Hanif's journey. you may not interested, but this is my live and my thought

Kamis, 07 April 2016


Gerakan mahasiswa adalah sebuah organisasi massa yang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memainkan peran sosialnya. Diantaranya adalah peran untuk membina masyarakat serta menjadi sebuah gerakan yang mampu melawan hegemoni pemerintah. Tugas ini menjadi semakin berat dewasa ini karena dibarengi dengan perkembangan masalah yang semakin kompleks. Permasalahan itu timbul baik dari internal ataupun eksternal gerakan. Dalam bahasan kali ini saya mencoba membatasi ruang bahasan pada melemahnya tradisi keilmuan dalam gerakan berbasis massa mahasiswa eksak.

Permasalahan eksternal diantaranya,Pertama adalah tuntutan perkuliahan yang semakin mengekang ruang-ruang berekspresi mahasiswa baik dari segi kuliah teori ataupun praktikum. Kedua menguatnya faham dikotomi dan spesialisasi yang terlalu ekstrem sehingga banyak mahasiswa menyempitkan ruang berfikir nya bahwa ia hanya ditugaskan untuk mempelajari materi-materi jurusan nya. Tidak ada masalah dalam spesialisasi, karena pada dasarnya ketika kelak bekerja, spesialisasi itu sangat dibutuhkan. Namun ketika pandangan spesialisasi itu menutup ruang-ruang dialektika dengan selain apa yang dipelajari di bangku perkuliahan itu menjadi dasar ter-reduksi nya nilai keilmuan dalam gerakan.

Ketiga adalah terkait arus saintisme yang begitu kuat. Saintisme adalah cara pandang dan paradigma yang meyakini bahwa batas-batas sains dapat dan harus diperluas kepada sesuatu yang sebelumnya tidak disebut sains dalam bagian dari sains. Inti dari cara pandang saintisme adalah bahwasanya semua bidang adalah merupakan objek kajian sains dan bahwasanya realitas harus didikte oleh sains yang kebenaranya didapat melalui metodologi-metodologi ilmiah.

Menurut Tom Sorel (dalam Humaidi:31) saintisme secara historis dibagi menjadi dua bagian: saintisme baru dan saintisme lama. Saintisme lama menekankan bahwa tidak hanya filsafat yang harus dibimbing oleh sains tetapi juga seluruh budaya. Sementara itu, saintisme baru merupakan reaksi terhadap mereka yang menulis filsafat untuk menolak sains dan kepada mereka yang terlalu tunduk pada persepsi umum dan intuisi pra saintifik. Saintisme ini juga merupakan reaksi terhadap mereka yang mendukung metafisika filsafat tradisional.

Saintisme berkembang pesat karena dua sebab. Pertama adalah perkembangan sains yang dalam beberapa periode perkembanganya sempat bertentangan dengan teks-teks agama. Misalnya pandangan tentang teori Heliosentris yang bertentangan dengan bible. Pada masa awal perkembangan teori ini yang dimotori oleh Copernicus maupun Galileo, saintis mendapat kekangan keras dari gereja sehingga mengakibatkan trauma dan menganggap agama menghambat perkembangan sains. Kedua adalah seiring berkembangnya ilmu-ilmu sains alam, para ilmuwan mengklaim mampu menjelaskan pertanyaan pertanyaan filosofis dan menganggap semua dapat dikaji secara ilmiah melalui sains. Seperti pertanyaan “Darimana kita berasal?” yang menurut ilmuwan telah dijawab oleh teori evolusi darwin dan pertanyaan “Siapa penggerak alam semesta?” yang dirasa telah terjawab seiring berkembangnya hukum gerak Newton dan teori mekanika kuantum.

Saintisme ini memiliki 2 ranah secara filosofis yaitu ranah academic-internal dan ranah academic-external. Ranah academic-internal adalah saintisme yang mendikte ranah dalam bidang pendidikan. Seperti penggunaan perhitungan matematis yang kini merebak hampir di pelbagai jurusan dan bidang keilmuan. Hasilnya adalah lahirnya cara pandang yang positivistik bahkan di ranah ranah keilmuan yang bersifat soshum(sosial-humaniora). Berikutnya adalah ranah academic-external yang bekerja diluar bidang-bidang pendidikan. Dalam hal ini saintisme bekerja untuk mempengaruhi nilai-nilai agama,moral,dan filsafat. Hasil dari penyebaran paradigma saintisme dalam ranah ini adalah munculnya banyak ilmuwan-ilmuwan yang menentang agama dan juga memandang moral melalui pendekatan-pendekatan sains.

Dari dua kategori tersebut Steinmark merinci lagi saintisme kadalam tiga bagian mendasar yaitu saintisme ontologis, saintisme epistemologis,saintisme aksiologis. saintisme ontologis adalah pandangan bahwasanya sains mampu menggantikan peran agama dan filsafat. Dalam pandangan ini sains dinilai satu-satunya hal yang mampu mengkaji alam dan tidak ada realitas di luar realitas yang dapat dikaji oleh sains. Kedua adalah saintisme epistemologis. Saintisme ini merupakan saintisme yang menganggap bahwa manusia mampu menentukan kebenaran kebenaran melalui metode yang saintifik atau bisa juga dibilang bahwa tidak ada kebenaran yang absah selain dari sains. Ketiga adalah saintisme aksiologis. Dalam hal ini menegaskan bahwa sains tidak hanya dapat menjelaskan moral secara utuh, tetapi ia juga dapat mengganti etika tradisional dan menjelaskan kepada masyarakt bagaimana seharusnya mereka bertingkah laku. Logika yang digunakan oleh saintisme ini adalah etika yang dapat direduksi dan diterjemahkan berdasar pada prinsip sains.

Paham saintisme ini telah masuk dalam ranah pendidikan kita dewasa ini. Baik secara langsung ataupun tidak langsung. Secara langsung adalah melalui kurikulum-kurikulum yang menghilangkan mata kuliah yang berhubungan dengan filsafat dan moral ataupun kalau ada, permasalahan tersebut dikaji secara ilmiah tanpa melibatkan aspek aspek moral dan filsafat itu sendiri. Secara tidak langsung adalah melalui transformasi pandangan dari dosen ketika dalam kelas ataupun ketika mengisi seminar diluar kelas. Dalam kelas misalnya adalah semisal mengatakan bahwasanya cukup dengan menguasai bidang ilmunya, mahasiswa mampu untuk sukses. Ataupun ketika di luar kelas seperti pada saat kelas Sekolah Insinyur Muda (SIM) misalnya. ketika pemtaeri ditanya bagaimana mengatasi problematika ketika ada permasalahan semisal pembebasan lahan ataupun masalah dengan masyarakat dalam proses pembangunan. Alih-alih menjawab tentang permasalahan itu secara moril, pemateri yang notabene-nya adalah seorang ahli dalam bidang pembangunan lebih menjawab secara teknis tentang cara menyelesaikanya dengan sedikit sekali melibatkan aspek moral.

Saintisme ini sudah banyak dibahas oleh cendekiawan-cendekiawan muslim era sekarang. Namun dalam konteks gerakan, menurut saya dampak dari saintisme ini bukan hanya pada terpisahnya ilmu dari agama. Namun terpisahnya ilmu dari ilmu-ilmu lainya karena sudah tidak dianggapnya sebuah kesatuan sumber. Kajian kajian keilmuan sains sekarang pun hanya kajian saintifik untuk membahas realitas. Itupun realitas yang diartikan sempit hanya sebatas materi-materi duniawi. Pada akhirnya ini berdampak pada pandangan mahasiswa yang kini kuliah di jurusan jurusan yang semakin terespesialisasi dan beragam sekarang ini. Tidak masalah sebenarnya dengan adanya spesialisasi, yang masalah adalah ketika ruang-ruang dialog menjadi tidak ada. Interkoneksi dan integrasi bukan berarti seorang mahasiswa eksakta harus mempelajari tentang praksis ilmu-ilmu lain seperti teknis ilmu kedokteran. Namun ruang interkoneksi lebih kepada ruang ruang yang bersifat epistemologis ketimbang aksiologis. Karena dalam ruang epistemologis inilah garis-garis interkoneksi bisa terlihat lebih jelas.

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

Foto Saya
Saya Muhammad Hanif , seorang mahasiswa yang sekedar ingin menuliskan perjalanan dan pemikiranya
Diberdayakan oleh Blogger.