Hanif's journey. you may not interested, but this is my live and my thought

Sabtu, 15 November 2014

Mungkin judul tulisan ini sedikit offense untuk beberapa gelintir orang. bahkan mungkin isi dari tulisan yang kawan baca ini nantinya juga "menyerang" kawan-kawan, saya mohon maaf.

mungkin kawan-kawan sering dengar ketika ada orang mempertanyakan hal yang berkaitan dengan tauhid atau ketuhanan, pertanyaan itu dijawab dengan sekedar "ah sudah, jangan mikir kesitu-situ, nanti sesat" atau sejenisnya. pada beberapa waktu lalu saya sempat berdiskusi di komisariat imm teknik yang isi diskusinya kurang lebih tentang tauhid. disitu sempat dibahas pula, bagaimana manusia bisa bertuhan.
Pada dasarnya, agama dan tuhan tidak akan pernah "mati" atau akan selalu ada di tiap-tiap individu. jika manusia kesusahan, maka ia akan mencari manusia lain untuk membantu, dan jika tidak ia temukan, maka dia akan mencari sesuatu yang dapat membantunya, tidak ada manusia yang benar benar tahan untuk sendiri. belum lagi perkara harapan, harapan manusia yang begitu banyaknya, pasti pada suatu titik dia sangat ingin suatu harapan terkabul dan dia akan mencari zat yang mampu mewujudkanya. kesimpulanya, jika rasa cemas dan rasa harap masih eksis di dunia ini, maka agama juga akan tetap eksis.
maka dari itu, sejak zaman dulu munculah kepercayaan-kepercayaan dan agama. di indonesia misalnya, muncul pemujaan terhadap roh nenek moyang. di belahan dunia lain, muncul kepercayaan akan dewa-dewa. namun, kepercayaan kepercayaan itu kian pudar ketika orang-orang mulai berfilsafat. filsafat yang sangat rasionalis jelas menolak bahwa hujan turun karena thor mengamuk di asgard. jika penguasa alam memiliki perasaan, maka dunia tidak akan pernah memiliki keteraturan.
ketika kepercayaan kepercayaan non-rasional itu mulai hilang, munculah agama agama langit yang sering kita sebut agama samawi. termasuk islam. lalu, bagaimana dengan islam? apakah kita boleh merasionalkan Tuhan? . mungkin beberapa akan mengatakan gila kepada orang yang mencoba merasionalkan tuhan. tapi bukankah justru semakin sulit mempercayai sesuatu tanpa menggunakan indra ditambah tidak juga menggunakan akal?
mengapa banyak orang mengharamkan filsafat? kalau sebenarnya filsafat adalah salah satu cara untuk bisa benar-benar bertauhid. bukan tauhid yang sekedar karena orang tua, paksaan lingkungan, dan sejenisnya. apalagi, banyak ayat dalam alquran yang menyebutkan kata "bagi orang yang berfikir". bukankah berfikir yang dimaksud disini untuk merasionalkan?.
menurut saya tidak perlu ada pengharaman atau perendahan atas filsafat. asal dibarengi dengan keimanan. karena tidak semua orang bisa benar benar beriman hanya berdasar pada keturunan atau sekedar rasa takut (misalnya sholat 5 waktu dengan alasan takut masuk neraka). jadi lebih baik mana, orang yang sholat karena takut masuk neraka atau orang yang sholat karena dia benar-benar percaya Allah itu ada dan satu-satunya?
kadar "kerasionalan Tuhan" juga berbeda-beda untuk tiap orang. bagi saya misalnya, menurut saya segala sesuatu bisa terjadi karena ada pengatur yang benar-benar maha. yang mana pengatur itu tidak mungkin sama seperti yang diatur (memiliki otoritas mutlak)  dan juga memberikan kebebasan bertindak pada yang diatur ( karena banyak keberagaman keyakinan, keberagaman pilihan tindakan).
Banyak argumen dari barat yang menyatakan bahwasanya "Tuhan" adalah "Hukum Alam" seperti gravitasi, hukum archimedes, hukum kekelan energi, dan hukum hukum lain yang sudah ditemukan. tapi diatas itu, bisakah mereka menjawab siapa yang membuat hukum-hukum tersebut?. ibarat dunia ini adalah komputer, siapa yang memprogram program bernama "Hukum Alam" tersebut?
tidak mungkin komputer bisa menuliskan sendiri programnya.

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

Foto Saya
Saya Muhammad Hanif , seorang mahasiswa yang sekedar ingin menuliskan perjalanan dan pemikiranya
Diberdayakan oleh Blogger.