Hanif's journey. you may not interested, but this is my live and my thought

Tampilkan postingan dengan label journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label journey. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juni 2016

Entahlah kenapa tiba-tiba saya ingin menulis sebuah tulisan yang bersifat curhatan. Yah tulisan ini mungkin bermula dari sebuah refleksi tentang diri saya sendiri dan perubahan-perubahan yang telah saya alami dimulai dari ketika awal saya berangkat merantau hingga hari ini. Yah, walaupun biasanya sih orang berefleksi akan rantau nya ketika sudah akan pulang dan kehilangan status mahasiswanya(red: wisuda)  sedangkan saya sendiri.. ya kayaknya sih jarak waktu hari ini ke waktu momen itu masih jauh. Banyak hal-hal yang "saya versi SMA" tidak akan menyangka bahwa saya  berubah menjadi seperti sekarang ini.

Saya pun tidak pernah menyangka, saya yang dulu sekedar orang yang suka bermain-main dan tidak pernah mau mendapat tanggung jawab apapun bisa berorganisasi di kampus sampai hari ini. Saya tidak pernah suka hal-hal yang merepotkan, dan jujur saja, harus bersosialisasi dengan orang lain bagi saya adalah hal yang merepotkan. Saya tidak terlalu sering berbicara saat SMA, apalagi berbicara didepan umum, ah hal yang merepotkan, mending main game atau ngoprek program to. Saya pun tidak pernah benar-benar terlibat dalam organisasi waktu SMA dulu, hanya satu, itu pun organisasi atau ekstrakulikuler yang tidak memerlukan saya untuk banyak bersosialisas. ya mungkin bahasa keren nya makhluk asusial eh asosial. 

ketika saya di kampus bisa berorganisasi, bahkan sampai masuk kedalam struktur pimpinan nya dan kadang dapet peran yang mengharuskan banyak aktivitas aktivitas bersosialisasi sejenis mengobrol dengan orang tak dikenal, tentu saya tak punya gambaran itu di hari keberangkatan saya merantau.

Meski, sampai hari ini pun sebenarnya saya merasa kesulitan untuk benar-benar bersosial. kalau yang dimaksud bersosial adalah mengobrolkan kehidupan sehari-hari dan sejenisnya. jujur saja saya tidak pernah engage dalam obrolan obrolan seperti itu, ya mungkin baru akhir akhir ini saja ketika sudah benar-benar dekat dengan beberapa makhluk aneh di lingkungan organisasi saya saya bisa engage dalam obrolan. ya sebenernya dari dulu gitu sih, dari SMA masalah obrolan ya bisa bener enak cuma sama yang udah kenal lama. yah walaupun sampai sekarang, dalam diri saya kepribadian asusial itu masih bersemayam dan terkadang saya ingin benar benar sendiri. merubah kepribadian memang tidak semudah itu.

Terkadang, ketika kepribadian lama itu sedang mendominasi diri, saya merasa semua ini cuma mimpi dan beberapa kali ingin kembali ke pola kehidupan yang lama. Disaat-saat seperti itu (dan mungkin seperti ini) pula kadang saya berpikir Tuhan memang suka bercanda. lah gimana tidak, dulu saya mendaftar di organisasi di detik-detik terakhir. kalau tidak salah batas waktu hari itu jam 5, saya datang satu dua menit sebelum jam 5. itupun saya lupa kalau waktu itu mengumpul formulir dan gak sengaja ketemu temen yang juga mendaftar pas lagi cari makan. 

kalau waktu itu telat datang, kalau saja lantai dasar masjid kampus waktu itu telah kosong, kalau saja senior-senior saya wes merasa jumlah kader nya udah cukup dan pergi duluan, yo jelas saya tidak akan sampai ke fase saya sekarang. yah memang rencana Tuhan itu kadang dilakukan secara aneh-aneh dan diluar nalar, kaya bangsa mongol yang gagal melanjutkan ekspansinya di Eropa karena tau2 fase iklim berubah. lah mung gara-gara suhu sebuah bangsa penakluk menemui titik baliknya!

Secara minat sebenarnya tidak pernah ada yang berubah sedikitpun dari minat saya, ya dari dulu minat saya itu-itu tok, gak jauh dari masalah komputer. Tapi memang ada yang berubah dari visi saya dan apa yang saya cari. kalau dulu sekedar merasa bisa memprogram itu keren. Gimana gak keren, dengan memprogram saya tau kalau ternyata komputer itu gobloknya gak ketulungan. komputer tanpa program-program itu hanya onggokan sampah, tidak bisa menyelesaikan apapun. dan ada orang orang yang (sebagian) baik hati yang menciptakan program program untuk menyelesaikan masalah, walau sekedar masalah universal. 

Ya iya, program program yang secara default ada di komputer kita ataupun tersebar itu kan yang diselesaikan masalah universal kaya program office, penyetel musik, website yang membantu jomblo menemukan pasanganya, dsb. nah tapi poin-nya adalah komputer bisa menyelesaikan masalah dan dengan bisa memprogram saya bisa menyelesaikan masalah yang mengganggu saya pribadi. misal waktu itu, pengen baca komik secara offline tapi kalau harus buka halaman nya satu satu kan ribet, jadi saya bikin program untuk bulk download komik langsung satu chapter, satu volume, bahkan pernah iseng saya kembangin supaya bisa itu komik yang ada di itu website saya download dengan hanya satu tombol. kadang juga menyelesaikan masalah temporer semisal, pernah iseng main console di web browser biar bisa otomatis centang semua kuisioner di KRS, yo males to mau KRS an harus ngisi kuisioner.

Terkadang memang susah sih untuk fokus mengembangkan minat, berorganisasi, dan kuliah. ya apalagi karena apa yang saya minati tidak terlalu berhubungan dengan akademik saya walaupun dalam beberapa aspek ada yang beririsan. Tapi minat itu, meski seringkali saya lupakan sejenak tidak pernah benar hilang, justru ketambahan. Apalagi setelah saya mengerti dan memahami filosofi open source yang tidak akan saya jelaskan disini karena nanti terlalu bersemangat dan OOT jauh. saya jadi mengerti bahwa dalam segala bidang selalu ada orang yang pragmatis tapi juga selalu ada orang yang idealis. Saya mengerti bahwa sebenarnya memprogram juga melibatkan unsur (meski kecil) filsafat atau filosofi. bahkan, konon pada saat perang dingin amerika soviet, pengembang pengembang open source di cap kumunis, pendukung soviet, dll. ya jelas, wong orang orang itu menganggap program komputer itu tidak baik untuk ditutup dan dikomersilkan, yo panas to pengembang2 kapitalis layaknya Microsoft dan Apple. 

di awal mengenal filosofi open source itu saya langsung menggali lebih dalam tentang sejarah dan filosofi, walhasil, niatan niatan saya yang mulai berubah dari yang pas sma sekedar suka, awal masuk kuliah mulai orientasi profit, sekarang ya harapan saya bisa menciptakan sesuatu yang bermanfaat, dan tentu saja Open Source. Dan sebenernya hal ini pun saling terkait dengan minat saya terhadap buku-buku yang mulai saya baca saat masuk kuliah organisasi. walaupun tetap saja, sampai detik ini saya masih jarang membaca buku dan kalau emang ada waktu kosong lebih sering ngoprek.

Yah kiranya begitulah, perkembangan orang memang tidak pernah ada yang bisa menduga, bahkan diri sendiri sekalipun. meski sebenarnya bagi saya kepribadian takkan pernah bisa benar benar berubah. Terkadang saya merasa bersyukur, tapi terkadang pula saya merasa tertekan dan merasa ini hanya mimpi serta memikirkan Alternate Route yang akan terjadi andai saja kehidupan saya berjalan lurus saja dan tidak mengalami perubahan atau memilih untuk berubah.

Selasa, 29 Maret 2016


Rangkaian tulisan ini adalah tulisan ketika saya ingin berbicara tentang cinta. Saya bukan pujangga ataupun orang yang mampu menuliskan kata-kata indah. Setiap kali mencoba membuat puisi, hanya kata-kata kering yang takkan memikat hati layaknya puisi-puisi bapak Pablo Neruda. Kalau ada yang bilang cinta adalah hal abstrak yang dapat diekspresikan melalui apa saja, mungkin ini adalah cara saya mengekspreksikannya
Banyak sebab tulisan ini ditulis. Salah satunya mungkin adalah puncak kegalauan atas semua yang akhir akhir ini terjadi. Setiap manusia pasti butuh pelampiasan ketika dia sudah berada pada titik puncak kegalauanya, dalam hal apapun saya rasa begitu. Tapi pelampiasan tidak selalu sama dengan melakukan ataupun mengejar apa yang diinginkan. Karena sebenarnya tujuan dari pelampiasan adalah menghilangkan rasa ingin terhadap sesuatu tersebut. Dalam perspektif kebutuhan ekonomi, salah satu kolumnis koran yang cukup kenamaan pernah menulis dalam page facebooknya yang intinya: Ada dua cara untuk menghilangkan keinginan untuk membeli. Pertama dengan membeli barang tersebut atau yang kedua dengan mencoba berpikir rasional dan menghilangkan keinginan tersebut. 
Begitulah, tidak ada sebab yang panjang lebar mengapa saya menulis tulisan ini. Poin kedua yang ingin saya bahas pada bagian ini adalah terkait bias. Dalam salah satu tulisanya Ali Syariati pernah mengungkapkan bahwa akan selalu ada bias pengetahuan akan selalu ada dari sang penulis teori pengetahuan tersebut. Seperti bias keadaan sosial nya sekarang, keadaan sosial di masa lampau ataupun hal hal yang pernah terjadi padanya dan bias-bias lain seperti bias keberpihakan politik dan lainya.
Itu mungkin adalah bias-bias secara umum. Dalam diri saya pun ada bias pribadi seperti bagaimana saya dibesarkan, lingkungan sosial dan sejarah kehidupan saya sendiri. Saya bukan pribadi yang banyak bersinggungan masalah hal yang satu ini. Karena itu pandangan saya pun masih pandangan seorang observer atau pengamat saja yang belum benar mengenal lapangan. Jadi apa yang saya sampaikan mungkin tidak dan empiris dan mungkin saya mengambil kesimpulan kesimpulan yang terlalu cepat tentang hal ini.
Bagi saya, meski tulisan ini bukan sebuah teori, pun mungkin juga memiliki bias. Karena bagaimanapun, bagi saya ketika cinta sampai pada kehidupan manusia yang kemudian si manusia tersebut akan melakukan kegiatan bersosial atas dasar cinta tersebut, maka cinta memasuki ranah epistimologis yang penuh bias dahulu sebelum masuk ke ranah aksiologis (perancangan strategi dan taktik). 
Banyak penelitian yang pernah dilakukan dibarat sana, dari penelitian yang “sopan” sampai penelitian yang kalau dilakukan di negara kita tercinta Indonesia akan langsung diteriaki dan dilabeli liberal tentang apa yang menentukan seseorang jatuh cinta kepada manusia lain. Dari masalah “profil” sampai masalah kondisi psikologis. Penelitian yang cukup modern yang pernah dilakukan baru baru ini adalah menyebarkan 2 gambar, laki laki dan wanita, di salah satu media sosial lalu meminta orang dari seluruh dunia untuk mem-photoshop gambar tersebut sesuai konsepsi tentang “Seksi” di negara masing-masing.
Kadang saya juga sempat berpikir, ketika dalam obrolan “liar” di tempat nongkrong seringkali muncul pembicaraan masalah perempuan. Ada hal yang menarik bagi saya, yaitu bahwasanya semenarik apapun perempuan, ketika “modal” untuk mengakomodasi keinginan untuk “mendapatkan” cukup besar (bahkan sampai muncul istilah jual ginjal!), maka kadar kemenarikan itu akan berkurang cukup drastis dan hanya menjadi obrolan utopis dari jomblo idealis yang masih ingin realistis. mungkin kalau dalam perspektif marxisme yaitu struktur selalu mempengaruhi superstruktur dimana struktur adalah kondisi material dan superstruktur adalah budaya,ideologi,dan lainya, mungkin cinta adalah bagian superstruktur yang dipengaruhi kondisi material.
Ketika dalam perkembangan filsafat selalu ada benturan antara materialisme dan idealisme. Saya rasa dalam perkembangan konsepsi dunia tentang cinta pun begitu. Sekarang saya akan mencoba pembahasan tentang konsepsi cinta secara idealis. Bicara cinta terkadang orang berbicara tentang rasa keindahan yang (katanya) muncul saat jatuh cinta. Menurut Plato keindahan adalah sesuatu yang abstrak yang tidak membenda. Atau mungkin bisa juga dibilang sebuah ide murni. Mungkin seperti saat mendengar musik ataupun melihat sebuah lukisan dan kita merasakan keindahan. Lukisan ataupun lagu itu sendiri tidak bisa dibilang sebuah materi dari keindahan. Karena toh rasa keindahan yang dirasakan berbeda-beda.
Ini juga yang mungkin menjadi landasan kalimat masyhur bahwa “cinta itu buta”. Perkataan itu bagi saya mengandung sebuah makna filosofis. Buta adalah sebutan umum sebuah penyakit yang menjangkit mata yang membuat seseorang kehilangan kemampuanya untuk melihat. Mata adalah termasuk indra terpenting dalam menangkap sebuah materi. Bahkan menurut saya paling penting dari indra lain. Karena mata adalah indra penangkap yang mampu menghasilkan kebiasan terhadap indra lain. Seperti membiaskan indra perasa ketika melihat makanan dari bagaimana makanan itu disajikan ataupun indra peraba. Bagi saya orang yang seringkali mengandalkan indra untuk memperoleh pengetahuan akan sangat kesulitan jika kehilangan indra penglihatan nya.
Disinilah makna “cinta itu buta” terasa dahsyat dan idealis bagi saya. Yaitu bahwa ketika seperti pendapat awal saya bahwa cinta selalu memasuki ranah epistimologis atau pengetahuan. Dan bahwa alat untuk mendapat pengetahuan melalui indra telah dianggap hilang. Bagi sebagian orang materialis mungkin ini adalah bias terbesar, namun bagi seorang idealis mungkin ini adalah kemurnian tertinggi ketika pengetahuan melalui materi dinafikkan dan hanya rasa keindahan yang tak membenda itu lah yang penting.
Tidak sedikit manusia di dunia yang merasakan hal tersebut. Bahkan bagi sebagian hal tersebut terasa se-utopis mimpi sosialisme untuk masyarakat tanpa kelas. Meski bagi sebagian orang hal itu adalah hal utopis yang dibayangkan jomblo jomblo yang hanya terealisasi dalam tayangan tayangan ftv dan tidak mungkin terealisasi di dunia yang sangat materialistis dewasa ini. Namun, layaknya masih ada orang yang memperjuangkan sosialisme, masih muncul juga beberapa yang terlihat berprinsip idealis dalam cinta secara tulus. 
Begitulah pandangan saya sejauh ini sebagai seorang observer atau pengamat yang saya tuangkan dalam bagian pertama ini. Rangkaian tulisan ini hanyalah puncak kegalauan dari saya yang tak mampu mengejewantahkanya dalam puisi puisi dengan rangkaian kata yang indah dan bagian pertama ini ya hanyalah pandangan saya supaya kelak seorang yang menjadi inspirasi saya menuliskanya bisa melihat bias bias yang mungkin saja ada pada saya. Oh iya, bagian bagian selanjutnya sangat mungkin untuk tidak akan saya publikasikan. Hehe.
Sekian.

Minggu, 04 Oktober 2015

, ,

Insinyur dan Sastra (?)

“Kau boleh jadi pintar setinggi langit, memperoleh gelar sarjana sebanyaknya, namun tanpa mencintai sastra kau hanyalah hewan yang pintar” .

begitu kiranya kutipan yang ada di buku Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia. Malam sampai dengan pagi yang lalu juga sempat diadakan diskusi terkait sastra yang dipantik oleh Immawan Barra Patih Raja atau mas Patra yang pernah menjadi Ketua Umum IMM Cabang AR Fakhrudin periode 2005/2006 beliau juga mengutip hal serupa dari Pramoedya.

Sesaat aku terbingung, menggali makna sastra, bukan secara luas namun secara spesifik apa makna sastra untuk mahasiswa eksakta khususnya teknik sepertiku. Sepertinya Aku terjangkit penyakit pendikotomian —mengkotak-kotak kan sesuatu. Mungkin konsepsi Huntington tentang globalisasi bahwasanya semakin mengglobal seseorang maka semakin dia ingin menonjolkan identitas dirinya juga berlaku dalam lingkup kecil. Aku yang menanamkan pemikiran pemikiran bahwasanya aku harus menggapai semua ilmu dan bukan teknik saja berakhir dengan pencarian jati diri untuk apa aku mempelajari ilmu selain teknik tersebut dengan posisiku sebagai mahasiswa teknik. Ah kalau ini kuperpanjang kita bisa berbelok bahasan, mari kita fokuskan lingkupnya terkait sastra saja dahulu. Ketika aku coba cari mengapa tertanam pikiran seperti itu adalah bahwasanya aku tidak pernah melihat barang seorang insinyur berbicara tentang sastra —mungkin juga aku yang masih kurang referensi.

Aku tahu sangat mudah kalian memprotesku dengan membawa nama seperti Soekarno, atau mungkin Sudjiwo Tedjo yang keduanya pernah mengenyam pendidikan di sekolah keteknikan. Tapi yang ingin kubicarakan adalah seorang insinyur yang benar insinyur dalam arti mempraktekan ilmunya untuk menjadi professional —katakanlah seorang kontraktor. Itulah yang membuatku mempertanyakan kembali. Tapi entahlah, untuk sekarang yang perlu kulakukan mungkin hanyalah terus dan terus mencari.

,

Arus Hedonisme

Hedonisme/he·do·nis·me/ /hédonisme/ n pandangan yg menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sbg tujuan utama dl hidup

Dewasa ini, banyak sekali masyarakat yang secara sadar maupun tidak sadar menganut pandangan hidup ini. Salah satu tokoh filsafat hedonisme, Epikuros (342 SM - 270 SM) pernah berkata “Apa yang baik adalah segala sesuatu yang mendatangkan kenikmatan, dan apa yang buruk adalah segala sesuatu yang menghasilkan ketidaknikmatan” . Pandangan tersebut kerap berkembang dan bermetamorfosis bentuknya hingga sekarang.

Sangat disayangkan masyarakat yang saya sebutkan diatas termasuk juga didalamnya adalah mahasiswa, yang sering digembor-gemborkan sebagai Agent of Change , pembawa perubahan. Ini terlihat dari organisasi kampus maupun gerakan mahasiswa yang mulai kehilangan arah. Organisasi kampus (katakanlah BEM) dan gerakan mahasiswa adalah cermin dari dinamika mahasiswa. Ketika BEM dan Gerakan Mahasiswa yang diharapkan menjadi garda depan pergerakan mahasiswa dan melawan arus hedonisme justru terjebak dalam hedonisme, maka hilang sudah status Agent of Change pada mahasiswa.

Saya sering dengar alasan, “Ah udahlah organisasi itu buat seneng seneng aja sih, kan kuliah udah susah”. Disinilah mengapa saya menyebut BEM dan gerakan mahasiswa sudah ikut terjebak dalam hedonisme. Dampaknya adalah pada hilangnya keberpihakan dalam apa yang mereka bawa dan perjuangkan. Masihkah gerakan mahasiswa berpihak pada rakyat? Masihkah BEM menjadi penggerak dalam perubahan layaknya dulu mereka pada tahun ‘65 dan ‘98? Ketika yang keduanya tawarkan hanya event-event pemenuhan hasrat maupun sesuatu yang mereka sebut sebagai “Pengembangan Diri” saya berani katakan keduanya telah kehilangan arah.

Ah jangankan kita bicara pembenahan keluar (masyarakat,birokrasi kampus,pemerintah). Pembenahan kedalam pun rasa-rasanya mulai jarang dilakukan. Mungkin ini yang menjadi penyebab apa yang mereka tawarkan sekedar event-event belaka dan berubah dari penggerak menjadi sekedar Event Organizer. Cermin-nya adalah pada saat evaluasi evaluasi, saya lihat yang menjadi standar kesuksesan adalah antusiasme dan kepuasan objek (dalam hal ini biasanya mahasiswa) bukan seberapa besar “nilai yang dibawa” telah diserap oleh objek. Katakanlah ketika membawa nilai kemasyarakatan, saya ragu pada saat evaluasi ada yang mempertanyakan apakah sudah ada perubahan , apakah mahasiswa berhasil dirubah dari yang apatis terhadap masyarakat menjadi yang respons terhadap isu dalam masyarakat. Bukankah standar tersebut sangat jelas merupakan standar Event Organizer?

Lagi, jangankan kita bicara pembenahan dalam praksis (seperti apa yang dievaluasikan, apa yang diagendakan,etc). Lebih jarang lagi pembenahan tentang pemahaman akan identitas organisasi yang disandang.Alih-alih bicara sejarahnya, sekedar bicara seperti apa kultur gerakan, seperti apa bentuk Eksekutif saja hampir saya pastikan mulai jarang hal tersebut diperbincangkan. Terjadinya pemikiran pemikiran yang sekedar mementingkan status-quo , mandek nya regenerasi , bahkan Pengkulturan apa yang tidak pantas dikulturkan, adalah buktinya.

, ,

Gersang

Kaulah nyala dalam petang
Kaulah subur dalam gersang
Ya, hadirmu membawa petang
Kau kegelapan yang gersang tunggu

Gelapmu ,sadarkanya 
Bahwa ada cahya diatas cahya
Cahya yang tak sebongkah mata mampu rasa
Cahya yang menjadi alasan diatas alasan

Hadirmu membuatnya sadar
Cerah tak berati bahagia tuk tiap jiwa
Ada jiwa yang merindu gelap tuk selimutinya
Termasuk jiwanya, yang menunggu tetes kebahagiaan

Ia tahu mungkin kau hanya numpang
Mungkin kau hanya datang kini 
Dan tak kan kembali tuk sewindu atau bahkan berwindu lagi

Ia pun sadar
Mungkin gelapmu murni
Mungkin tak ada alasan ataupun cahya lain menyertaimu
Namun apalah arti sadar dan tahu
Ketika segala datang dari yang maha tahu

Minggu, 16 November 2014

, ,

Hampa

Maaf
Kepada rindu yang tergesa
Kepada cinta yang mungkin duniawi
Aku tlah mencoba tuk tak setia pada diam
Namun rindu berpaling muka

Kini tinggal aku diam menatap
Keindahan bulan dari bumiku
Dan hanya mampu menatap
Aku ingin kau turun ke bumi
Biar kunikmati keindahanmu sendiri

Kutahu mungkin aku tergesa
Tapi mengapa kau bersembunyi dibalik awan?
Seolah tak kau izinkan aku menatapmu

Dan kini tinggal aku diam menatap
Menatap sebuah langit kosong
Bersama sesal dan kehampaan
Menunggu sang waktu hapuskan awan

Sabtu, 15 November 2014

Mungkin judul tulisan ini sedikit offense untuk beberapa gelintir orang. bahkan mungkin isi dari tulisan yang kawan baca ini nantinya juga "menyerang" kawan-kawan, saya mohon maaf.

mungkin kawan-kawan sering dengar ketika ada orang mempertanyakan hal yang berkaitan dengan tauhid atau ketuhanan, pertanyaan itu dijawab dengan sekedar "ah sudah, jangan mikir kesitu-situ, nanti sesat" atau sejenisnya. pada beberapa waktu lalu saya sempat berdiskusi di komisariat imm teknik yang isi diskusinya kurang lebih tentang tauhid. disitu sempat dibahas pula, bagaimana manusia bisa bertuhan.
Pada dasarnya, agama dan tuhan tidak akan pernah "mati" atau akan selalu ada di tiap-tiap individu. jika manusia kesusahan, maka ia akan mencari manusia lain untuk membantu, dan jika tidak ia temukan, maka dia akan mencari sesuatu yang dapat membantunya, tidak ada manusia yang benar benar tahan untuk sendiri. belum lagi perkara harapan, harapan manusia yang begitu banyaknya, pasti pada suatu titik dia sangat ingin suatu harapan terkabul dan dia akan mencari zat yang mampu mewujudkanya. kesimpulanya, jika rasa cemas dan rasa harap masih eksis di dunia ini, maka agama juga akan tetap eksis.
maka dari itu, sejak zaman dulu munculah kepercayaan-kepercayaan dan agama. di indonesia misalnya, muncul pemujaan terhadap roh nenek moyang. di belahan dunia lain, muncul kepercayaan akan dewa-dewa. namun, kepercayaan kepercayaan itu kian pudar ketika orang-orang mulai berfilsafat. filsafat yang sangat rasionalis jelas menolak bahwa hujan turun karena thor mengamuk di asgard. jika penguasa alam memiliki perasaan, maka dunia tidak akan pernah memiliki keteraturan.
ketika kepercayaan kepercayaan non-rasional itu mulai hilang, munculah agama agama langit yang sering kita sebut agama samawi. termasuk islam. lalu, bagaimana dengan islam? apakah kita boleh merasionalkan Tuhan? . mungkin beberapa akan mengatakan gila kepada orang yang mencoba merasionalkan tuhan. tapi bukankah justru semakin sulit mempercayai sesuatu tanpa menggunakan indra ditambah tidak juga menggunakan akal?
mengapa banyak orang mengharamkan filsafat? kalau sebenarnya filsafat adalah salah satu cara untuk bisa benar-benar bertauhid. bukan tauhid yang sekedar karena orang tua, paksaan lingkungan, dan sejenisnya. apalagi, banyak ayat dalam alquran yang menyebutkan kata "bagi orang yang berfikir". bukankah berfikir yang dimaksud disini untuk merasionalkan?.
menurut saya tidak perlu ada pengharaman atau perendahan atas filsafat. asal dibarengi dengan keimanan. karena tidak semua orang bisa benar benar beriman hanya berdasar pada keturunan atau sekedar rasa takut (misalnya sholat 5 waktu dengan alasan takut masuk neraka). jadi lebih baik mana, orang yang sholat karena takut masuk neraka atau orang yang sholat karena dia benar-benar percaya Allah itu ada dan satu-satunya?
kadar "kerasionalan Tuhan" juga berbeda-beda untuk tiap orang. bagi saya misalnya, menurut saya segala sesuatu bisa terjadi karena ada pengatur yang benar-benar maha. yang mana pengatur itu tidak mungkin sama seperti yang diatur (memiliki otoritas mutlak)  dan juga memberikan kebebasan bertindak pada yang diatur ( karena banyak keberagaman keyakinan, keberagaman pilihan tindakan).
Banyak argumen dari barat yang menyatakan bahwasanya "Tuhan" adalah "Hukum Alam" seperti gravitasi, hukum archimedes, hukum kekelan energi, dan hukum hukum lain yang sudah ditemukan. tapi diatas itu, bisakah mereka menjawab siapa yang membuat hukum-hukum tersebut?. ibarat dunia ini adalah komputer, siapa yang memprogram program bernama "Hukum Alam" tersebut?
tidak mungkin komputer bisa menuliskan sendiri programnya.

About Me

Foto Saya
Saya Muhammad Hanif , seorang mahasiswa yang sekedar ingin menuliskan perjalanan dan pemikiranya
Diberdayakan oleh Blogger.

Categories