Hanif's journey. you may not interested, but this is my live and my thought

Tampilkan postingan dengan label pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemikiran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 April 2016

Program “Genocide”;
Begin Phase One : Destiny;


Afterglow adalah seorang pemuda yang hidup di tahun 2098. Tak ada banyak yang bisa diceritakan tentangnya. Dari luar ia tampak biasa saja –atau mencoba terlihat biasa saja. Ia lahir dari keluarga yang biasa saja. Ayahnya seorang insinyur pengoprasi mesin di salah satu pabrik chip komputer ternama. Tak ada yang bisa dibanggakan darinya itu kecuali masa mudanya yang mengenyam pendidikan di jurusan teknologi nano di Universitas Starfer yang terkenal itu. Profesi ayahnya pun, meski menyandang title Insinyur bukan sesuatu yang istimewa, Pekerjaan-nya tak ubahnya buruh-buruh pada pabrik-pabrik lainya. Pabrik chip komputer kenamaan itu, dengan teknologi produksinya kian canggih mempekerjakan lulusan-lulusan insinyur karena dua alasan: Pertama, karena terlalu merepotkan mempekerjakan orang yang tak paham dengan teknologi nano –tentu merepotkan mengadakan pelatihan,pencegahan human error,dsb– dan kedua, karena toh terlalu banyak manusia lulusan engineering yang menganggur dan mau saja bekerja dengan upah sedikit lebih tinggi dari buruh umumnya. Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga, juga tak ada yang spesial darinya.
Dia lahir tahun 2081 di Wrench City. Bersamaan dengan berhasilnya para teknokrat menciptakan One World Government –dunia dengan satu pemerintahan. Ya, meski sampai tahun 2098 satu dunia yang dimaksud barulah negara negara adidaya dan belum benar-benar satu dunia. di era ini manusia mengalami krisis eksistensi. Perkembangan teknologi digital membuat mereka mempertanyakan perbedaan berbicara dengan bertatap muka dengan berbicara melalui gadgetnya yang mampu menampilkan gambaran hologram lawan bicaranya yang juga mampu menghasilkan suara –apa bedanya manusia asli diseberang dengan dirinya yang berwujud hologram, ketika hologram itu juga adalah representasi nyata manusia diseberang. atau bahkan manusia mempertanyakan kembali definisi “bertatap muka” itu. bagi mereka ruang bukanlah ruang materi dimana wujud-wujud membenda. ruang bersifat abstrak dan sempit dimana jarak bisa secara nyata ditiadakan–bukan lagi “dianggap” tak ada.
Nano technology adalah sebuah term yang sedang booming di era ini. sebuah term untuk teknologi yang memanfaatkan rekayasa atom untuk merekayasa alat di level ukuran nanometer atau sepersemilliar meter. Penemuan ini menciptakan lompatan dahsyat pada perkembangan teknologi. Banyak penelitian untuk menciptakan teknologi-teknologi yang mampu disematkan pada tubuh hewan atau bahkan manusia. Hal-hal yang dulu hanya dimungkinkan dalam kisah-kisah di novel science-fiction kini bukan sekedar fiksi belaka. Namun semua penemuan adalah pedang bermata dua. Layaknya teori Einstein yang mampu digunakan dalam reaktor nuklir sekaligus juga sebagai teori dasar pembuatan bom atom. Sama, semua penemuan adalah sama. Penemuan hanyalah pintu menuju era baru, tempat bagi sifat-sifat manusia untuk menemukan wujudnya yang baru. Sifat itu tak pernah berubah, kejahatan dan kebaikan telah ada sejak manusia diciptakan. Teknologi nano pun tak lepas dari garis takdir teknologi itu, Ia mampu digunakan sebagai penyembuh kanker dan mampu pula digunakan sebagai pembunuh paling efektif yang takkan meninggalkan jejak.
Glow bersekolah di sekolah pemerintah tak jauh dari rumahnya. Sekolahnya hanyalah sebuah komplek yang tak terlalu besar. tiga bangunan berjejer berukuran sedang yang dijadikan ruang kelas dan satu bangunan megah untuk segala keperluan lain dengan lapangan di tengah keempat bangunan tadi. Keadaan sekolahnya yang memakan ruang tak terlalu besar itu bukan karena ia bersekolah di sekolah yang kekurangan dana. Rata-rata sekolah di era ini memang dibuat tak terlalu memakan lahan. Urusan disekolah telah dibuat sedemikian efektifnya. Misalnya saja ruang kelas, ruang kelas itu dibagi sesuai tingkatan dan murid hanya berpindah ruang ketika naik tingkat. ruang kelas itu hanya berisi kursi yang berdempet dan satu buah layar berukuran besar di depan nya serta sederet ornamen berupa kamera perekam di langit-langit kelas. Guru mengajar melalui perlengkapan mengajar dari ruang ruangnya di bangunan utama. Interaksi belajar-mengajar berjalan sebagaimana layaknya, guru menerangkan, sesekali murid menyanggah ataupun bertanya semua dilakukan melalui perantara layar besar di depan kelas. Ujian pun berlangsung dengan suasana yang sama, soal muncul di layar bangku-bangku. tak perlu ada yang membagikan kertas-kertas ujian –kertas memang sudah usang dan jarang digunakan– pun pengawas ujian, tak diperlukan keberadaanya, kamera kamera dalam ruang itu bukan hanya sekedar ornamen. kamera itu merekam gerak-gerik murid dan dilengkapi chip yang diprogram untuk menangkap gerak mencurigakan yang akan langsung dikirim ke pusat data dan diproses –secara otomatis- untuk kemudian menganulir nilai yang diperoleh murid itu dalam ujian, secara otomatis pula. sesederhana itu proses pengawasan dan juga penilaian. murid pun patuh, karena mereka tau yang mereka hadapi adalah mesin yang tak akan mungkin bersimpati ataupun bisa mereka ajak kompromi.
Ia tak terlalu berminat pada pelajaran, baginya pelajaran hanya bualan belaka dan guru-guru hanyalah pencontek teori-teori yang menceritakanya layaknya dongeng-dongeng. dan layaknya dongeng pula, penyampaian itu hanya membuat sebagian besar murid terpesona atas kisah yang menarik namun sulit dipahami ataupun terninabobokan dari pahitnya realitas. Ia habiskan waktu pelajaran untuk membaca buku-buku ataupun berita melalui layar di meja yang telah lama ia retas. tak ada yang mencurigainya karena ia memilih bangku di ujung belakang. Baginya ilmu yang disampaikan oleh guru-guru adalah ilmu yang telah tereduksi menjadi sekedar kemampuan-kemampuan praktis yang tak ada artinya. kurikulum hanyalah menciptakan dinding-dinding untuk membatasi apa yang perlu dipelajari. baginya dunia adalah layaknya gurun sahara dengan tiap butiran pasir adalah keping-keping ilmu. dan dinding-dinding kurikulum membatasi penglihatan serta membatasi ilmu mana yang boleh diambil.
Wrench, kota tempatnya tinggal dihuni oleh dua kelas masyarakat. masyarakat kelas menengah yang tinggal di dekat pusat kota yang dicirikan rumah-rumah berbentuk dome dengan panel-panel surya sebagai komponen utama dome. ciri masyarakat ini adalah masyarakat yang mengandalkan teknologi. mereka tak pernah keluar dari rumah kecuali untuk keperluan bekerja ataupun sekolah. segala urusan lain seperti berbelanja mereka lakukan tanpa keluar dari rumahnya. Mereka disebut paralyzy people oleh kaum menengah bawah. dan dipinggiran kota berjejer rumah rumah kumuh ataupun rumah yang dibangun dengan bata dan semen yang seringkali disebut rumah tradisional dengan pasar yang juga disebut tradisional di beberapa titik area tersebut. mereka disebut slumpy people oleh kaum paralyzy. satu hal yang mungkin baik –ataupun tidak juga– dari kota ini adalah digratiskannya pendidikan (sekolah). syarat untuk bersekolah hanyalah mampu lulus tes, tidak ada syarat-syarat pembayaran. semua ini dimungkinkan dari perkembangan era digital yang menyebabkan murid tak perlu lagi membeli buku-buku pelajaran. gadget dan peralatan komputer pun sudah bukan merupakan barang mewah namun barang yang bisa dengan mudah dimiliki siapa saja.
layaknya keadaan kota, keadaan sekolah pun tak jauh berbeda. Murid di sekolah itu terbagi menjadi dua kubu yang seringkali bermusuhan. Anak-anak dari kelas paralyzy maupun kelas slumpy. Memang tak pernah terjadi kerusuhan dalam kelas yang seperti penjara itu. kericuhan seringkali terjadi di luar area sekolah. Seperti hari itu, keributan terjadi di depan sekolah karena perdebatan antara Chris dan Andy. Mereka berdebat terkait penangkapan demonstran yang baru-baru ini berdemo di depan Congressman Hall. “Kalian cuma bisa berdemo, kalau kalian iri dengan kehidupan kami, bukankah kalian tinggal bekerja sebaiknya supaya generasi setelah kalian bisa hidup seperti kami?” celetuk Chris. “Masalahnya bukan bekerja atau tidaknya kami, masalahnya adalah sistem yang kalian buat. Lagipula, bagaimana orang-orang tua kami bisa bekerja ketika ruang ruang bekerja telah kalian tutup? mereka adalah manusia manusia yang tersisihkan zaman yang terlambat untuk mempelajari hal-hal baru” “Lalu apa? kalian hanya mampu mengeluh tanpa mau memperbaiki diri sendiri”. Perdebatan tak kunjung berhenti, dari hanya antara Andy dan Chris perdebatan itu meluas menyeret kawan mereka yang disitu atau kebetulan lewat. Ya, mereka hanya berani sampai perdebatan, merka tidak berani membuat kericuhan –paling tidak tidak di dekat sekolah itu. Glow melewati kerumunan yang berdebat itu. Ia tak tertarik untuk mengikuti salah satu pihak. Ia hanya ingin hidupnya damai dan terlihat normal.
Glow sadar bahwa sebenarnya memiliki kehidupan damai itu nyaris tak mungkin. Manusia di era ini dituntut untuk berpihak dalam arti yang terlalu fanatik, membenarkan segala yang dilakukan kaumnya. Ditambah manusia-manusia era ini yang memiliki label hampir untuk tiap jenis manusia seperti: pro-pemberontak,pemberontak,separatis,pengkhianat,pelacur intelektual,anti-revolusi,dsb. Hal ini menyusahkan baginya, Ia tak mau berpihak, Ia mau hidup dengan cara dan pandang nya sendiri. Hal menyusahkan berikutnya adalah bahwa manusia memperlakukan manusia lain berdasarkan label yang tersemat. Seperti hari ini, ketika orang-orang yang tempo hari berdebat dengan kaum paralyzy menghadangnya. “Penghianat” “dasar manusia anti-revolusi, tak peduli pada kaum sendiri” sergah mereka sebelum akhirnya menghajar Glow. Ia tak melawan –paling tidak untuk sekarang. Ia mengerti kalaupun melawan ia takkan menang. Bukan berati ia takkan melawan, dia punya caranya sendiri untuk melawan dengan otot tubuhnya yang kecil. dia punya apa yang tak lawannya punya. Setelah orang-orang yang memukulinya pergi ia mengeluarkan gadgetnya, ia tersenyum melihat foto mereka yang secara diam-diam sempat diambilnya dan setelah itu ia pulang.
Sesampainya di depan rumah ia langsung masuk ke gudang di samping rumah yang ia jadikan tempat tinggal. Orang tuanya tak pernah keberatan karena yang mereka tau Glow melakukan eksperimen-eksperimen teknologi di gudang itu, bukan hal aneh untuk pelajar di zaman itu. Ia menghidupkan layar utama komputernya dan langsung membuka perangkat browsernya, ia membuka halaman kepolisian lokal serta membuka perangkat console terminal untuk menyiapkan exploit. tak butuh waktu lama untuknya meretas laman itu dan masuk kedalam database kepolisian. kemudian dia mengunggah foto di gadgetnya, memotong wajah mereka dan memasukkan mereka kedatabase kepolisian dengan “pemerkosaan dan perampokan” pada bagian tabel “crime”. Mereka satu sekolah denganya, jadi tak terlalu sulit mendapatkan nama mereka melalui database sekolah yang telah sejak lama diunduhnya dan ia buat replikanya. Ini bukan hal baru baginya, dia bisa saja memilih untuk melapor ke kepolisian dan bukan melakukan hal ini. Namun baginya itu merepotkan, Ia tak ingin namanya ada dalam daftar kepolisian baik sebagai penuduh atau tertuduh. Ia ingin hidupnya tetap terlihat normal, terlihat sebagai pecundang yang biasa saja. Kemampuan meretas nya pun ia sembunyikan bahkan dari orang terdekatnya sekalipun. Baginya kemampuan peretas sesungguhnya adalah ketika ia mampu bersembunyi secara rapi baik di dunia digital maupun dunia nyata. Sisa hari itu ia habiskan untuk membaca berita baik yang terlihat maupun tertutupi.
Keesokan harinya Glow memulai hari seperti biasanya. Bangun, mencuci muka, kemudian membuka gadget nya. Ia mencoba membuka berita lokal untuk memastikan orang-orang yang menghajarnya telah tertangkap. Sebenarnya ia tidak terlalu merasa perlu untuk mengeceknya karena belum pernah sekalipun ia gagal, namun tanpa alasan tertentu ia hanya ingin mengeceknya saja. Toh kasihan juga kalau hukuman mereka terlalu berat,pikirnya. matanya terbelalak ketika membuka laman koran lokal. Ia melihat apa yang tak pernah disangka-sangkanya. Keegoisan dan rasa agung atas dirinya runtuh seketika. ia telah gagal. Bukan hanya itu, yang membuat kakinya lemas adalah headline berita : “Perampokan Terjadi Lagi: Kini Wajah Pelaku Tertangkap Kamera” dengan gambar foto agak buram –khas rekaman cctv. Ia mengenali wajah itu, ia tatap berulang-ulang, tak salah lagi. Wajah itu adalah wajahnya. Tapi bagaimana bisa? bagaimana keadaan sebagai pemburu bisa berbalik menjadi terburu? ia tak mengerti. Dengung suara sirene mobil polisi terdengar mendekat. Kakinya semakin lemas, ia jatuh. ada perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya : rasa takut.
End of Phase One;
26 April 2016.

Muhammad Hanif, Pegiat KBI(Komunitas Bebal Independen).



Minggu, 04 Oktober 2015

Tentang IMM

IMM adalah sebuah organisasi otonom muhammadiyah yang memiliki tujuan “Mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah”. Jadi IMM tidak akan pernah jauh dari Muhammadiyah. Meskipun tidak ada pembatasan bahwasanya yang berhak menjadi kader IMM adalah hanya warga muhammadiyah karena justru ladang dakwah IMM adalah terhadap ummat yang belum memahami Muhammadiyah. Selain sebagai Organisasi Otonom muhammadiyah IMM juga berdiri sebagai Organisasi Pergerakan (khususnya mahasiswa), maka dari itu tanggung jawab IMM meliputi berbagai aspek. Sebagai organisasi dibawah naungan muhammadiyah IMM juga wajib melakukan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan juga gerakan sosial layaknya Muhammadiyah karena Muhamamdiyah sendiri tidak hanya berdakwah namun melakukan pergerakan dan pembinaan sosial. Sebagai organisasi pergerakan khususnya mahasiswa IMM juga berbagi sejarah panjang akan pergerakan mahasiswa dari jaman Soekarno, Gie, sampai mahasiswa era reformasi. Oleh karena itu IMM tidak boleh lalai dalam melihat dan mengkaji kebijakan pemerintah dan melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat. Salah satu landasan gerak utama IMM adlaah mengamalkan Trilogi yang mana:
1. Keagamaan
2. Kemahasiswaan
3. Kemasyarakatan

IMM dalam PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah)

IMM adalah salah satu organisasi yang ada di PTM dan satu-satunya organisasi pergerakan yang diakui di kampus PTM. IMM sebagai Ortom muhammadiyah memiliki tugas di Amal Usaha Muhammadiyah yaitu “menjadi pelangsung,pelopor,dan penyempurna Amal Usaha Muhammadiyah” oleh karena itu IMM harus senantiasa mengawal kampus UMY menjadi Amal Usaha Muhammadiyah yang sesuai dan tidak melenceng dari tujuan Muhammadiyah. Hal ini dilakukan dengan mengawal kebijakan-kebijakan ditingkat kampus dan untuk komisariat lebih fokus di tingkat fakultas. Selain juga IMM melaksanakan tugasnya untuk bergerak di ranah kemahasiswaan di tingkat fakultas seperti mengadakan seminar ataupun mengadakan kajian rutin di tingkat fakultas.

IMM Teknik 2015/2016

IMM teknik periode ini mencoba melanjutkan pergerakan pergerakan periode sebelumnya yang mulai menggabungkan antara unsur keteknikan dan unsur pergerakan. Dengan harapan selain IMM bisa sebagai wadah pengembangan bakat mahasiswa , IMM juga dapat menjadi wadah untuk mengaktualisasikan ilmu-ilmu yang di dapat di teknik untuk melakukan pergerakanya. Beberapa pergerakan yang direncanakan juga merupakan aktualisasi dari trilogi IMM diatas. Kita mengembangkan religiusitas utamanya kader dengan melakukan pengajian rutin, melakukan tindakan kemahasiswaan dalam bentuk mengawal kebijakan fakultas dan juga terjun kemasyarakat untuk membantu kegiatan yang ada dalam masyarakat. Berdasarkan landasan tersebut IMM periode ini memiliki 6 bidang yaitu:

1. Bidang Kaderisasi

Tugas bidang kaderisasi adalah melakukan perkaderan dan penanaman nilai kepada kader kader IMM. Dimulai dari recruitmen awal sampai acara-acara perkenalan tentang IMM adalah agenda bidang kader. Bidang kader juga merencanakan dan merancang proses penanaman nilai dan pengembangan karakter kader kader IMM

2. Bidang Organisasi

Bidang Organisasi adalah bidang yang bertugas melakukan koordinasi kedalam dan keluar. Bidang ini memastikan juga tidak ada acara antar bidang yang saling bertabrakan. Selain juga bertugas memastikan organisasi (IMM) berjalan sebagaimana mestinya atau sesuai konstitusi.

3. Bidang Hikmah

Bidang Hikmah adalah sentral penangkapan isu dalam IMM. Baik itu isu fakultas , universitas maupun nasional. Jadi bidang hikmah mengkaji isu ketika ada kebijakan fakultas yang tidak beres dan juga melakukan kajian terhadap permasalahan permasalahan yang ada di indonesia khususnya dalam bidang keteknikan

4. Bidang Keilmuan

Bidang keilmuan adalah wadah pengembangan intelektual dan potensi kader. Jadi bidang keilmuan yang mengkoordinir dan memfasilitasi hal hal terkait pengembangan keilmuan seperti mengelola perpustakaan dan juga menginisasi diskusi diskusi baik itu tentang keteknikan ataupun tentang keilmuan secara umum.

5. Bidang Dakwah

Bidang Dakwah adalah bidang yang melakukan dan memanajemen dakwah IMM , karena dakwah tidak diartikan sebatas mengajak untuk melakukan ibadah namun dakwah memiliki aspek yang luas dan juga cara yang tidak terbatas. Bidang Dakwah juga yang melakukan pengembangan religiusitas kader kader IMM.

6. Bidang Sosek (sosial ekonomi kewirausahaan)

Bidang Sosek adalah bidang yang melakukan kegiatan kegiatan ekonomi untuk komisariat dan membantu kader kader untuk melakukan kegiatan ekonomi nya jika ada kader yang memiliki usaha/bisnis. Selain itu Bidang Sosek juga menginisiasi untuk melakukan pemberdayaan pemberdayaan di masyarakat.

, ,

Insinyur dan Sastra (?)

“Kau boleh jadi pintar setinggi langit, memperoleh gelar sarjana sebanyaknya, namun tanpa mencintai sastra kau hanyalah hewan yang pintar” .

begitu kiranya kutipan yang ada di buku Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia. Malam sampai dengan pagi yang lalu juga sempat diadakan diskusi terkait sastra yang dipantik oleh Immawan Barra Patih Raja atau mas Patra yang pernah menjadi Ketua Umum IMM Cabang AR Fakhrudin periode 2005/2006 beliau juga mengutip hal serupa dari Pramoedya.

Sesaat aku terbingung, menggali makna sastra, bukan secara luas namun secara spesifik apa makna sastra untuk mahasiswa eksakta khususnya teknik sepertiku. Sepertinya Aku terjangkit penyakit pendikotomian —mengkotak-kotak kan sesuatu. Mungkin konsepsi Huntington tentang globalisasi bahwasanya semakin mengglobal seseorang maka semakin dia ingin menonjolkan identitas dirinya juga berlaku dalam lingkup kecil. Aku yang menanamkan pemikiran pemikiran bahwasanya aku harus menggapai semua ilmu dan bukan teknik saja berakhir dengan pencarian jati diri untuk apa aku mempelajari ilmu selain teknik tersebut dengan posisiku sebagai mahasiswa teknik. Ah kalau ini kuperpanjang kita bisa berbelok bahasan, mari kita fokuskan lingkupnya terkait sastra saja dahulu. Ketika aku coba cari mengapa tertanam pikiran seperti itu adalah bahwasanya aku tidak pernah melihat barang seorang insinyur berbicara tentang sastra —mungkin juga aku yang masih kurang referensi.

Aku tahu sangat mudah kalian memprotesku dengan membawa nama seperti Soekarno, atau mungkin Sudjiwo Tedjo yang keduanya pernah mengenyam pendidikan di sekolah keteknikan. Tapi yang ingin kubicarakan adalah seorang insinyur yang benar insinyur dalam arti mempraktekan ilmunya untuk menjadi professional —katakanlah seorang kontraktor. Itulah yang membuatku mempertanyakan kembali. Tapi entahlah, untuk sekarang yang perlu kulakukan mungkin hanyalah terus dan terus mencari.

,

Arus Hedonisme

Hedonisme/he·do·nis·me/ /hédonisme/ n pandangan yg menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sbg tujuan utama dl hidup

Dewasa ini, banyak sekali masyarakat yang secara sadar maupun tidak sadar menganut pandangan hidup ini. Salah satu tokoh filsafat hedonisme, Epikuros (342 SM - 270 SM) pernah berkata “Apa yang baik adalah segala sesuatu yang mendatangkan kenikmatan, dan apa yang buruk adalah segala sesuatu yang menghasilkan ketidaknikmatan” . Pandangan tersebut kerap berkembang dan bermetamorfosis bentuknya hingga sekarang.

Sangat disayangkan masyarakat yang saya sebutkan diatas termasuk juga didalamnya adalah mahasiswa, yang sering digembor-gemborkan sebagai Agent of Change , pembawa perubahan. Ini terlihat dari organisasi kampus maupun gerakan mahasiswa yang mulai kehilangan arah. Organisasi kampus (katakanlah BEM) dan gerakan mahasiswa adalah cermin dari dinamika mahasiswa. Ketika BEM dan Gerakan Mahasiswa yang diharapkan menjadi garda depan pergerakan mahasiswa dan melawan arus hedonisme justru terjebak dalam hedonisme, maka hilang sudah status Agent of Change pada mahasiswa.

Saya sering dengar alasan, “Ah udahlah organisasi itu buat seneng seneng aja sih, kan kuliah udah susah”. Disinilah mengapa saya menyebut BEM dan gerakan mahasiswa sudah ikut terjebak dalam hedonisme. Dampaknya adalah pada hilangnya keberpihakan dalam apa yang mereka bawa dan perjuangkan. Masihkah gerakan mahasiswa berpihak pada rakyat? Masihkah BEM menjadi penggerak dalam perubahan layaknya dulu mereka pada tahun ‘65 dan ‘98? Ketika yang keduanya tawarkan hanya event-event pemenuhan hasrat maupun sesuatu yang mereka sebut sebagai “Pengembangan Diri” saya berani katakan keduanya telah kehilangan arah.

Ah jangankan kita bicara pembenahan keluar (masyarakat,birokrasi kampus,pemerintah). Pembenahan kedalam pun rasa-rasanya mulai jarang dilakukan. Mungkin ini yang menjadi penyebab apa yang mereka tawarkan sekedar event-event belaka dan berubah dari penggerak menjadi sekedar Event Organizer. Cermin-nya adalah pada saat evaluasi evaluasi, saya lihat yang menjadi standar kesuksesan adalah antusiasme dan kepuasan objek (dalam hal ini biasanya mahasiswa) bukan seberapa besar “nilai yang dibawa” telah diserap oleh objek. Katakanlah ketika membawa nilai kemasyarakatan, saya ragu pada saat evaluasi ada yang mempertanyakan apakah sudah ada perubahan , apakah mahasiswa berhasil dirubah dari yang apatis terhadap masyarakat menjadi yang respons terhadap isu dalam masyarakat. Bukankah standar tersebut sangat jelas merupakan standar Event Organizer?

Lagi, jangankan kita bicara pembenahan dalam praksis (seperti apa yang dievaluasikan, apa yang diagendakan,etc). Lebih jarang lagi pembenahan tentang pemahaman akan identitas organisasi yang disandang.Alih-alih bicara sejarahnya, sekedar bicara seperti apa kultur gerakan, seperti apa bentuk Eksekutif saja hampir saya pastikan mulai jarang hal tersebut diperbincangkan. Terjadinya pemikiran pemikiran yang sekedar mementingkan status-quo , mandek nya regenerasi , bahkan Pengkulturan apa yang tidak pantas dikulturkan, adalah buktinya.

,

Insinyur

Bangun, bangun
Bangunlah yang pagi
Agar lekas kau bangun negeri ini
Bangunlah karena kau pembangun
Tanpamu tiadalah negeriku terbangun

Bangunlah dari mimpi
Kau pembangun, kau bisa cipta apa yang kau impi
Rel kereta api ataupun gedung nan tinggi
Kuyakin mudah kau realisasi
Dampak lingkungan, Dampak sosial, ah urusan nanti

Dari tangan dan otakmu:
Hotel megah berjejel
Mall Mall tinggi menjamur
Desa-desa asyik bermetamorfosis jadi kota
Tlah kau bangun negeriku
Layaknya negeri-negeri maju

Dari gedung dan kota yang kau bangun:
Hancur mimpi anak petani
Kala lihat sawa lenyap silih berganti
Musnah senyum para nelayan
Melihat ikan-ikan mengambang keracunan
Segala karena pembangunanmu

Wahai pembangun
Kuharap lekas engkau terbangun sempurna
Dengan hati dan mata terbuka
Agar pembangunan jadi rahmat manusia dan semesta

Selasa, 18 November 2014

Salam,selamat datang dan membaca kembali di blog manusia berpikiran sedikit absurd ini. yang akan saya bahas kali ini adalah tentang Open Source , baik software ataupun sistem operasi.
pernahkah kawan-kawan mendengar kata Open Source? saya yakin sebagian orang pernah mendengarnya. lalu apa yang ada di pikiran kawan-kawan tentang Open Source? hmm, mungkin yang ada di benak kawan-kawan Open Source adalah software gratisan, atau sistem operasi gratisan. tapi benarkah secara ideologis maupun historis open source diciptakan sekedar sebagai solusi untuk software yang gratis?
Sebelum gerakan Open Source hadir, ada sebuah gerakan yang menyuarakan bahwasanya sebuah software seharusnya gratis. dinamakan "Free Software Foundation" yang di didirikan oleh Richard Stallman. Prinsipnya sama saja dengan Open Source hanya saja Free Software Foundatiion menyatakan bahwa segala jenis software harusnya gratis (sedangkan Open Source belum tentu gratis).
Meskipun berbeda dalam beberapa hal, keduanya memiliki kesamaan yang mendasar, yaitu bahwasanya siapapun yang memiliki sebuah software harus memiliki keleluasaan untuk mengubah software tersebut sesuai kebutuhanya. karena kebutuhan setiap individu ataupun organisasi berbeda-beda.
Sebuah perusahan akuntansi harus mampu merubah software pengolah angka sesuai kebutuhanya agar bisa lebih efisien. tapi lisensi "Closed Source" tidak memungkinkanya, jangankan mengubah, melihat source pun sudah "haram"
Tidak hanya masalah dalam merubah juga. Tapi ada hal yang jauh lebih hebat dalam landasan dibentuknya Open Source. para pendiri Open Source menilai bahwa siapapun harus bisa belajar dari sebuah software utuh. karena dari seseorang yang mempelajari akan muncul orang-orang hebat yang mampu merevolusi software itu sendiri.
Richard Stallman pernah berkata yang kurang lebih isinya bahwa source software adalah layaknya sebuah resep dalam masakan. semakin resep itu dibagi, mungkin kenalan kita akan mampu menciptakan masakan yang lebih enak dari kita dengan memodifikasi sedikit resepnya.
dalam perkembanganya, open source ini juga telah merevolusi dunia teknologi. melalui perantara sistem operasi linux misalnya, sekarang hampir semua gadget dan alat elektronik menggunakan linux, karena ke-entenganya dan level fleksibilitasnya yang sangat tinggi. ingin membuat jam elektronik pintar dan butuh sistem operasi yang bisa memilih fitur, tentu linux pilihanya.
Linux juga telah merevolusi dunia perbankan. bayangkan jika tidak ada sistem operasi open source seperti linux. apakah bank rela mencipta begitu banyak mesin ATM dimana setiap ATM perlu membeli lisensi windows yang mahal. belum lagi untuk keperluan server-nya.
begitulah, Open Source memiliki dasar filosofis yang jelas, mungkin agak mirip dengan konsep saling berbagi dari ideologi sosialis (Richard Stallman pernah dianggap seorang komunis). namun saya merasa , bagi saya minimalnya, open source adalah sesuatu yang hebat. saya sendiri akan men-share source dari software yang saya buat.

Sabtu, 15 November 2014

Mungkin judul tulisan ini sedikit offense untuk beberapa gelintir orang. bahkan mungkin isi dari tulisan yang kawan baca ini nantinya juga "menyerang" kawan-kawan, saya mohon maaf.

mungkin kawan-kawan sering dengar ketika ada orang mempertanyakan hal yang berkaitan dengan tauhid atau ketuhanan, pertanyaan itu dijawab dengan sekedar "ah sudah, jangan mikir kesitu-situ, nanti sesat" atau sejenisnya. pada beberapa waktu lalu saya sempat berdiskusi di komisariat imm teknik yang isi diskusinya kurang lebih tentang tauhid. disitu sempat dibahas pula, bagaimana manusia bisa bertuhan.
Pada dasarnya, agama dan tuhan tidak akan pernah "mati" atau akan selalu ada di tiap-tiap individu. jika manusia kesusahan, maka ia akan mencari manusia lain untuk membantu, dan jika tidak ia temukan, maka dia akan mencari sesuatu yang dapat membantunya, tidak ada manusia yang benar benar tahan untuk sendiri. belum lagi perkara harapan, harapan manusia yang begitu banyaknya, pasti pada suatu titik dia sangat ingin suatu harapan terkabul dan dia akan mencari zat yang mampu mewujudkanya. kesimpulanya, jika rasa cemas dan rasa harap masih eksis di dunia ini, maka agama juga akan tetap eksis.
maka dari itu, sejak zaman dulu munculah kepercayaan-kepercayaan dan agama. di indonesia misalnya, muncul pemujaan terhadap roh nenek moyang. di belahan dunia lain, muncul kepercayaan akan dewa-dewa. namun, kepercayaan kepercayaan itu kian pudar ketika orang-orang mulai berfilsafat. filsafat yang sangat rasionalis jelas menolak bahwa hujan turun karena thor mengamuk di asgard. jika penguasa alam memiliki perasaan, maka dunia tidak akan pernah memiliki keteraturan.
ketika kepercayaan kepercayaan non-rasional itu mulai hilang, munculah agama agama langit yang sering kita sebut agama samawi. termasuk islam. lalu, bagaimana dengan islam? apakah kita boleh merasionalkan Tuhan? . mungkin beberapa akan mengatakan gila kepada orang yang mencoba merasionalkan tuhan. tapi bukankah justru semakin sulit mempercayai sesuatu tanpa menggunakan indra ditambah tidak juga menggunakan akal?
mengapa banyak orang mengharamkan filsafat? kalau sebenarnya filsafat adalah salah satu cara untuk bisa benar-benar bertauhid. bukan tauhid yang sekedar karena orang tua, paksaan lingkungan, dan sejenisnya. apalagi, banyak ayat dalam alquran yang menyebutkan kata "bagi orang yang berfikir". bukankah berfikir yang dimaksud disini untuk merasionalkan?.
menurut saya tidak perlu ada pengharaman atau perendahan atas filsafat. asal dibarengi dengan keimanan. karena tidak semua orang bisa benar benar beriman hanya berdasar pada keturunan atau sekedar rasa takut (misalnya sholat 5 waktu dengan alasan takut masuk neraka). jadi lebih baik mana, orang yang sholat karena takut masuk neraka atau orang yang sholat karena dia benar-benar percaya Allah itu ada dan satu-satunya?
kadar "kerasionalan Tuhan" juga berbeda-beda untuk tiap orang. bagi saya misalnya, menurut saya segala sesuatu bisa terjadi karena ada pengatur yang benar-benar maha. yang mana pengatur itu tidak mungkin sama seperti yang diatur (memiliki otoritas mutlak)  dan juga memberikan kebebasan bertindak pada yang diatur ( karena banyak keberagaman keyakinan, keberagaman pilihan tindakan).
Banyak argumen dari barat yang menyatakan bahwasanya "Tuhan" adalah "Hukum Alam" seperti gravitasi, hukum archimedes, hukum kekelan energi, dan hukum hukum lain yang sudah ditemukan. tapi diatas itu, bisakah mereka menjawab siapa yang membuat hukum-hukum tersebut?. ibarat dunia ini adalah komputer, siapa yang memprogram program bernama "Hukum Alam" tersebut?
tidak mungkin komputer bisa menuliskan sendiri programnya.

About Me

Foto Saya
Saya Muhammad Hanif , seorang mahasiswa yang sekedar ingin menuliskan perjalanan dan pemikiranya
Diberdayakan oleh Blogger.

Categories