Hanif's journey. you may not interested, but this is my live and my thought

Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Maret 2016


Rangkaian tulisan ini adalah tulisan ketika saya ingin berbicara tentang cinta. Saya bukan pujangga ataupun orang yang mampu menuliskan kata-kata indah. Setiap kali mencoba membuat puisi, hanya kata-kata kering yang takkan memikat hati layaknya puisi-puisi bapak Pablo Neruda. Kalau ada yang bilang cinta adalah hal abstrak yang dapat diekspresikan melalui apa saja, mungkin ini adalah cara saya mengekspreksikannya
Banyak sebab tulisan ini ditulis. Salah satunya mungkin adalah puncak kegalauan atas semua yang akhir akhir ini terjadi. Setiap manusia pasti butuh pelampiasan ketika dia sudah berada pada titik puncak kegalauanya, dalam hal apapun saya rasa begitu. Tapi pelampiasan tidak selalu sama dengan melakukan ataupun mengejar apa yang diinginkan. Karena sebenarnya tujuan dari pelampiasan adalah menghilangkan rasa ingin terhadap sesuatu tersebut. Dalam perspektif kebutuhan ekonomi, salah satu kolumnis koran yang cukup kenamaan pernah menulis dalam page facebooknya yang intinya: Ada dua cara untuk menghilangkan keinginan untuk membeli. Pertama dengan membeli barang tersebut atau yang kedua dengan mencoba berpikir rasional dan menghilangkan keinginan tersebut. 
Begitulah, tidak ada sebab yang panjang lebar mengapa saya menulis tulisan ini. Poin kedua yang ingin saya bahas pada bagian ini adalah terkait bias. Dalam salah satu tulisanya Ali Syariati pernah mengungkapkan bahwa akan selalu ada bias pengetahuan akan selalu ada dari sang penulis teori pengetahuan tersebut. Seperti bias keadaan sosial nya sekarang, keadaan sosial di masa lampau ataupun hal hal yang pernah terjadi padanya dan bias-bias lain seperti bias keberpihakan politik dan lainya.
Itu mungkin adalah bias-bias secara umum. Dalam diri saya pun ada bias pribadi seperti bagaimana saya dibesarkan, lingkungan sosial dan sejarah kehidupan saya sendiri. Saya bukan pribadi yang banyak bersinggungan masalah hal yang satu ini. Karena itu pandangan saya pun masih pandangan seorang observer atau pengamat saja yang belum benar mengenal lapangan. Jadi apa yang saya sampaikan mungkin tidak dan empiris dan mungkin saya mengambil kesimpulan kesimpulan yang terlalu cepat tentang hal ini.
Bagi saya, meski tulisan ini bukan sebuah teori, pun mungkin juga memiliki bias. Karena bagaimanapun, bagi saya ketika cinta sampai pada kehidupan manusia yang kemudian si manusia tersebut akan melakukan kegiatan bersosial atas dasar cinta tersebut, maka cinta memasuki ranah epistimologis yang penuh bias dahulu sebelum masuk ke ranah aksiologis (perancangan strategi dan taktik). 
Banyak penelitian yang pernah dilakukan dibarat sana, dari penelitian yang “sopan” sampai penelitian yang kalau dilakukan di negara kita tercinta Indonesia akan langsung diteriaki dan dilabeli liberal tentang apa yang menentukan seseorang jatuh cinta kepada manusia lain. Dari masalah “profil” sampai masalah kondisi psikologis. Penelitian yang cukup modern yang pernah dilakukan baru baru ini adalah menyebarkan 2 gambar, laki laki dan wanita, di salah satu media sosial lalu meminta orang dari seluruh dunia untuk mem-photoshop gambar tersebut sesuai konsepsi tentang “Seksi” di negara masing-masing.
Kadang saya juga sempat berpikir, ketika dalam obrolan “liar” di tempat nongkrong seringkali muncul pembicaraan masalah perempuan. Ada hal yang menarik bagi saya, yaitu bahwasanya semenarik apapun perempuan, ketika “modal” untuk mengakomodasi keinginan untuk “mendapatkan” cukup besar (bahkan sampai muncul istilah jual ginjal!), maka kadar kemenarikan itu akan berkurang cukup drastis dan hanya menjadi obrolan utopis dari jomblo idealis yang masih ingin realistis. mungkin kalau dalam perspektif marxisme yaitu struktur selalu mempengaruhi superstruktur dimana struktur adalah kondisi material dan superstruktur adalah budaya,ideologi,dan lainya, mungkin cinta adalah bagian superstruktur yang dipengaruhi kondisi material.
Ketika dalam perkembangan filsafat selalu ada benturan antara materialisme dan idealisme. Saya rasa dalam perkembangan konsepsi dunia tentang cinta pun begitu. Sekarang saya akan mencoba pembahasan tentang konsepsi cinta secara idealis. Bicara cinta terkadang orang berbicara tentang rasa keindahan yang (katanya) muncul saat jatuh cinta. Menurut Plato keindahan adalah sesuatu yang abstrak yang tidak membenda. Atau mungkin bisa juga dibilang sebuah ide murni. Mungkin seperti saat mendengar musik ataupun melihat sebuah lukisan dan kita merasakan keindahan. Lukisan ataupun lagu itu sendiri tidak bisa dibilang sebuah materi dari keindahan. Karena toh rasa keindahan yang dirasakan berbeda-beda.
Ini juga yang mungkin menjadi landasan kalimat masyhur bahwa “cinta itu buta”. Perkataan itu bagi saya mengandung sebuah makna filosofis. Buta adalah sebutan umum sebuah penyakit yang menjangkit mata yang membuat seseorang kehilangan kemampuanya untuk melihat. Mata adalah termasuk indra terpenting dalam menangkap sebuah materi. Bahkan menurut saya paling penting dari indra lain. Karena mata adalah indra penangkap yang mampu menghasilkan kebiasan terhadap indra lain. Seperti membiaskan indra perasa ketika melihat makanan dari bagaimana makanan itu disajikan ataupun indra peraba. Bagi saya orang yang seringkali mengandalkan indra untuk memperoleh pengetahuan akan sangat kesulitan jika kehilangan indra penglihatan nya.
Disinilah makna “cinta itu buta” terasa dahsyat dan idealis bagi saya. Yaitu bahwa ketika seperti pendapat awal saya bahwa cinta selalu memasuki ranah epistimologis atau pengetahuan. Dan bahwa alat untuk mendapat pengetahuan melalui indra telah dianggap hilang. Bagi sebagian orang materialis mungkin ini adalah bias terbesar, namun bagi seorang idealis mungkin ini adalah kemurnian tertinggi ketika pengetahuan melalui materi dinafikkan dan hanya rasa keindahan yang tak membenda itu lah yang penting.
Tidak sedikit manusia di dunia yang merasakan hal tersebut. Bahkan bagi sebagian hal tersebut terasa se-utopis mimpi sosialisme untuk masyarakat tanpa kelas. Meski bagi sebagian orang hal itu adalah hal utopis yang dibayangkan jomblo jomblo yang hanya terealisasi dalam tayangan tayangan ftv dan tidak mungkin terealisasi di dunia yang sangat materialistis dewasa ini. Namun, layaknya masih ada orang yang memperjuangkan sosialisme, masih muncul juga beberapa yang terlihat berprinsip idealis dalam cinta secara tulus. 
Begitulah pandangan saya sejauh ini sebagai seorang observer atau pengamat yang saya tuangkan dalam bagian pertama ini. Rangkaian tulisan ini hanyalah puncak kegalauan dari saya yang tak mampu mengejewantahkanya dalam puisi puisi dengan rangkaian kata yang indah dan bagian pertama ini ya hanyalah pandangan saya supaya kelak seorang yang menjadi inspirasi saya menuliskanya bisa melihat bias bias yang mungkin saja ada pada saya. Oh iya, bagian bagian selanjutnya sangat mungkin untuk tidak akan saya publikasikan. Hehe.
Sekian.

Sabtu, 15 November 2014

Mungkin judul tulisan ini sedikit offense untuk beberapa gelintir orang. bahkan mungkin isi dari tulisan yang kawan baca ini nantinya juga "menyerang" kawan-kawan, saya mohon maaf.

mungkin kawan-kawan sering dengar ketika ada orang mempertanyakan hal yang berkaitan dengan tauhid atau ketuhanan, pertanyaan itu dijawab dengan sekedar "ah sudah, jangan mikir kesitu-situ, nanti sesat" atau sejenisnya. pada beberapa waktu lalu saya sempat berdiskusi di komisariat imm teknik yang isi diskusinya kurang lebih tentang tauhid. disitu sempat dibahas pula, bagaimana manusia bisa bertuhan.
Pada dasarnya, agama dan tuhan tidak akan pernah "mati" atau akan selalu ada di tiap-tiap individu. jika manusia kesusahan, maka ia akan mencari manusia lain untuk membantu, dan jika tidak ia temukan, maka dia akan mencari sesuatu yang dapat membantunya, tidak ada manusia yang benar benar tahan untuk sendiri. belum lagi perkara harapan, harapan manusia yang begitu banyaknya, pasti pada suatu titik dia sangat ingin suatu harapan terkabul dan dia akan mencari zat yang mampu mewujudkanya. kesimpulanya, jika rasa cemas dan rasa harap masih eksis di dunia ini, maka agama juga akan tetap eksis.
maka dari itu, sejak zaman dulu munculah kepercayaan-kepercayaan dan agama. di indonesia misalnya, muncul pemujaan terhadap roh nenek moyang. di belahan dunia lain, muncul kepercayaan akan dewa-dewa. namun, kepercayaan kepercayaan itu kian pudar ketika orang-orang mulai berfilsafat. filsafat yang sangat rasionalis jelas menolak bahwa hujan turun karena thor mengamuk di asgard. jika penguasa alam memiliki perasaan, maka dunia tidak akan pernah memiliki keteraturan.
ketika kepercayaan kepercayaan non-rasional itu mulai hilang, munculah agama agama langit yang sering kita sebut agama samawi. termasuk islam. lalu, bagaimana dengan islam? apakah kita boleh merasionalkan Tuhan? . mungkin beberapa akan mengatakan gila kepada orang yang mencoba merasionalkan tuhan. tapi bukankah justru semakin sulit mempercayai sesuatu tanpa menggunakan indra ditambah tidak juga menggunakan akal?
mengapa banyak orang mengharamkan filsafat? kalau sebenarnya filsafat adalah salah satu cara untuk bisa benar-benar bertauhid. bukan tauhid yang sekedar karena orang tua, paksaan lingkungan, dan sejenisnya. apalagi, banyak ayat dalam alquran yang menyebutkan kata "bagi orang yang berfikir". bukankah berfikir yang dimaksud disini untuk merasionalkan?.
menurut saya tidak perlu ada pengharaman atau perendahan atas filsafat. asal dibarengi dengan keimanan. karena tidak semua orang bisa benar benar beriman hanya berdasar pada keturunan atau sekedar rasa takut (misalnya sholat 5 waktu dengan alasan takut masuk neraka). jadi lebih baik mana, orang yang sholat karena takut masuk neraka atau orang yang sholat karena dia benar-benar percaya Allah itu ada dan satu-satunya?
kadar "kerasionalan Tuhan" juga berbeda-beda untuk tiap orang. bagi saya misalnya, menurut saya segala sesuatu bisa terjadi karena ada pengatur yang benar-benar maha. yang mana pengatur itu tidak mungkin sama seperti yang diatur (memiliki otoritas mutlak)  dan juga memberikan kebebasan bertindak pada yang diatur ( karena banyak keberagaman keyakinan, keberagaman pilihan tindakan).
Banyak argumen dari barat yang menyatakan bahwasanya "Tuhan" adalah "Hukum Alam" seperti gravitasi, hukum archimedes, hukum kekelan energi, dan hukum hukum lain yang sudah ditemukan. tapi diatas itu, bisakah mereka menjawab siapa yang membuat hukum-hukum tersebut?. ibarat dunia ini adalah komputer, siapa yang memprogram program bernama "Hukum Alam" tersebut?
tidak mungkin komputer bisa menuliskan sendiri programnya.

About Me

Foto Saya
Saya Muhammad Hanif , seorang mahasiswa yang sekedar ingin menuliskan perjalanan dan pemikiranya
Diberdayakan oleh Blogger.

Categories