Hanif's journey. you may not interested, but this is my live and my thought

Minggu, 25 Januari 2015

Modernisasi atau Westernisasi

Modernisasi atau Westernisasi ternyata masih ada saja yang terbolak balik, seperti argumen yang baru saja saya temukan disalah satu artikel yang katanya untuk menyadarkan mahasiswa, entah bentuk kesadaran yang ingin dibangun kesadaran yang seperti apa. memang tulisan tersebut tidak secara penuh membahas itu, tapi disalah satu poinya penulis mengatakan jangan bicara anti-barat kalau masih bergantung pada smartphone, jangan bicara anti-asing kalau masih berkampanye melalui social media. sejenak saya berpikir, saya teringat sebuah adegan di salah satu film tentang pendiri Muhammadiyah yang berjudul "Sang Pencerah". disitu Ahmad Dahlan di kritik oleh salah satu ulama yang datang dari jauh bahwasanya sekolah yang dibangun Ahmad Dahlan itu menyerupai sekolah kafir padahal sekolahnya bertitel madrasah. ketika di kritik Ahmad Dahlan hanya menjawab dengan pertanyaan “pak kyai dari magelang ke yogya naik apa, jalan kaki ya?” dijawab sambil tertawa ” hanya orang bodoh yang mau capek-capek jalan kaki dari magelang ke yogya, yaa saya naik kereta lahh” dan setelah itu dijawab "berarti hanya orang bodoh yang mengatakan ini sekolah kafir karena dia sendiri menggunakan fasilitas yang dibuat oleh orang kafir yaitu kereta". adegan itu memang konteksnya masalah agama, tapi bisa saja kita kontekskan ke masalah pro dan anti terhadap asing. di adegan diatas poin nya adalah, ketika kita memakai sesuatu yang dibuat oleh suatu kaum bukan berarti kita adalah bagian dari kaum itu. Ibaratnya, secara penciptaan bukankah benda benda itu diciptakan oleh Tuhan? (tidak ada daya upaya selain dari Allah kan?) hanya perantaranya saja manusia, dan kebetulan manusia itu kafir. maka, sebagai manusia bukankah sudah sewajarnya kita memanfaatkan apa yang ada? yang salah adalah jika perilaku atau moral kita yang menyerupai mereka. nah balik ke westernisasi dan modernisasi. kita sebutkan saja disini orang yang pro terhadap barat adalah yang pro terhadap westernisasi. apa standarnya orang yang pro terhadap westernisasi? standarnya bagi saya bukanlah standar ke-benda-an seperti yang disebut diawal, bahwasanya memakai smartphone adalah orang yang pro terhadap barat. standarnya adalah standar perilaku dan moral atau bahkan budaya. jadi belumlah sebuah negara di katakan ke-barat-barat-an atau orang nya pro terhadap barat jika sekedar 'benda-benda' dari barat seperti smartphone sudah ada di negeri tersebut, melainkan ketika budaya dan moral barat sudah bercampur dengan perilaku manusia-manusia di negeri itu. misalnya saja, sekedar menggunakan facebook bukan berarti kita ke-barat-baratan. tapi ketika kita tanpa canggung memposting foto nudist atau sejenisnya, barulah kita tidak pantas bicara anti-terhadap asing. modernisasi di lain sisi adalah sesuatu yang sangat berbeda dengan westernisasi, modernisasi tidak melunturkan nilai malah mungkin menciptakan peluang untuk menguatkanya. misal saja, setelah ada social media, social media digunakan untuk menyebarluaskan warisan-warisan budaya yang ada di Indonesia dan orang-orang Indonesia jadi lebih mudah memahaminya, bukankah itu baik? menuju negara yang kebarat-barat-an jelas salah. tapi hanya orang bodoh yang menyalahkan negara yang sedang berusaha mengikuti zaman (menjadi modern).

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

Foto Saya
Saya Muhammad Hanif , seorang mahasiswa yang sekedar ingin menuliskan perjalanan dan pemikiranya
Diberdayakan oleh Blogger.