*aku di masa kecil
aku, di masa kecil, hanyalah seorang manusia yang belum utuh sebagai makhluk sosial. aku manusia yang di-didik de
ngan sistem yang mirip penjara, aku tidak banyak tau tentang dunia luar. waktu main ku tak sebanyak anak seumuranku pada umumnya. waktu bermain ku di luar rumah hanya ba'da ashar sampai satu jam sebelum maghrib tiba, se-sedikit itu. ya, bisa dibilang aku anak rumahan. anak rumahan zaman dulu tidak se-menyenangkan zaman sekarang dengan gadget canggih yang penuh dengan game. namun memang tidak ada sistem yang tidak memiliki sisi baik, itu akan terjelaskan nanti.
namun aku beruntung, meski dengan sistem seperti itu, hubunganku dengan dunia luar tidak sepenuhnya tertutup. meski sering ditolak ketika izin pergi bermain, belum pernah sekalipun aku ditolak ketika meminta dibelikan buku bergambar. ya, dulu aku memiliki banyak buku bergambar , yang berkali-kali aku baca. mulai dari yang sengaja beli, sampai yang didapat dari hadiah dari susu kotak. buku bergambar favoritku dulu adalah seri penemu : edisi thomas alva edison . aku masih ingat betul cerita bahkan gambar-gambar dalam buku tersebut. Edison adalah salah satu hero masa kecilku. Edison, yang masa kecilnya dijuluki si anak penuh keingintahuan (paling tidak itu yang kutahu dari buku) memantik ku untuk menjadi anak yang penuh keingintahuan juga.
bukan hanya buku bergambar, aku beruntung juga karena ketika berada di kelas 1 sekolah dasar, Bapak membeli sebuah CPU bekas dengan processor pentium 2 dan meminjam sebuah monitor dari saudara ditambah sebuah modem yang tersambung ke telepon rumah yang ketika di-dial mengeluarkan bunyi nyaring. mulailah aku tenggelam dalam dunia yang akan menenggelamkanku sampai 12 tahun setelahnya. aku mulai dengan sekedar memainkan game, tak puas ketika menyelesaikan sebuah game, aku mulai mencari rental yang menyewakan kaset instalasi game dan belajar untuk menginstallnya sendiri. aku semakin tenggelam dalam dunia komputer dan sedikit mulai melupakan kenyataan bahwa aku tetap anak rumahan --tetap menghabiskan waktu didalam rumah dan sekolah, dengan jam bermain terbatas.
aku juga beruntung, memiliki seorang saudara kandung, yang umurnya satu tahun diatasku. Meski menyebalkan, sepertinya justru sifat menyebalkanya yang aku butuhkan. Paling tidak aku memiliki teman untuk berkelahi dan merasakan perkelahian anak-anak di masa kecilku.
------------------------------------------------------------
Meski dulu aku dengan nalar yang sangat terbatas membenci sistem yang diterapkan padaku, kini aku sadar dan baru merasakan manfaatnya.
biarlah aku berbeda, dan semoga mereka mengerti alasan kenapa aku tidak terlalu peka dengan perasaan orang lain.
Selasa, 16 Desember 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar