang perlu dipelajari. baginya dunia adalah layaknya gurun sahara dengan tiap butiran pasir adalah keping-keping ilmu. dan dinding-dinding kurikulum membatasi penglihatan serta membatasi ilmu mana yang boleh diambil.
Wrench, kota tempatnya tinggal dihuni oleh dua kelas masyarakat. masyarakat kelas menengah yang tinggal di dekat pusat kota yang dicirikan rumah-rumah berbentuk dome dengan panel-panel surya sebagai komponen utama dome. ciri masyarakat ini adalah masyarakat yang mengandalkan teknologi. mereka tak pernah keluar dari rumah kecuali untuk keperluan bekerja ataupun sekolah. segala urusan lain seperti berbelanja mereka lakukan tanpa keluar dari rumahnya. Mereka disebut paralyzy people oleh kaum menengah bawah. dan dipinggiran kota berjejer rumah rumah kumuh ataupun rumah yang dibangun dengan bata dan semen yang seringkali disebut rumah tradisional dengan pasar yang juga disebut tradisional di beberapa titik area tersebut. mereka disebut slumpy people oleh kaum paralyzy. satu hal yang mungkin baik –ataupun tidak juga– dari kota ini adalah digratiskannya pendidikan (sekolah). syarat untuk bersekolah hanyalah mampu lulus tes, tidak ada syarat-syarat pembayaran. semua ini dimungkinkan dari perkembangan era digital yang menyebabkan murid tak perlu lagi membeli buku-buku pelajaran. gadget dan peralatan komputer pun sudah bukan merupakan barang mewah namun barang yang bisa dengan mudah dimiliki siapa saja.
layaknya keadaan kota, keadaan sekolah pun tak jauh berbeda. Murid di sekolah itu terbagi menjadi dua kubu yang seringkali bermusuhan. Anak-anak dari kelas paralyzy maupun kelas slumpy. Memang tak pernah terjadi kerusuhan dalam kelas yang seperti penjara itu. kericuhan seringkali terjadi di luar area sekolah. Seperti hari itu, keributan terjadi di depan sekolah karena perdebatan antara Chris dan Andy. Mereka berdebat terkait penangkapan demonstran yang baru-baru ini berdemo di depan Congressman Hall. “Kalian cuma bisa berdemo, kalau kalian iri dengan kehidupan kami, bukankah kalian tinggal bekerja sebaiknya supaya generasi setelah kalian bisa hidup seperti kami?” celetuk Chris. “Masalahnya bukan bekerja atau tidaknya kami, masalahnya adalah sistem yang kalian buat. Lagipula, bagaimana orang-orang tua kami bisa bekerja ketika ruang ruang bekerja telah kalian tutup? mereka adalah manusia manusia yang tersisihkan zaman yang terlambat untuk mempelajari hal-hal baru” “Lalu apa? kalian hanya mampu mengeluh tanpa mau memperbaiki diri sendiri”. Perdebatan tak kunjung berhenti, dari hanya antara Andy dan Chris perdebatan itu meluas menyeret kawan mereka yang disitu atau kebetulan lewat. Ya, mereka hanya berani sampai perdebatan, merka tidak berani membuat kericuhan –paling tidak tidak di dekat sekolah itu. Glow melewati kerumunan yang berdebat itu. Ia tak tertarik untuk mengikuti salah satu pihak. Ia hanya ingin hidupnya damai dan terlihat normal.
Glow sadar bahwa sebenarnya memiliki kehidupan damai itu nyaris tak mungkin. Manusia di era ini dituntut untuk berpihak dalam arti yang terlalu fanatik, membenarkan segala yang dilakukan kaumnya. Ditambah manusia-manusia era ini yang memiliki label hampir untuk tiap jenis manusia seperti: pro-pemberontak,pemberontak,separatis,pengkhianat,pelacur intelektual,anti-revolusi,dsb. Hal ini menyusahkan baginya, Ia tak mau berpihak, Ia mau hidup dengan cara dan pandang nya sendiri. Hal menyusahkan berikutnya adalah bahwa manusia memperlakukan manusia lain berdasarkan label yang tersemat. Seperti hari ini, ketika orang-orang yang tempo hari berdebat dengan kaum paralyzy menghadangnya. “Penghianat” “dasar manusia anti-revolusi, tak peduli pada kaum sendiri” sergah mereka sebelum akhirnya menghajar Glow. Ia tak melawan –paling tidak untuk sekarang. Ia mengerti kalaupun melawan ia takkan menang. Bukan berati ia takkan melawan, dia punya caranya sendiri untuk melawan dengan otot tubuhnya yang kecil. dia punya apa yang tak lawannya punya. Setelah orang-orang yang memukulinya pergi ia mengeluarkan gadgetnya, ia tersenyum melihat foto mereka yang secara diam-diam sempat diambilnya dan setelah itu ia pulang.
Sesampainya di depan rumah ia langsung masuk ke gudang di samping rumah yang ia jadikan tempat tinggal. Orang tuanya tak pernah keberatan karena yang mereka tau Glow melakukan eksperimen-eksperimen teknologi di gudang itu, bukan hal aneh untuk pelajar di zaman itu. Ia menghidupkan layar utama komputernya dan langsung membuka perangkat browsernya, ia membuka halaman kepolisian lokal serta membuka perangkat console terminal untuk menyiapkan exploit. tak butuh waktu lama untuknya meretas laman itu dan masuk kedalam database kepolisian. kemudian dia mengunggah foto di gadgetnya, memotong wajah mereka dan memasukkan mereka kedatabase kepolisian dengan “pemerkosaan dan perampokan” pada bagian tabel “crime”. Mereka satu sekolah denganya, jadi tak terlalu sulit mendapatkan nama mereka melalui database sekolah yang telah sejak lama diunduhnya dan ia buat replikanya. Ini bukan hal baru baginya, dia bisa saja memilih untuk melapor ke kepolisian dan bukan melakukan hal ini. Namun baginya itu merepotkan, Ia tak ingin namanya ada dalam daftar kepolisian baik sebagai penuduh atau tertuduh. Ia ingin hidupnya tetap terlihat normal, terlihat sebagai pecundang yang biasa saja. Kemampuan meretas nya pun ia sembunyikan bahkan dari orang terdekatnya sekalipun. Baginya kemampuan peretas sesungguhnya adalah ketika ia mampu bersembunyi secara rapi baik di dunia digital maupun dunia nyata. Sisa hari itu ia habiskan untuk membaca berita baik yang terlihat maupun tertutupi.
Keesokan harinya Glow memulai hari seperti biasanya. Bangun, mencuci muka, kemudian membuka gadget nya. Ia mencoba membuka berita lokal untuk memastikan orang-orang yang menghajarnya telah tertangkap. Sebenarnya ia tidak terlalu merasa perlu untuk mengeceknya karena belum pernah sekalipun ia gagal, namun tanpa alasan tertentu ia hanya ingin mengeceknya saja. Toh kasihan juga kalau hukuman mereka terlalu berat,pikirnya. matanya terbelalak ketika membuka laman koran lokal. Ia melihat apa yang tak pernah disangka-sangkanya. Keegoisan dan rasa agung atas dirinya runtuh seketika. ia telah gagal. Bukan hanya itu, yang membuat kakinya lemas adalah headline berita : “Perampokan Terjadi Lagi: Kini Wajah Pelaku Tertangkap Kamera” dengan gambar foto agak buram –khas rekaman cctv. Ia mengenali wajah itu, ia tatap berulang-ulang, tak salah lagi. Wajah itu adalah wajahnya. Tapi bagaimana bisa? bagaimana keadaan sebagai pemburu bisa berbalik menjadi terburu? ia tak mengerti. Dengung suara sirene mobil polisi terdengar mendekat. Kakinya semakin lemas, ia jatuh. ada perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya : rasa takut.
End of Phase One;
26 April 2016.

Muhammad Hanif, Pegiat KBI(Komunitas Bebal Independen).



0 komentar:

Posting Komentar

About Me

Foto Saya
Saya Muhammad Hanif , seorang mahasiswa yang sekedar ingin menuliskan perjalanan dan pemikiranya
Diberdayakan oleh Blogger.