Bob Dylan adalah seorang musisi folk amerika yang memulai karirnya di awal tahun 60’. Awalnya saya juga tidak pernah mendengar namanya. Pertama kali saya mengetahui namanya adalah ketika membaca biografi tentang Jobs yang disitu disebutkan bahwa salah satu musisi yang disukainya adalah Dylan. Sebenarnya biografi Jobs tersebut memberi pandangan baru saya tentang Jobs karena selama ini saya hanya mengenalnya melalui media yang meng-klaimnya sebagai seorang kapitalis sejati. Tapi tulisan ini tidak akan membahas tentang Jobs, mari kita kembali ke Dylan. Dari lirik dan jenis musiknya saya memasukan Dylan ke kategori yang sama dengan Iwan Fals kalau di negeri kita ini. Yah, walaupun untuk beberapa alasan saya lebih menyukai lagu Dylan --meski saya juga baru sedikit mengenalnya.
Dylan adalah orang yang skeptis hampir dalam segala hal: percintaan,pertemanan, sampai ke masalah pemerintahan. Ya, Dylan merupakan musisi yang sering mengkritik dunia dengan caranya meski juga banyak yang mengkritiknya saat dia merubah aliran nya dan menganggap lirik-liriknya mulai mengikuti arus mainstream pada tahun 70an. Lagu yang saya anggap menarik untuk diulas adalah lagu yang ia tulis pada awal karirnya di tahun 60an. Lagu yang pendek saja hanya sekitar 2 menit namun mengandung makna yang dalam. Lagu ini berjudul “Blowin’ In The Wind” pernyataan retoris yang ia ulang ulang dalam lagu tersebut. Oh ya dalam lagu ini ia menggunakan kata “man” dan bukan “human” untuk menggambarkan manusia. Ya tipikal amerika pada saat itu yang masih banyak konflik ras dan gender. Kalau dilihat, bahkan peribahasa peribahasa amerika banyak yang menggunakan kata “man” seperti pada ‘give a man a fish he’ll live for one day, teach a man how to fish he’ll live for the lifetime’
Lagu ini diawali dengan lirik:
How many roads must a man walk down
Before you call him a man?
(berapa banyak jalan yang harus manusia lewati
Sebelum kau memanggilnya seorang manusia?)
“Jalan” sering dimetaforakan sebagai pengalaman hidup yang dilalui manusia. Dylan seolah ingin bertanya: seberapa banyak atau pengalaman seperti apa saja yang harus manusia alami, seberapa lama seorang anak harus hidup. Sebelum seorang manusia atau anak itu kita anggap seorang manusia yang memiliki hak sama seperti manusia lainya.
“Jalan” sering dimetaforakan sebagai pengalaman hidup yang dilalui manusia. Dylan seolah ingin bertanya: seberapa banyak atau pengalaman seperti apa saja yang harus manusia alami, seberapa lama seorang anak harus hidup. Sebelum seorang manusia atau anak itu kita anggap seorang manusia yang memiliki hak sama seperti manusia lainya.
Pertanyaan berlanjut:
How many seas must a white dove sail
Before she sleeps in the sand?
(berapa banyak laut yang harus merpati arungi
Sebelum ia dapat tidur diatas pasir?)
Lagi, Dylan menggunakan metafora untuk kehidupan. Laut yang berhasil merpati arungi menggambarkan pencapaian-pencapaian. Seberapa banyak manusia ingin melakukan pencapaian-pencapaian sehingga akhirnya ia merasa cukup (berhenti). Disini ia mengkritik kaum pemodal Amerika dan negaranya itu sendiri yang seperti tak pernah merasa cukup dengan apa yang telah dicapainya.
Dilanjutkan dengan:
Yes, and how many times must the cannonballs fly
Before they're forever banned?
(Ya, Berapa banyak peluru yang harus ditembakkan
Sebelum akhirnya ia dilarang selamanya?)
Lagu ini dituliskan pada masa perang vietnam. Dimana saat itu banyak perang-perang di negara dunia ketiga. Dia membicarakan tentang perdamaian. Kapan kita bisa meletakkan senjata dan tercipta sebuah perdamaian tanpa ada lagi peluru yang ditembakkan?
Dan dijawab dengan:
The answer, my friend, is blowing in the wind
The answer is blowing in the wind
(Jawabanya berada dalam tiupan angin,kawan
Jawabanya berada dalam tiupan angin)
Disini Dylan juga merasa ia sendiri pun tak punya jawaban. Pertanyaan pertanyaan itu merupakan hal yang sering diperbincangkan dalam masyarakat Amerika atau bahkan dunia pada saat itu. Namun pun keadaan tak kunjung berubah (pada saat itu) sehingga disini ia menyatakan pernyataan yang retoris bahwa jawaban itu ada, namun kita tak pernah melihatnya. Pertanyaan pertanyaan yang ada pada tiap bait selalu diakhiri dengan jawaban ini.
Awal bait ke-2:
How many years can a mountain exist
Before it is washed to the sea?
(Seberapa lama gunung mampu menjulang
Sebelum akhirnya ia tersapu lautan?)
Kita tau banyak gunung-gunung pada masa lampau yang hancur, dan ada juga yang tenggelam tersapu oleh lautan. Gunung disini merupakan metafora dari kesombongan. Seberapa lama seorang manusia bisa bersikap angkuh, bisa bersikap sombong, hingga akhirnya ia hancur dengan sendirinya? Kira kira begitu pertanyaan yang ingin diluncurkan Dylan. Gunung juga bisa diibaratkan seseorang yang berkedudukan tinggi sedangkan lautan adalah seseorang yang berkedudukan rendah. Dan pertanyaan ini menggambarkan, seberapa lama seseorang yang berkedudukan tinggi bisa bertahan hingga akhirnya ia menjadi yang dibawah (tersapu oleh lautan). Saya membayangkan mungkin inspirasi Dylan adalah revolusi-revolusi di dunia yang banyak terjadi pada awal sampai pertengahan abad itu.
Dilanjutkan dengan pertanyaan:
Yes, and how many years can some people exist
Before they're allowed to be free?
(Ya, Seberapa lama sekelompok rakyat harus hidup
Sebelum akhirnya mereka diperbolehkan bebas?)
Akhirnya pada lirik ini Dylan menggunakan kata “some people” dan bukan lagi “man”. Dylan mengacu pada kelompok kelompok minoritas yang haknya banyak dihilangkan di Amerika pada saaat itu. Utamanya adalah kaum Negro yang haknya dibedakan dengan kaum kulit putih di Amerika pada saat itu. Disini dia menggunakan kata sekelompok orang dengan kesadaran bahwa dalam problema problema yang terjadi selalu ada sekelompok orang yang tertindas
Dilanjutkan:
Yes, and how many times can a man turn his head
And pretend that he just doesn't see?
(Ya, Seberapa lama seorang manusia memalingkan muka
Dan berpura-pura dia tidak melihatnya?)
Banyak, banyak sekali orang mengerti masalah-masalah yang dipresentasikan di lirik lirik sebelumnya. Namun sedikit sekali orang yang mau tau apalagi terlibat menyelesaikan masalah-masalah itu dan lebih banyak lagi manusia yang hanya berjalan dan memalingkan muka ketika melihat masalah-masalah itu terjadi.
Sekali lagi dijawab:
The answer, my friend, is blowing in the wind
The answer is blowing in the wind
Lalu lirik awal bait terakhir:
How many times must a man look up
Before he can see the sky?
(Seberapa banyak manusia musti melihat ke atas
Hingga akhirnya dia mampu melihat langit)
Kita kenal dengan ungkapan “The Sky is The Limit” yang cukup populer pada waktu itu atau bahkan sampai sekarang. Kalimat itu berarti “Hanya langitlah batas nya”. Agak mirip di bait awal disini Dylan mempertanyakan, kapan kita bisa melihat batas itu (yang dimetaforakan sebagai langit). Dimana langit yang kira kira disebut sebagai Limit?
Dilanjutkan dengan:
Yes, and how many ears must one man have
Before he can hear people cry?
(Berapa banyak telinga yang harus dimiliki manusia
Sebelum ia mampu mendengar tangisan rakyat?)
Tentu saja ini hanya pertanyaan retoris, karena toh manusia hanya mampu memiliki dua buah telinga. Namun yang dimaksud adalah ketika suara adalah frekuensi, mungkin Dylan menganggap suara-suara tangisan masyarakat seolah berada pada frekuensi yang tak mampu terdengar oleh manusia. Atau yang dimaksud mendengar disini adalah mendengar secara hakikat, tidak hanya suara yang terdengar namun mendengar dan juga merasakan.
Dan pertanyaan terakhir:
Yes, and how many deaths will it take till he knows
That too many people have died?
(Ya, Berapa banyak kematian yang musti dilihatnya sampai ia tau
Bahwa terlalu banyak rakyat yang mati?)
Disini ia mempertanyakan kemanusiaan manusia manusia pada saat itu. Berita berita tentang jumlah kematian dalam perang entah itu perang Vietnam atau perang manapun selalu tersiarkan. Ya, tidak mungkin pemangku pemerintahan tak mengerti tentang data itu. Namun meski begitu perang tak pernah berhenti, perang selalu ada dan jumlah korban pun terus bertambah.
Sekali lagi, ia tak tahu jawabanya:
The answer, my friend, is blowing in the wind
The answer is blowing in the wind.
Bagi saya lagu ini mengandung pesan kemanusiaan yang universal, meski ditulis dalam ruang dan waktu pada saat perang dingin dan di negara Amerika. Karena masalah masalah itu mirip dengan masalah yang ada di belahan dunia manapun : Tentang kemanusiaan, Tentang penindasan, Tentang persamaan hak. Lagu ini ditulis pada tahun 60an di Amerika, apakah relevan dengan yang terjadi di Indonesia sekarang ini? Apakah pertanyaan pertanyaan dalam lagu ini juga pantas untuk ditanyakan pada kita? Saya cuma bisa menjawab :
The answer, my friend, is blowing in the wind
The answer is blowing in the wind.
Woow..makasih bnyk ya gan atas pencerahan dari lirik lagu yg sangat sy suka ini..teruslah maju utk memberikan hal² positiv dan pengertian dari tiap² lirik lagu luar negeri..
BalasHapusSalam cinta dari semesta bernyanyi..terimakasih..🙏🙏
keren kak... semoga sukses selalu karirnya dan diberkahi setiap urusannya🙏
BalasHapus