Hanif's journey. you may not interested, but this is my live and my thought

Kamis, 21 April 2016

Bob Dylan adalah seorang musisi folk amerika yang memulai karirnya di awal tahun 60’. Awalnya saya juga tidak pernah mendengar namanya. Pertama kali saya mengetahui namanya adalah ketika membaca biografi tentang Jobs yang disitu disebutkan bahwa salah satu musisi yang disukainya adalah Dylan. Sebenarnya biografi Jobs tersebut memberi pandangan baru saya tentang Jobs karena selama ini saya hanya mengenalnya melalui media yang meng-klaimnya sebagai seorang kapitalis sejati. Tapi tulisan ini tidak akan membahas tentang Jobs, mari kita kembali ke Dylan. Dari lirik dan jenis musiknya saya memasukan Dylan ke kategori yang sama dengan Iwan Fals kalau di negeri kita ini. Yah, walaupun untuk beberapa alasan saya lebih menyukai lagu Dylan --meski saya juga baru sedikit mengenalnya.
Dylan adalah orang yang skeptis hampir dalam segala hal: percintaan,pertemanan, sampai ke masalah pemerintahan. Ya, Dylan merupakan musisi yang sering mengkritik dunia dengan caranya meski juga banyak yang mengkritiknya saat dia merubah aliran nya dan menganggap lirik-liriknya mulai mengikuti arus mainstream pada tahun 70an. Lagu yang saya anggap menarik untuk diulas adalah lagu yang ia tulis pada awal karirnya di tahun 60an. Lagu yang pendek saja hanya sekitar 2 menit namun mengandung makna yang dalam. Lagu ini berjudul “Blowin’ In The Wind” pernyataan retoris yang ia ulang ulang dalam lagu tersebut. Oh ya dalam lagu ini ia menggunakan kata “man” dan bukan “human” untuk menggambarkan manusia. Ya tipikal amerika pada saat itu yang masih banyak konflik ras dan gender. Kalau dilihat, bahkan peribahasa peribahasa amerika banyak yang menggunakan kata “man” seperti pada ‘give a man a fish he’ll live for one day, teach a man how to fish he’ll live for the lifetime’ 
Lagu ini diawali dengan lirik:
How many roads must a man walk down
Before you call him a man?
(berapa banyak jalan yang harus manusia lewati
Sebelum kau memanggilnya seorang manusia?)

“Jalan” sering dimetaforakan sebagai pengalaman hidup yang dilalui manusia. Dylan seolah ingin bertanya: seberapa banyak atau pengalaman seperti apa saja yang harus manusia alami, seberapa lama seorang anak harus hidup. Sebelum seorang manusia atau anak itu kita anggap seorang manusia yang memiliki hak sama seperti manusia lainya.
Pertanyaan berlanjut:
How many seas must a white dove sail
Before she sleeps in the sand?
(berapa banyak laut yang harus merpati arungi
Sebelum ia dapat tidur diatas pasir?)
Lagi, Dylan menggunakan metafora untuk kehidupan. Laut yang berhasil merpati arungi menggambarkan pencapaian-pencapaian. Seberapa banyak manusia ingin melakukan pencapaian-pencapaian sehingga akhirnya ia merasa cukup (berhenti). Disini ia mengkritik kaum pemodal Amerika dan negaranya itu sendiri yang seperti tak pernah merasa cukup dengan apa yang telah dicapainya.
Dilanjutkan dengan:
Yes, and how many times must the cannonballs fly
Before they're forever banned?
(Ya, Berapa banyak peluru yang harus ditembakkan
Sebelum akhirnya ia dilarang selamanya?)
Lagu ini dituliskan pada masa perang vietnam. Dimana saat itu banyak perang-perang di negara dunia ketiga. Dia membicarakan tentang perdamaian. Kapan kita bisa meletakkan senjata dan tercipta sebuah perdamaian tanpa ada lagi peluru yang ditembakkan?
Dan dijawab dengan:
The answer, my friend, is blowing in the wind
The answer is blowing in the wind
(Jawabanya berada dalam tiupan angin,kawan
Jawabanya berada dalam tiupan angin)
Disini Dylan juga merasa ia sendiri pun tak punya jawaban. Pertanyaan pertanyaan itu merupakan hal yang sering diperbincangkan dalam masyarakat Amerika atau bahkan dunia pada saat itu. Namun pun keadaan tak kunjung berubah (pada saat itu) sehingga disini ia menyatakan pernyataan yang retoris bahwa jawaban itu ada, namun kita tak pernah melihatnya. Pertanyaan pertanyaan yang ada pada tiap bait selalu diakhiri dengan jawaban ini.
Awal bait ke-2:
How many years can a mountain exist
Before it is washed to the sea?
(Seberapa lama gunung mampu menjulang
Sebelum akhirnya ia tersapu lautan?)
Kita tau banyak gunung-gunung pada masa lampau yang hancur, dan ada juga yang tenggelam tersapu oleh lautan. Gunung disini merupakan metafora dari kesombongan. Seberapa lama seorang manusia bisa bersikap angkuh, bisa bersikap sombong, hingga akhirnya ia hancur dengan sendirinya? Kira kira begitu pertanyaan yang ingin diluncurkan Dylan. Gunung juga bisa diibaratkan seseorang yang berkedudukan tinggi sedangkan lautan adalah seseorang yang berkedudukan rendah. Dan pertanyaan ini menggambarkan, seberapa lama seseorang yang berkedudukan tinggi bisa bertahan hingga akhirnya ia menjadi yang dibawah (tersapu oleh lautan). Saya membayangkan mungkin inspirasi Dylan adalah revolusi-revolusi di dunia yang banyak terjadi pada awal sampai pertengahan abad itu.
Dilanjutkan dengan pertanyaan:
Yes, and how many years can some people exist
Before they're allowed to be free?
(Ya, Seberapa lama sekelompok rakyat harus hidup
Sebelum akhirnya mereka diperbolehkan bebas?)
Akhirnya pada lirik ini Dylan menggunakan kata “some people” dan bukan lagi “man”. Dylan mengacu pada kelompok kelompok minoritas yang haknya banyak dihilangkan di Amerika pada saaat itu. Utamanya adalah kaum Negro yang haknya dibedakan dengan kaum kulit putih di Amerika pada saat itu. Disini dia menggunakan kata sekelompok orang dengan kesadaran bahwa dalam problema problema yang terjadi selalu ada sekelompok orang yang tertindas
Dilanjutkan:
Yes, and how many times can a man turn his head
And pretend that he just doesn't see?
(Ya, Seberapa lama seorang manusia memalingkan muka
Dan berpura-pura dia tidak melihatnya?)
Banyak, banyak sekali orang mengerti masalah-masalah yang dipresentasikan di lirik lirik sebelumnya. Namun sedikit sekali orang yang mau tau apalagi terlibat menyelesaikan masalah-masalah itu dan lebih banyak lagi manusia yang hanya berjalan dan memalingkan muka ketika melihat masalah-masalah itu terjadi.
Sekali lagi dijawab:
The answer, my friend, is blowing in the wind
The answer is blowing in the wind
Lalu lirik awal bait terakhir:
How many times must a man look up
Before he can see the sky?
(Seberapa banyak manusia musti melihat ke atas
Hingga akhirnya dia mampu melihat langit)
Kita kenal dengan ungkapan “The Sky is The Limit” yang cukup populer pada waktu itu atau bahkan sampai sekarang. Kalimat itu berarti “Hanya langitlah batas nya”. Agak mirip di bait awal disini Dylan mempertanyakan, kapan kita bisa melihat batas itu (yang dimetaforakan sebagai langit). Dimana langit yang kira kira disebut sebagai Limit?
Dilanjutkan dengan:
Yes, and how many ears must one man have
Before he can hear people cry?
(Berapa banyak telinga yang harus dimiliki manusia
Sebelum ia mampu mendengar tangisan rakyat?)
Tentu saja ini hanya pertanyaan retoris, karena toh manusia hanya mampu memiliki dua buah telinga. Namun yang dimaksud adalah ketika suara adalah frekuensi, mungkin Dylan menganggap suara-suara tangisan masyarakat seolah berada pada frekuensi yang tak mampu terdengar oleh manusia. Atau yang dimaksud mendengar disini adalah mendengar secara hakikat, tidak hanya suara yang terdengar namun mendengar dan juga merasakan.
Dan pertanyaan terakhir:
Yes, and how many deaths will it take till he knows
That too many people have died?
(Ya, Berapa banyak kematian yang musti dilihatnya sampai ia tau
Bahwa terlalu banyak rakyat yang mati?)
Disini ia mempertanyakan kemanusiaan manusia manusia pada saat itu. Berita berita tentang jumlah kematian dalam perang entah itu perang Vietnam atau perang manapun selalu tersiarkan. Ya, tidak mungkin pemangku pemerintahan tak mengerti tentang data itu. Namun meski begitu perang tak pernah berhenti, perang selalu ada dan jumlah korban pun terus bertambah.
Sekali lagi, ia tak tahu jawabanya:
The answer, my friend, is blowing in the wind
The answer is blowing in the wind.
Bagi saya lagu ini mengandung pesan kemanusiaan yang universal, meski ditulis dalam ruang dan waktu pada saat perang dingin dan di negara Amerika. Karena masalah masalah itu mirip dengan masalah yang ada di belahan dunia manapun : Tentang kemanusiaan, Tentang penindasan, Tentang persamaan hak. Lagu ini ditulis pada tahun 60an di Amerika, apakah relevan dengan yang terjadi di Indonesia sekarang ini? Apakah pertanyaan pertanyaan dalam lagu ini juga pantas untuk ditanyakan pada kita? Saya cuma bisa menjawab :
The answer, my friend, is blowing in the wind
The answer is blowing in the wind.

Kamis, 07 April 2016


Gerakan mahasiswa adalah sebuah organisasi massa yang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memainkan peran sosialnya. Diantaranya adalah peran untuk membina masyarakat serta menjadi sebuah gerakan yang mampu melawan hegemoni pemerintah. Tugas ini menjadi semakin berat dewasa ini karena dibarengi dengan perkembangan masalah yang semakin kompleks. Permasalahan itu timbul baik dari internal ataupun eksternal gerakan. Dalam bahasan kali ini saya mencoba membatasi ruang bahasan pada melemahnya tradisi keilmuan dalam gerakan berbasis massa mahasiswa eksak.

Permasalahan eksternal diantaranya,Pertama adalah tuntutan perkuliahan yang semakin mengekang ruang-ruang berekspresi mahasiswa baik dari segi kuliah teori ataupun praktikum. Kedua menguatnya faham dikotomi dan spesialisasi yang terlalu ekstrem sehingga banyak mahasiswa menyempitkan ruang berfikir nya bahwa ia hanya ditugaskan untuk mempelajari materi-materi jurusan nya. Tidak ada masalah dalam spesialisasi, karena pada dasarnya ketika kelak bekerja, spesialisasi itu sangat dibutuhkan. Namun ketika pandangan spesialisasi itu menutup ruang-ruang dialektika dengan selain apa yang dipelajari di bangku perkuliahan itu menjadi dasar ter-reduksi nya nilai keilmuan dalam gerakan.

Ketiga adalah terkait arus saintisme yang begitu kuat. Saintisme adalah cara pandang dan paradigma yang meyakini bahwa batas-batas sains dapat dan harus diperluas kepada sesuatu yang sebelumnya tidak disebut sains dalam bagian dari sains. Inti dari cara pandang saintisme adalah bahwasanya semua bidang adalah merupakan objek kajian sains dan bahwasanya realitas harus didikte oleh sains yang kebenaranya didapat melalui metodologi-metodologi ilmiah.

Menurut Tom Sorel (dalam Humaidi:31) saintisme secara historis dibagi menjadi dua bagian: saintisme baru dan saintisme lama. Saintisme lama menekankan bahwa tidak hanya filsafat yang harus dibimbing oleh sains tetapi juga seluruh budaya. Sementara itu, saintisme baru merupakan reaksi terhadap mereka yang menulis filsafat untuk menolak sains dan kepada mereka yang terlalu tunduk pada persepsi umum dan intuisi pra saintifik. Saintisme ini juga merupakan reaksi terhadap mereka yang mendukung metafisika filsafat tradisional.

Saintisme berkembang pesat karena dua sebab. Pertama adalah perkembangan sains yang dalam beberapa periode perkembanganya sempat bertentangan dengan teks-teks agama. Misalnya pandangan tentang teori Heliosentris yang bertentangan dengan bible. Pada masa awal perkembangan teori ini yang dimotori oleh Copernicus maupun Galileo, saintis mendapat kekangan keras dari gereja sehingga mengakibatkan trauma dan menganggap agama menghambat perkembangan sains. Kedua adalah seiring berkembangnya ilmu-ilmu sains alam, para ilmuwan mengklaim mampu menjelaskan pertanyaan pertanyaan filosofis dan menganggap semua dapat dikaji secara ilmiah melalui sains. Seperti pertanyaan “Darimana kita berasal?” yang menurut ilmuwan telah dijawab oleh teori evolusi darwin dan pertanyaan “Siapa penggerak alam semesta?” yang dirasa telah terjawab seiring berkembangnya hukum gerak Newton dan teori mekanika kuantum.

Saintisme ini memiliki 2 ranah secara filosofis yaitu ranah academic-internal dan ranah academic-external. Ranah academic-internal adalah saintisme yang mendikte ranah dalam bidang pendidikan. Seperti penggunaan perhitungan matematis yang kini merebak hampir di pelbagai jurusan dan bidang keilmuan. Hasilnya adalah lahirnya cara pandang yang positivistik bahkan di ranah ranah keilmuan yang bersifat soshum(sosial-humaniora). Berikutnya adalah ranah academic-external yang bekerja diluar bidang-bidang pendidikan. Dalam hal ini saintisme bekerja untuk mempengaruhi nilai-nilai agama,moral,dan filsafat. Hasil dari penyebaran paradigma saintisme dalam ranah ini adalah munculnya banyak ilmuwan-ilmuwan yang menentang agama dan juga memandang moral melalui pendekatan-pendekatan sains.

Dari dua kategori tersebut Steinmark merinci lagi saintisme kadalam tiga bagian mendasar yaitu saintisme ontologis, saintisme epistemologis,saintisme aksiologis. saintisme ontologis adalah pandangan bahwasanya sains mampu menggantikan peran agama dan filsafat. Dalam pandangan ini sains dinilai satu-satunya hal yang mampu mengkaji alam dan tidak ada realitas di luar realitas yang dapat dikaji oleh sains. Kedua adalah saintisme epistemologis. Saintisme ini merupakan saintisme yang menganggap bahwa manusia mampu menentukan kebenaran kebenaran melalui metode yang saintifik atau bisa juga dibilang bahwa tidak ada kebenaran yang absah selain dari sains. Ketiga adalah saintisme aksiologis. Dalam hal ini menegaskan bahwa sains tidak hanya dapat menjelaskan moral secara utuh, tetapi ia juga dapat mengganti etika tradisional dan menjelaskan kepada masyarakt bagaimana seharusnya mereka bertingkah laku. Logika yang digunakan oleh saintisme ini adalah etika yang dapat direduksi dan diterjemahkan berdasar pada prinsip sains.

Paham saintisme ini telah masuk dalam ranah pendidikan kita dewasa ini. Baik secara langsung ataupun tidak langsung. Secara langsung adalah melalui kurikulum-kurikulum yang menghilangkan mata kuliah yang berhubungan dengan filsafat dan moral ataupun kalau ada, permasalahan tersebut dikaji secara ilmiah tanpa melibatkan aspek aspek moral dan filsafat itu sendiri. Secara tidak langsung adalah melalui transformasi pandangan dari dosen ketika dalam kelas ataupun ketika mengisi seminar diluar kelas. Dalam kelas misalnya adalah semisal mengatakan bahwasanya cukup dengan menguasai bidang ilmunya, mahasiswa mampu untuk sukses. Ataupun ketika di luar kelas seperti pada saat kelas Sekolah Insinyur Muda (SIM) misalnya. ketika pemtaeri ditanya bagaimana mengatasi problematika ketika ada permasalahan semisal pembebasan lahan ataupun masalah dengan masyarakat dalam proses pembangunan. Alih-alih menjawab tentang permasalahan itu secara moril, pemateri yang notabene-nya adalah seorang ahli dalam bidang pembangunan lebih menjawab secara teknis tentang cara menyelesaikanya dengan sedikit sekali melibatkan aspek moral.

Saintisme ini sudah banyak dibahas oleh cendekiawan-cendekiawan muslim era sekarang. Namun dalam konteks gerakan, menurut saya dampak dari saintisme ini bukan hanya pada terpisahnya ilmu dari agama. Namun terpisahnya ilmu dari ilmu-ilmu lainya karena sudah tidak dianggapnya sebuah kesatuan sumber. Kajian kajian keilmuan sains sekarang pun hanya kajian saintifik untuk membahas realitas. Itupun realitas yang diartikan sempit hanya sebatas materi-materi duniawi. Pada akhirnya ini berdampak pada pandangan mahasiswa yang kini kuliah di jurusan jurusan yang semakin terespesialisasi dan beragam sekarang ini. Tidak masalah sebenarnya dengan adanya spesialisasi, yang masalah adalah ketika ruang-ruang dialog menjadi tidak ada. Interkoneksi dan integrasi bukan berarti seorang mahasiswa eksakta harus mempelajari tentang praksis ilmu-ilmu lain seperti teknis ilmu kedokteran. Namun ruang interkoneksi lebih kepada ruang ruang yang bersifat epistemologis ketimbang aksiologis. Karena dalam ruang epistemologis inilah garis-garis interkoneksi bisa terlihat lebih jelas.

Selasa, 29 Maret 2016


Rangkaian tulisan ini adalah tulisan ketika saya ingin berbicara tentang cinta. Saya bukan pujangga ataupun orang yang mampu menuliskan kata-kata indah. Setiap kali mencoba membuat puisi, hanya kata-kata kering yang takkan memikat hati layaknya puisi-puisi bapak Pablo Neruda. Kalau ada yang bilang cinta adalah hal abstrak yang dapat diekspresikan melalui apa saja, mungkin ini adalah cara saya mengekspreksikannya
Banyak sebab tulisan ini ditulis. Salah satunya mungkin adalah puncak kegalauan atas semua yang akhir akhir ini terjadi. Setiap manusia pasti butuh pelampiasan ketika dia sudah berada pada titik puncak kegalauanya, dalam hal apapun saya rasa begitu. Tapi pelampiasan tidak selalu sama dengan melakukan ataupun mengejar apa yang diinginkan. Karena sebenarnya tujuan dari pelampiasan adalah menghilangkan rasa ingin terhadap sesuatu tersebut. Dalam perspektif kebutuhan ekonomi, salah satu kolumnis koran yang cukup kenamaan pernah menulis dalam page facebooknya yang intinya: Ada dua cara untuk menghilangkan keinginan untuk membeli. Pertama dengan membeli barang tersebut atau yang kedua dengan mencoba berpikir rasional dan menghilangkan keinginan tersebut. 
Begitulah, tidak ada sebab yang panjang lebar mengapa saya menulis tulisan ini. Poin kedua yang ingin saya bahas pada bagian ini adalah terkait bias. Dalam salah satu tulisanya Ali Syariati pernah mengungkapkan bahwa akan selalu ada bias pengetahuan akan selalu ada dari sang penulis teori pengetahuan tersebut. Seperti bias keadaan sosial nya sekarang, keadaan sosial di masa lampau ataupun hal hal yang pernah terjadi padanya dan bias-bias lain seperti bias keberpihakan politik dan lainya.
Itu mungkin adalah bias-bias secara umum. Dalam diri saya pun ada bias pribadi seperti bagaimana saya dibesarkan, lingkungan sosial dan sejarah kehidupan saya sendiri. Saya bukan pribadi yang banyak bersinggungan masalah hal yang satu ini. Karena itu pandangan saya pun masih pandangan seorang observer atau pengamat saja yang belum benar mengenal lapangan. Jadi apa yang saya sampaikan mungkin tidak dan empiris dan mungkin saya mengambil kesimpulan kesimpulan yang terlalu cepat tentang hal ini.
Bagi saya, meski tulisan ini bukan sebuah teori, pun mungkin juga memiliki bias. Karena bagaimanapun, bagi saya ketika cinta sampai pada kehidupan manusia yang kemudian si manusia tersebut akan melakukan kegiatan bersosial atas dasar cinta tersebut, maka cinta memasuki ranah epistimologis yang penuh bias dahulu sebelum masuk ke ranah aksiologis (perancangan strategi dan taktik). 
Banyak penelitian yang pernah dilakukan dibarat sana, dari penelitian yang “sopan” sampai penelitian yang kalau dilakukan di negara kita tercinta Indonesia akan langsung diteriaki dan dilabeli liberal tentang apa yang menentukan seseorang jatuh cinta kepada manusia lain. Dari masalah “profil” sampai masalah kondisi psikologis. Penelitian yang cukup modern yang pernah dilakukan baru baru ini adalah menyebarkan 2 gambar, laki laki dan wanita, di salah satu media sosial lalu meminta orang dari seluruh dunia untuk mem-photoshop gambar tersebut sesuai konsepsi tentang “Seksi” di negara masing-masing.
Kadang saya juga sempat berpikir, ketika dalam obrolan “liar” di tempat nongkrong seringkali muncul pembicaraan masalah perempuan. Ada hal yang menarik bagi saya, yaitu bahwasanya semenarik apapun perempuan, ketika “modal” untuk mengakomodasi keinginan untuk “mendapatkan” cukup besar (bahkan sampai muncul istilah jual ginjal!), maka kadar kemenarikan itu akan berkurang cukup drastis dan hanya menjadi obrolan utopis dari jomblo idealis yang masih ingin realistis. mungkin kalau dalam perspektif marxisme yaitu struktur selalu mempengaruhi superstruktur dimana struktur adalah kondisi material dan superstruktur adalah budaya,ideologi,dan lainya, mungkin cinta adalah bagian superstruktur yang dipengaruhi kondisi material.
Ketika dalam perkembangan filsafat selalu ada benturan antara materialisme dan idealisme. Saya rasa dalam perkembangan konsepsi dunia tentang cinta pun begitu. Sekarang saya akan mencoba pembahasan tentang konsepsi cinta secara idealis. Bicara cinta terkadang orang berbicara tentang rasa keindahan yang (katanya) muncul saat jatuh cinta. Menurut Plato keindahan adalah sesuatu yang abstrak yang tidak membenda. Atau mungkin bisa juga dibilang sebuah ide murni. Mungkin seperti saat mendengar musik ataupun melihat sebuah lukisan dan kita merasakan keindahan. Lukisan ataupun lagu itu sendiri tidak bisa dibilang sebuah materi dari keindahan. Karena toh rasa keindahan yang dirasakan berbeda-beda.
Ini juga yang mungkin menjadi landasan kalimat masyhur bahwa “cinta itu buta”. Perkataan itu bagi saya mengandung sebuah makna filosofis. Buta adalah sebutan umum sebuah penyakit yang menjangkit mata yang membuat seseorang kehilangan kemampuanya untuk melihat. Mata adalah termasuk indra terpenting dalam menangkap sebuah materi. Bahkan menurut saya paling penting dari indra lain. Karena mata adalah indra penangkap yang mampu menghasilkan kebiasan terhadap indra lain. Seperti membiaskan indra perasa ketika melihat makanan dari bagaimana makanan itu disajikan ataupun indra peraba. Bagi saya orang yang seringkali mengandalkan indra untuk memperoleh pengetahuan akan sangat kesulitan jika kehilangan indra penglihatan nya.
Disinilah makna “cinta itu buta” terasa dahsyat dan idealis bagi saya. Yaitu bahwa ketika seperti pendapat awal saya bahwa cinta selalu memasuki ranah epistimologis atau pengetahuan. Dan bahwa alat untuk mendapat pengetahuan melalui indra telah dianggap hilang. Bagi sebagian orang materialis mungkin ini adalah bias terbesar, namun bagi seorang idealis mungkin ini adalah kemurnian tertinggi ketika pengetahuan melalui materi dinafikkan dan hanya rasa keindahan yang tak membenda itu lah yang penting.
Tidak sedikit manusia di dunia yang merasakan hal tersebut. Bahkan bagi sebagian hal tersebut terasa se-utopis mimpi sosialisme untuk masyarakat tanpa kelas. Meski bagi sebagian orang hal itu adalah hal utopis yang dibayangkan jomblo jomblo yang hanya terealisasi dalam tayangan tayangan ftv dan tidak mungkin terealisasi di dunia yang sangat materialistis dewasa ini. Namun, layaknya masih ada orang yang memperjuangkan sosialisme, masih muncul juga beberapa yang terlihat berprinsip idealis dalam cinta secara tulus. 
Begitulah pandangan saya sejauh ini sebagai seorang observer atau pengamat yang saya tuangkan dalam bagian pertama ini. Rangkaian tulisan ini hanyalah puncak kegalauan dari saya yang tak mampu mengejewantahkanya dalam puisi puisi dengan rangkaian kata yang indah dan bagian pertama ini ya hanyalah pandangan saya supaya kelak seorang yang menjadi inspirasi saya menuliskanya bisa melihat bias bias yang mungkin saja ada pada saya. Oh iya, bagian bagian selanjutnya sangat mungkin untuk tidak akan saya publikasikan. Hehe.
Sekian.

Sabtu, 19 Maret 2016

Wawancara singkat dengan pak Chriswantoro yang bertempat di pemba gkit listrik tenaga hybird (angin-panel surya) di pantai baru daerah pandansimo bantul

Pak Chriswantoro atau yang akrab disapa pak kris adalah praktisi dan peneliti energi terbarukan yang sudah memiliki banyak pengalaman. Beliau juga termasuk peneliti dari LAPAN.

Sejarah PLTH di pantai baru

Pada awalnya dulu saat PLTH belum ada, belum ada pula nama pantai baru. Di pandansimo memang ada 2 pantai, namun baru 1 yang cukup ramai. Dan di pantai tersebut dicoba menggunakan pembangkit listrik tenaga angin yang digunakan untuk penerangan masjid daerah dan daerah sekitarnya.
Ternyata setelah ada penerangan, daerah pantai tersebut menjadi cukup ramai dan masjidnya menjadi sering dikunjungi.
 Melihat fenomena tersebut, kepala desa dan warga di daerah pantai baru mengajukan kerjasama dengan pemerintah termasuk kementrian ESDM untuk mencoba membangun pembangkit listrik di daerah pantai baru.
Setelah disetujui, mulailah dibangun penelitian aplikatif PLTH angin dan panel surya di daerah tersebut.

Dampak pembangunan PLTH

Ternyata pembabgunan PLTH membawa dampak positif di masyarakat sekitar. Baik dampak sosial-ekonomi maupun dampak teknis. Karena memang daerah berpotensi, sumber energi yang dihasilkan mampu mencukupi kebutuhan listrik warga sekitar
Selain itu, banyak dampak sosial-ekonomi yang dirasakan masyarakat dengan berbagai kelas di daerah tersebut. Untuk nelayan sangat membantu, karena listrik yang dihasilkan mampu digunakan nelayan untiuk membuat es batu yng merupakan salah satu kebutuhan nelayan.
Selain itu, sumber energi yang dihasilkan mampu untuk menerangi daerah sekitar sehingga pantai tersebut pun semakin ramai dan diberi nama pantai baru.
Semakin ramai dan semakin berkembangnya daerah tersebut pun menarik wisatawan untuk berkunjung, sehingga dinas pariwisata dan warga sekitar pun diuntungkan. Warung warung pun makin banyak didirikan yang mana sumber listriknya terbantu oleh kehadiran PLTH di pantai baru. Hal ini membuktikan bahwa kehadiran PLTH sangat bermanfaat bagi daerah sekitarnya

Perkembangan PLTH pandansimo dan Energi Terbarukan di Indonesia

Tentu saja melakukan dan mengembangkan penelitian aplikatif tidak mudah dan mulus mulus saja. Diperlukan peran berbagai elemen seperti pemerintahpraktisi, peneliti, dan akademisi. Mengapa akademisi? Tugas utama akademisi adalah melakukan sosialisasi.
PLTH pun terbantu karena sempat ada mahasiswa KKN yang sempat aktif melakukan sosialisasi tentang energi terbarukan di daerah tersebut. Sehingga kesadaran masyarakat pun bisa mulai terbentuk.
Saya sempat berbincang juga tentang mengapa perkembangan energi terbarukan di Indonesia sering terhambat dengan pak kris. Saya bercerita tentang pengembangan Pembangkit listrik tenaga panas bumi yang gagal didirika di beberapa tempat potensial di Indonesia. Menurut pak kris, seringkali kesalahan adalah masalah sosialisasi dan masalah birokrasi pemerintah.
Sosialisasi adalah kurangnya penyadaran kepada masyarakat tentang manfaat energi terbarukan seperti akan tercapainya kemandirian energi di daerah tersebut.
Kesalahan kedua adalah dalam pelaksanaanya. Seharusnya hal seperti ini dikelola dan di kontrol oleh pemerintah melalui BUMN. Karena salah satu alasan adanya BUMN adalah untuk menjamin yang tercantum dalam pasal 33 UUD. Oleh karena Itu tidak pas ketika justru pihak swasta yang membangun dan mengelola energi terbarukan dn yang terpenting adalah support serta kontrol yang jelas dari pemerintah. PLTH pantai baru sendiri berada dibawah dinas SDA Bantul dan bekerjasama dengan LAPAN.

Sekianlah wawancara singkat saya dengan pak Chriswantoro. Ingin mengeksplorasi lebih jauh pemikiran pak Chriswantoro? Hadirlah dalam seminar "pembangunan dan energi yang berkelanjutan sebagai sarana perubahan sosial" yang akan diselenggarakan 5 April mendatang oleh IMM Teknik UMY. Pematerinya dari pemerintahan sampai praktisi. Kece pokoknya!

Senin, 07 Maret 2016

REFLEKSI PERAYAAN MILAD IMM

Dalam tulisan ini saya ingin berefleksi dan mungkin otokritik terhadap momen perayaan milad IMM AR.Fachruddin tahun ini. Mungkin tulisan ini akan mengesankan saya adalah orang yang tidak tertarik dan kurang berpartisipasi dalam event keolahragaan yang tersedia. Jika anda memiliki kesan seperti itu, maka.. Anda benar! Hehe. Juga, tulisan ini hanya perspektif subjektif saya, yang terpengaruh faktor psikologis-sosiologis saya. Jadi, sah-sah saja jika ada kawan yang berbeda pendapat karena toh, tidak ada sebuah pendapat yang tanpa bias kan? Bisa juga salah satu bias nya adalah bias komisariat dimana disini saya mengamati dari perspektif saya tentang apa yang terjadi di komisariat.

Mungkin sebagai permulaan, saya ingin mengapresiasi rangkaian acara yang diagendakan oleh panitia milad IMM AR.Fachruddin kali ini. Karena rangkaian acara dan perlombaan yang dilangsungkan menyentuh berbagai ranah yang mampu mengakomodir para jomblo progressif dengan berbagai bakat dan kesenanganya. Paling tidak ada momen pengalihan dari kenangan ketika melihat IMMawan/IMMawati kece beradu debat ataupun beradu badminton. Sungguh sumbangsih yang besar untuk mengembangkan dan membahagiakan kader-kader. Namun muncul pertanyaan dalam benak saya, adakah dalam momen perayaan ini sumbangsih untuk IMM AR.Fachruddin secara khusus dan IMM secara umum? Alhamdulillah masih ada sebenarnya, yaitu sayembara puisi dan karikatur yang semoga saja mampu menjadi angin segar untuk dunia sastra IMM AR.Fachruddin. Yang menjadi kegelisahan saya sebenarnya adalah bukan terkait acara yang diselenggarakan tetapi lebih ke response dari kader tentang acara apa yang lebih ter-blow up. Agak terkesan kali ini yang lebih menarik massa kader adalah acara perlombaan utamanya perlombaan olahraga. Memang ada juga perlombaan lain seperti debat yang cukup menarik massa. Namun seharusnya, dalam momen milad seperti ini yang seharusnya menjadi momen reflektif tentang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah utamanya dalam hal pemikiran dan gerakan, justru kurang maksimal di milad kali ini. Terlihat pada milad ini kesadaran akan perlunya pengembangan pemikiran dan gerakan dalam tubuh ikatan masih kurang. Semisal pada acara seperti diskusi menulis kreatif dan bedah buku yang sepi peminat. Padahal seharusnya pada acara-acara tersebutlah apa yang IMM butuhkan sekarang dihadirkan.

Ketika dulu pernah ada kritik terkait perlombaan-perlombaan yang diselenggarakan yang cenderung bersifat senang-senang. mungkin sekarang masih sama hanya saja berubah bentuknya selain memang animo kader yang lebih meminati hal-hal tersebut karena sebenarnya acara yang diselenggarakan di milad kali ini sudah beragam.

Momen milad sebuah gerakan mahasiswa layaknya digunakan untuk merefleksi apa yang sudah ada untuk merancang dan mempersiapkan masa depan. Pertanyaanya, apakah dari lomba-lomba yang animo nya cukup besar tahun ini itu mampu menciptakan momen reflektif ataupun mampu menjadi fondasi gerakan IMM AR.Fachruddin di masa yang akan datang? Mungkin masih kurang tepat juga ketika saya menuliskan ini sekarang. Karena toh, masih ada beberapa acara sampai puncak milad besok yang gak kalah kece dan membangun. Seperti stadium general perkaderan yang akan diadakan tanggal 13 Maret besok.

Besar harapan saya forum-forum yang masih ada tersebut bisa diramaikan untuk menciptakan momen reflektif dalam perayaan milad kali ini. Salam.

About Me

Foto Saya
Saya Muhammad Hanif , seorang mahasiswa yang sekedar ingin menuliskan perjalanan dan pemikiranya
Diberdayakan oleh Blogger.