Hedonisme/he·do·nis·me/ /hédonisme/ n pandangan yg menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sbg tujuan utama dl hidup
Dewasa ini, banyak sekali masyarakat yang secara sadar maupun tidak sadar menganut pandangan hidup ini. Salah satu tokoh filsafat hedonisme, Epikuros (342 SM - 270 SM) pernah berkata “Apa yang baik adalah segala sesuatu yang mendatangkan kenikmatan, dan apa yang buruk adalah segala sesuatu yang menghasilkan ketidaknikmatan” . Pandangan tersebut kerap berkembang dan bermetamorfosis bentuknya hingga sekarang.
Sangat disayangkan masyarakat yang saya sebutkan diatas termasuk juga didalamnya adalah mahasiswa, yang sering digembor-gemborkan sebagai Agent of Change , pembawa perubahan. Ini terlihat dari organisasi kampus maupun gerakan mahasiswa yang mulai kehilangan arah. Organisasi kampus (katakanlah BEM) dan gerakan mahasiswa adalah cermin dari dinamika mahasiswa. Ketika BEM dan Gerakan Mahasiswa yang diharapkan menjadi garda depan pergerakan mahasiswa dan melawan arus hedonisme justru terjebak dalam hedonisme, maka hilang sudah status Agent of Change pada mahasiswa.
Saya sering dengar alasan, “Ah udahlah organisasi itu buat seneng seneng aja sih, kan kuliah udah susah”. Disinilah mengapa saya menyebut BEM dan gerakan mahasiswa sudah ikut terjebak dalam hedonisme. Dampaknya adalah pada hilangnya keberpihakan dalam apa yang mereka bawa dan perjuangkan. Masihkah gerakan mahasiswa berpihak pada rakyat? Masihkah BEM menjadi penggerak dalam perubahan layaknya dulu mereka pada tahun ‘65 dan ‘98? Ketika yang keduanya tawarkan hanya event-event pemenuhan hasrat maupun sesuatu yang mereka sebut sebagai “Pengembangan Diri” saya berani katakan keduanya telah kehilangan arah.
Ah jangankan kita bicara pembenahan keluar (masyarakat,birokrasi kampus,pemerintah). Pembenahan kedalam pun rasa-rasanya mulai jarang dilakukan. Mungkin ini yang menjadi penyebab apa yang mereka tawarkan sekedar event-event belaka dan berubah dari penggerak menjadi sekedar Event Organizer. Cermin-nya adalah pada saat evaluasi evaluasi, saya lihat yang menjadi standar kesuksesan adalah antusiasme dan kepuasan objek (dalam hal ini biasanya mahasiswa) bukan seberapa besar “nilai yang dibawa” telah diserap oleh objek. Katakanlah ketika membawa nilai kemasyarakatan, saya ragu pada saat evaluasi ada yang mempertanyakan apakah sudah ada perubahan , apakah mahasiswa berhasil dirubah dari yang apatis terhadap masyarakat menjadi yang respons terhadap isu dalam masyarakat. Bukankah standar tersebut sangat jelas merupakan standar Event Organizer?
Lagi, jangankan kita bicara pembenahan dalam praksis (seperti apa yang dievaluasikan, apa yang diagendakan,etc). Lebih jarang lagi pembenahan tentang pemahaman akan identitas organisasi yang disandang.Alih-alih bicara sejarahnya, sekedar bicara seperti apa kultur gerakan, seperti apa bentuk Eksekutif saja hampir saya pastikan mulai jarang hal tersebut diperbincangkan. Terjadinya pemikiran pemikiran yang sekedar mementingkan status-quo , mandek nya regenerasi , bahkan Pengkulturan apa yang tidak pantas dikulturkan, adalah buktinya.
Minggu, 04 Oktober 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar